Pilkada Milih Siapa?

~ 219 Views

Itulah pertanyaan yang sering dilontarkan kepada saya meskipun mereka tahu saya bukan pengamat politik atau politikus. Karena dipercaya untuk menjawab pertanyaan mereka, saya tidak bisa sekadar menjawab, “Ya coblos saja sesuai hati nurani” atau “Doa dulu baru mencoblos.” Kesannya menghindar begitu.

Ketimbang menjawab mereka satu per satu, saya berpikir alangkah baiknya jika saya menulis artikel pendek tentang itu. Setiap kali ditanya tentang pilihan di pilpres atau pilkada, saya lebih senang memberikan kriteria. Alasan saya sederhana. Tiap daerah memiliki calon sendiri-sendiri yang saya tidak tahu sama sekali. Jangankan daerah lain. Daerah saya sendiri saya bingung menentukan pilihan, apalagi kalau calonnya tidak akrab di telinga maupun radar bacaan saya. Lebih-lebih lagi kalau itu pemilihan DPR, DPD dan DPRD. Bagaimana bisa menentukan pilihan jika wajah-wajah yang tertera di surat suara begitu banyak dari berbagai macam partai.

Meskipun begitu, paling tidak ada dua kriteria penting yang perlu kita perhatikan bersama agar kita bisa memilih dengan bijak. Bukankah mata uang yang berlaku secara universal memiliki dua sisi?

Pertama, calon pemimpin itu sebaiknya memiliki dua karakteristik yang unggul seperti yang ditulis pemazmur: “Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya.” Dia harus tulus sekaligus cakap. Perpaduan yang luar biasa bukan? Mengapa harus tulus? Tanpa ketulusan, dia hanya akan mengeksploitasi jabatannya untuk kepentingan dirinya sendiri maupun kelompok. Tanpa kecakapan, dia tidak kredibel memimpin wilayah. Perhatikan ucapan Salomo: “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.”

Kedua, selain ketulusan dan kecakapan, calon pemimpin itu juga harus cerdik seperti kata Sang Guru Agung: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Jika calon pemimpin hanya cerdik saja, maka dia akan menghalalkan segala cara untuk menang. Sebaliknya, jika dia tulus saja, dia akan dimanipulasi baik oleh partai maupun ormas dan kelompok masyarakat yang mendukungnya. Bahasa sederhananya begini, “Kita harus cerdik seperti ular agar tidak gampang ditipu orang lain. Sebaliknya, kita perlu tulus seperti merpati agar kita tidak menipu orang lain. Perpaduan yang luar biasa bukan?

Cukup sederhana bukan? Kriteria lain seperti nama baik, rekam jejak yang baik, jujur, dekat dengan orang kecil dan lain-lain dan sebagainya bisa ditambahan di bawahnya. Paling tidak dua hal di atas itulah yang utama.

Silakan memilih.

(Instagram: @xavier_qp)