KARYAWATI CANTIK INI MEMILIH DIPENJARA AGAR BEBAS

~ 888jp 883 pvc 888 GA 876

“Penjara ini memberi saya rasa kebebasan,” ujar Park Hye-ri, 28, karyawati yang membayar $90 agar bisa menghabiskan satu hari penuh di penjara.

Ini memang bukan penjara biasa. Dengan nama “Prison Inside Me”, siapa saja bisa memilih untuk tinggal sendirian di kamar ‘penjara’ tanpa diganggu oleh aktivitas apa pun, termasuk gangguan handphone. Untuk itu hape harus ditinggal di luar kamar.

Hasilnya? “Aku terlalu sibuk. Aku seharusnya tidak berada di sini karena ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Namun, aku memutuskan untuk berhenti sejenak agar bisa merenungkan diriku sendiri untuk kehidupan yang lebih baik,” sambung Park.

‘Penjara’ di Hongcheon, Korea Selatan ini memang dirancang untuk siapa pun yang ingin mempunyai ‘me time’ yang berkualitas.

Sebagai rohaniwan, kepala sekolah, dosen dan penulis, hari-hari saya memang diwarnai kesibukan dengan berbagai aktivitas yang tampaknya tidak pernah habis dan selesai. Di satu sisi, bisa saja saya merasa lelah. Agar tidak burn down, saya memilih untuk melakukan ‘short escape’ dengan membaca atau jika ada hari libur, pergi keluar kota, keluar pulau atau luar negeri.

Ketika ada undangan bicara di Adelaide, ibukota Australia Selatan, saya sempat melakukan ‘short escape’ bersama keluarga di pulau kanguru. Setelah menyelesaikan tugas bicara, saya dan keluarga cabut dengan mobil sewaan. Untuk mencapai Kanguru Island kami naik ferry sekitar satu jam. Begitu menginjak ke pulau itu, hape kedua anak saya kehilangan sinyal. Punya saya yang pakai operator yang berbeda masih bisa jalan namun tidak lama. Tiba-tiba saja kami semua mengalami blank spot.

Saya beruntung punya anak bungsu yang bisa membaca peta dengan baik. Dialah yang menadi GPS kami di pulau yang lebih banyak kangurunya ketimbang orangnya. Karena memang habitatnya, banyak kanguru yang mati tertabrai mobil. Manusia kadang tidak punya keperibinatangan sehingga habitan mereka pun kita invasi.

Setelah sekian lama driving, kami masuk ‘hutan’. Ada tiga sarana penginapan di sana. Camping, caravan, atau cabin. Kami memilih yang terakhir karena kami anggap lebih nyaman.

“Ada wifi di sini?” tanya saya kepada seorang wanita tengah baya yang memberikan kunci kabin.

“Anda bermaksud istirahat kan di sini?” ujarnya sambil tersenyum. Jawabannya jelas. Tidak ada wifi.

Selama di pulau itu kami benar-benar menikmati ‘family time’ yang mengasyikkan. Kami lebih banyak berinteraksi dengan udara segar, tanaman yang subur dan hewan yang menyenangkan. Ketimbang ‘dipenjara’ di Korea Selatan dengan membayar lebih dari satu juta rupiah per malam, kami lebih suka ‘dipenjara’ di pulau yang sepi tapi membuat hepi ini. Mau mencoba?