Risma untuk DKI 1, Menteri atau Bahkan RI 1? Mengapa Risma?

~ 664 Views

Nama Risma hari-hari ini banyak dibicarakan orang. Maklum, di samping berbagai penghargaan internasional yang pernah dia peroleh, Surabaya menjadi lebih hijau dan indah berkat tangan dinginnya. World Materials Forum di Nancy, Perancis bahkan mengundangnya untuk berbagi pengalaman caranya mengelola sampah. Inilah mungkin yang membuat DPRD DKI khusus ke Surabaya dalam kunjungan kerja. Mereka mengharap walikota Surabaya dua periode ini untuk membantu mengelola sampah DKI yang anggarannya trilyunan, sedangkan Surabaya hanya 30 milyar saja.

Saat bertemu dan mengobrol dengannya selama sekitar dua jam, inilah yang saya dapatkan dari Risma.

Pertama, orangnya tegas tanpa basa-basi. Waktu dua teman saya dan saya mengajaknya makan siang, Risma—tanpa kami duga—bersedia. Saya segera booking sebuah resto di Surabaya tengah yang kebetulan chef-nya dulu satu apartemen, bahkan sekamar, dengan anak saya saat kuliah di Melbourne. Baru saja saya selesai memilih ruangan, ajudannya menelpon dan mengabari bahwa justru kami yang diundang ke tempat Bu Risma. Saat kami datang, kami disuguhi makanan kesukaan kami.

Kedua, orangnya lebih banyak kerja ketimbang bicara. Bukankah saat ini ada saja pejabat yang lebih banyak bernarasi ketimbang aksi, lebih pintar diskusi ketimbang eksekusi, yang lihai berkelit ketimbang kerja dengan gesit. Bu Risma banyak bicara saat memberikan pengarahan kepada anak buahnya, khususnya kalau permasalahannya rumit atau anak buahnya dianggapnya terlalu birokratis dalam mengurus sesuatu. Videonya yang sedang memarahi anak buahnya viral di medsos. Tampak sekali keberpihakannya ke wong cilik. Dia meminta stafnya untuk berempati dengan warga Surabaya yang mengurus KTP memakai angkot. “Berapa kali mereka harus pulang pergi ke sini untuk mengurus KTP?” semprotnya. Bukan hanya pertimbangan biaya, melainkan juga banyak warga ibukota Jatim ini sudah sepuh.

Ketiga, cintanya terhadap tanah air jangan diragukan. Saat bertemu dengan beliau, Bu Risma cerita kunjungannya ke Inggris. Di sana beliau disambut masyarakat Indonesia. Ada seorang mahasiswi yang curhat bahwa dia tidak betah kuliah di Inggris. Bu Risma memarahinya dan mengatakan bahwa berapa banyak orang Indonesia yang ingin kuliah di luar negeri tapi terhambat oleh dana. Jadi dia meminta mahasiswi itu jangan pulang ke Surabaya sebelum menyelesaikan kuliahnya. Kini saat masyarakat menyorotinya, bahkan menginginkannya ikut bertarung di pilgub DKI mendatang atau berpeluang menjadi menteri Jokowi periode mendatang, bahkan menjadi salah satu kandidat untuk pilpres 2024 nanti, Risma berkata, “Jabatan publik itu amanah, bukan untuk diminta atau diperebutkan,” kata dia kepada tim Blak-blakan detikcom.

Salut sekali. Di saat banyak orang berebut kekuasaan—dengan cara-cara yang absurd sampai menjijikkan, bahkan memakai ayat Kitab Suci dan sentimen SARA—Risma justru merendah. Apakah saya mengidolakan Bu Risma? Tidak! Karena kata ‘idola’ itu berasal dari kata ‘idol’ yang bisa saja diartikan berhala. Namun, kalau saya ditanya apakah saya mengagumi Risma, jawaban saya tegas, “Ya!” Sebagai penduduk Surabaya saya melihat dengan mata kepala sendiri transformasi yang dialami kota besar kedua di Indonesia ini. Apakah tidak ada kelemahan Bu Risma? Tentu. Siapa manusia yang tidak ada kelemahannya? Namun, saya memilih untuk melihat kelebihannya saja agar lebih bersinar di kemudian hari.

Selamat, Bu Risma!