TERAPI PLASMA PEMBINASA VIRUS KORONA: YANG SEMBUH MENOLONG YANG SAKIT

~ 398 Views

“Bapak Daniel, apakah Bapak bersedia menolong pasien yang terjangkit Korona?” Kira-kira demikian telepon yang diterima Daniel, seorang pasien Covid-19 yang sudah dinyatakan sembuh.

“Tentu saja,” jawab Daniel dengan tegas.

Berpacu dengan waktu…dan maut

Remedi yang paling dicari manusia seluruh dunia hari-hari ini adalah obat Covid-19. Para ilmuwan berpacu dengan waktu di tengah terus menanjaknya grafik jumlah jiwa yang terpisah dari raga akibat pandemi ini. Teknologi modern nan canggih yang dibanggakan negara-negara maju, sekarang lunglai tidak berdaya menghadapi virus yang jauh lebih kecil dari seekor kutu.

Berita yang menyedihkan tanggal 24 April 2020 obat Remdesivir, yang digadang-gadang oleh WHO, dalam uji klinis terbukti tidak efektif membunuh virus SARS-CoV-2 ini, padahal dibanding segala macam anti virus lain, secara teoretis obat ini memberikan performa dan harapan terbaik. Akibatnya jelas. Hingga kini, obat yang mujarab masih sebatas asa.

Hebatnya imunitas made in surga

Di sisi lain, data menggembirakan dari Worldometer menunjukkan bahwa jumlah pasien global yang sembuh mencapai 800.000 orang lebih (per 25/04/20). Mereka sembuh bukan karena obat. Mereka sembuh karena antibodi mereka sendiri mampu melawan serta mengalahkan virus itu. Ya, tubuh manusia punya mekanisme imunitas dengan memproduksi antibodi spesifik untuk setiap jenis virus, bakteri atau jamur yang menginfeksi tubuhnya. Yang lebih mengagumkan, antibodi yang sudah terbentuk ini punya memori yang bertahan lama. Suatu saat, misalkan virus yang sama datang lagi, maka tubuh sudah siap membinasakannya tanpa butuh waktu lama. Oleh karena itu, seorang pasien yang benar-benar sembuh disebut sudah imun terhadap Covid-19.

Kehebatan sistem imunitas tubuh manusia yang sudah terbukti inilah sekarang dilirik para ahli medis untuk melawan pandemi Covid-19. Metode yang dikenal dengan nama Terapi Plasma Konvalesen (TPK), sebenarnya praktik penyembuhan kuno yang sudah dilakukan sejak tahun 1901. Ketika itu TPK berhasil menyelamatkan penduduk bumi dari wabah difteri yang mematikan. Dalam beberapa dekade terakhir ini, TPK juga efektif menekan angka mortalitas akibat penyakit Ebola, H1N1, SARS dan MERS.

Terapi Plasma Konvalesen

Apakah Plasma Konvalesen itu? Plasma adalah bagian darah berbentuk cairan berwarna kuning yang kaya akan antibodi. Secara sederhana, plasma darah merupakan rekan dari tiga sekawan—darah merah, darah putih dan hemoglobin—yang salah satu dari sekian banyak fungsinya untuk membuat tubuh kebal terhadap serangan infeksi. Kok sakti? Karena di dalam plasma darah terdapat protein bernama keren imunoglobulin. Superhero yang tak kasat mata inilah yang mampu mengenali musuh sekaligus menghabisinya.

Konvalesen berarti orang yang sudah sembuh dari suatu penyakit. Jadi metode ini, menggunakan plasma darah dari orang yang berhasil sembuh lalu ditransfusikan kepada pasien yang masih berjuang melawan penyakit itu. Konsepnya sederhana: mentransfer imunitas dari pasien yang sudah sembuh ke pasien yang sakit. Dengan demikian, pasien yang belum sembuh mendapatkan ‘tambahan tentara’ untuk memerangi musuh bernama korona ini.

Dalam rentang Februari dan Maret, laporan keberhasilan TPK sudah bermunculan dari Tiongkok dan Korea Selatan. Pasien-pasien kritis yang sudah dipasang ventilator, ditransfusikan plasma konvalesen dan beberapa hari kemudian kondisinya membaik secara signifikan. Metode ini tidak saja relatif mudah diterapkan namun juga minim efek samping yang merugikan. Bukankah kombinasi kelebihan itulah yang selama ini diperjuangkan mati-matian oleh ilmuwan yang mencoba menemukan vaksin korona?

Kabar baik berikutnya datang dari FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat yang menyetujui dilakukannya uji klinis TPK di Columbia University. Penelitian yang didanai oleh Amazon Co. sebesar US$ 2,5 juta ini akan dipimpin oleh Dr. Ian Lipkin, ahli epidemiologis yang sangat kompeten. Riset skala besar ini akan mengumpulkan para survivor Covid-19 untuk diminta mendonorkan darah yang kemudian ditransfusikan kepada 450 orang yang terdiri dari pasien-pasien dalam kondisi parah serta para dokter, perawat dan tenaga medis di New York. Diharapkan akhir April, hasil penelitian ini sudah bisa didapatkan.

Lampu hijau FDA untuk uji klinis TPK tentu bukanlah main-main. Karena sejak akhir Maret sesungguhnya FDA juga telah memberi izin kepada para dokter di Amerika Serikat untuk menggunakan plasma darah pasien yang sudah sembuh untuk mengobati pasien dalam kondisi darurat. Walaupun hasil uji klinis belum ada, langkah FDA ini bisa dibenarkan mengingat data sejumlah keberhasilan metode ini secara konsisten di berbagai rumah sakit di seluruh dunia. Lagipula, keadaan sudah begitu mendesak dan tidak ada lagi obat ciptaan manusia yang sanggup menyelamatkan nyawa sesamanya.

Bangga jadi orang Indonesia

Bangsa Indonesia patut bersyukur karena pada pertengahan April, Presiden Jokowi telah membentuk Gugus Tugas Terapi Plasma Konvalesen yang diketuai oleh Dr. Theresia Monica Rahardjo, ahli genetika dan biologi molekuler dari Universitas Kristen Maranatha. Tim ini bertugas merumuskan protap pelaksanaan TPK bagi tenaga medis di seluruh rumah sakit di Indonesia. Dengan adanya protap resmi dari Kemenkes maka terapi plasma konvalesen dapat langsung diterapkan dengan rambu-rambu yang jelas dan aman.

TPK adalah cara lama yang memberi cahaya baru penyembuhan Covid-19. Selama terapi dan vaksin penyakit ini belum ditemukan, maka hanya darah penyintas Covid-19 yang dapat diandalkan untuk menolong pasien kondisi kritis memperoleh kesembuhan. Makin banyak pendonor plasma konvalesen, maka makin banyak pula nyawa yang bisa diselamatkan. Benarlah hukum Tuhan yang memerintahkan umat manusia untuk bertolong-tolongan menanggung beban. Apalagi beban yang satu ini terlalu berat untuk ditanggung sendirian.

Jangan hanya jadi penonton

Banyak di antara kita yang gila superhero sehingga DC dan Marvel mengeruk keuntungan yang luar biasa dari industri film bergenre para pahlawan super ini. Kita lupa satu hal bahwa kita punya pahlwan yang jauh lebih ampun lagi, yaitu Tuhan Pencipta langit dan bumi. Agar tidak jadi penonton saja, kita perlu berperan aktif menanggulangi pagebluk, pandemi, sampar, wabah atau apa pun nama yang disematkan untuk Corona Virus ini.

Pertama, mengakui bahwa Tuhanlah yang mampu menghentikan virus ini.

Kedua, menghormati pemerintah yang Tuhan tunjuk sebagai pengelola tiap negara.

Ketiga, tetap tenang. Bagian inilah yang terpenting. Di dalam pesan singkat saya lewat video, saya menceritakan ulang apa yang pernah saya baca dan dengar tentang percakapan antara seorang bijak dengan wabah.

“Wabah, engkau katakan bahwa engkau hanya membunuh seribu orang saja di kota ini dalam waktu dua tahun,” ujar orang bijak itu, “lalu mengapa yang meninggal sampai lima puluh ribu orang?”

“Aku sungguh-sungguh hanya membunuh seribu orang dalam waktu dua tahun di kota itu,” ujar wabah tenang, “sisanya mati karena ketakutan mereka sendiri.”

Mari tetap tenang, pertolongan Tuhan pasti datang tepat pada waktu-Nya dan lewat cara-Nya. Bukan waktu kita dan cara kita.

Herry Tanojo dan Xavier Quentin Pranata, duo insan yang hanya berfungsi sebagai saluran pesan Tuhan.