INDAHNYA HIDUP DI ERA DIGITAL

~ 318jp 298 pvc 311 GA 318

Saya baru saja tiba di parkiran di kantor tempat saya berkarya. Saat melirik hape, ada miscall dari istri saya. “Mama miscall Pa,” ujar anak saya hampir berbarengan. “Tolong isikan OVO dan GO-PAY adik ya. Uang di hape adikmu habis,” ujarnya kepada anak sulung saya ketika di-call back. Begitu simpel. Begitu mudah. Semua berkat fintech zaman now.

Saya termasuk individu yang beruntung bisa hidup di era digital. Banyak hal asyik yang bisa saya lakukan dan nikmati di era yang mencengangkan sekaligus mengagumkan ini.

Paling tidak ada tujuh hal yang membuat hidup saya jadi lebih mudah dan indah di era digital ini. Click To Tweet

I. Liburan jadi lebih mudah dan murah

Holiday

Pada hari libur yang lalu saya bersama keluarga menjelajahi South Australia yang sudah sekian lama saya dambakan. Meskipun pernah tinggal dan bertugas di aussie , salah satu wilayah paling eksotis di benua kanguru ini belum pernah saya injak dan telusuri.

Dari rumah saya di Surabaya, anak saya bisa mengatur itinerary dengan lebih santai dimulai dengan mengunjungi Mbah Google untuk mencari spot destinasi yang unik dan menarik. Kami sepakat untuk tidak mengunjungi tempat wisata yang mainstream. Kebetulan saya ada tugas bicara di Adelaide. Kota terpadat kelima di negara koala ini terasa lengang bagi saya yang biasa di Surabaya yang padat. Liburan kali ini menjadi semacam short escape yang menyenangkan.

Lewat handphone, anak sulung saya bersama anak bungsu dan istri saya mulai mengatur perjalanan darat dan air. Kami sudah memesan apartemen, hotel, bahkan kabin di tengah hutan hanya dengan mengandalkan telepon genggam anak saya. Demikian juga waktu kami sekeluarga menjelajahi Kanada dan Amerika Serikat dalam sebuah liburan panjang. Sebagian besar rencana perjalanan kami atur lewat smart phone. Di samping mudah, seringkali kami mendapat tawaran persewaan mobil dan penginapan (hotel dan aparteman) yang lebih murah dibandingkan kalau kami booking lewat travel maupun check in langsung. Inilah hak istimewa yang dulu tidak pernah saya alami, bahkan bayangkan.

II. Mencari dan menikmati hiburan

View Streaming

Dengan smart television di rumah, saat senggang atau liburan, saya bisa betah berjam-jam di depan layar kaca tanpa keluar rumah. Dari televisi cerdas itu saya sudah bisa mendapat hiburan yang melimpah mulai dari video di YouTube, Facebook sampai nonton film via streaming. Kalaupun bosan dan keluar rumah, saat nongkrong di café pun saya sekeluarga masih bisa menikmati hiburan lewat hape dan tablet masing-masing.

III. Memudahkan kami untuk belajar

Sebagai orang yang suka membaca dan belajar, saya betul-betul dimanjakan di era digital ini. Jika dulu saya harus sering ke toko buku atau perpustakaan untuk membeli bacaan, kini saya bisa membacanya lewat handphone dan tablet saya. Agar bisa ‘merasakan’ kenikmatan membaca seperti buku konvensional, kita bisa membaca ebook via kindle paperwhite.

Anak sulung saya yang lulus dari Audio Engineering di Melbourne, bisa terus meng-up date ilmunya lewat internet. Anak bungsu saya belajar gitar secara otodidak dengan memanfaatkan tutorial di YouTube. Istri saya pun bisa belajar memasak tanpa mengikuti demo masak di mal atau ikut kursus. Semua bisa dilakukan lewat gadget.

IV. Bekerja jadi (lebih) menyenangkan

Saya dan beberapa teman, di samping punya kantor tetap, bisa memanfaatkan coworking space. Dengan laptop masing-masing ditunjang wifi kecepatan tinggi, kami bisa mengerjakan tugas dengan santai sambil ngopi, ngemil dan ngobrol dalam suasana yang cozy. Saya bisa mengirimkan tulisan pesanan dari beberapa penerbit online dalam suasana seperti ini. Sebagai penulis yang sudah menerbitkan lebih dari 60 judul buku, saya ditawari untuk menerbitkan buku dalam bentuk digital. Orang tinggal bayar dan baca di layar masing-masing. Profesi menjadi penulis jadi lebih gampang.

Anak perempuan saya, yang lulus dari Culinary Business, bisa bekerja di rumah. Karena jago membuat kue tart, dia tinggal mengunggah kreasinya di media sosial, pembeli pun ‘datang’ dengan sendirinya, kadang bahkan sampai kewalahan.

Saat saya menginap di apartemen seorang sahabat di Sydney, saya melihat istrinya ‘bekerja’ di rumah. Apa yang dia lakukan? Jualan lewat online. Dia bahkan bisa menjual barang-barang bekas lewat ebay. “Hasilnya lumayan lho, bisa untuk menambah uang dapur,” ujarnya dengan senyum simpul.

V. Memanfaatkan smartphone secara maksimal

Dengan telepon genggam terkini, saya bisa melakukan banyak hal di atas sofa rumah kami maupun kursi kantor saya. Banyak tools and apps yang menjadikan hidup lebih mudah. Suatu siang, misalnya, karena kesibukan kerja, saya terlambat makan siang. Mau keluar kantor nanggung dan malas mengeluarkan mobil (wkwkwk). Lewat aplikasi di smarphone, kurang dari setengah jam makanan favorit saya sudah dibawa masuk ke ruang saya oleh staf front desk.

Sebagai predator buku (kayak T-Rex, he, he, he) kadang saya menemukan kata atau istilah asing. Dengan sentuhan di layar handphone, saya bisa menemukan artinya tanpa harus membuka kamus tebal. Ketika tiba-tiba ada tugas yang mewajibkan saya pakai jas lengkap, padahal, saya tidak membawanya, dengan gampang saya bisa menyuruh istri saya mengirimkannya via driver online. Demikian juga saat pulang kantor dan jalanan macet, saya bisa memilih rute tercepat ke rumah dengan Waze.

Istri saya pun dipermudah hidupnya di era digital ini. Sejak sopir kami keluar dan asisten rumah tangga kami pulang kampung, istri memang jauh lebih repot dari sebelumnya. Era digital menjadi penolong yang luar biasa. Jika bosan di rumah, istri saya yang sebenarnya bisa menyetir mobil sendiri, memilih jasa angkutan online. Tidak perlu lelah, apalagi saat macet, maupun mengalami kesulitan parkir di mal. Kalau sedang malas keluar dan butuh belanja, dengan gampangnya dia bisa melakukan online shopping. Harga bisa lebih murah, diantar ke rumah lagi.

VI. Lupa bawa dompet? No problem!

Suatu malam, seorang mahasiswa saya mengajak saya dinner together. Di tengah jalan, hati saya terkesiap karena saya lupa membawa dompet. Tas tangan yang berisi dompet saya tertinggal di rumah. Saat menyadari bahwa saya membawa smart phone, rasa kuatir langsung ngacir. Mengapa? Berkat fintech, saya sebenarnya membawa uang dalam bentuk digital. Mau makan, saya tinggal men-scan barcode di kasir. Mau pulang? Bisa memanfaatkan e-money yang ada di hape saya.

VII. Nge-blog, nge-vlog, Youtuber dan jadi kolumnis

Di era digital ini ada berbagai pekerjaan yang dulu tidak ada sekarang menjamur. Blogger, vlogger, youtuber, social media specialist untuk menyebutkan beberapa di antaranya. Sebagai seorang penulis, saya betul-betul diuntungkan dan dimanjakan di era digital ini. Di samping punya blog sendiri yang saya pakai untuk menyalurkan jus kreativitas saya, kapan saja dan di mana saja, saya mendapat kesempatan untuk menjadi kolumnis di beberapa media online di tanah air.

Jika dulu saya harus menunggu beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa bulan agar naskah saya bisa muncul di koran, majalah, tabloid maupun diterbitkan dalam bentuk buku, kini dalam hitungan menit tulisan saya sudah muncul di media online dan bisa dibaca ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu dalam waktu yang jauh lebih singkat. Jumlah page view bisa kita lihat kapan saja.

Kalau Anda suka menulis dan bingung untuk memasukkannya ke mana, bikin blog sendiri saja. Pertama, Anda bisa memakai jasa DomaiNesia yang menyediakan hosting murah. Kedua, Anda bisa belajar cara membuat blog di tempat yang sama: DomaiNesia. Jadi deh situs Anda.

Lalu, nggak asyiknya di mana?

Kayaknya tidak fair kalau saya hanya memaparkan sejumlah kenikmatan hidup di dunia digital. Pasti ada efek negatifnya. Apa saja sih? Paling tidak ada tiga.

1. Kesehatan

Kok bisa? Jika kita terus-menerus memelototi layar berpendar, mata kita bisa bermasalah. Di samping itu, jika kita duduk terus-menerus di depan laptop maupun tablet, kita pun bisa mengalami sakit punggung. Dengan mengarahkan mata kita keluar jendela, melihat pemandangan nun jauh di sana, keletihan mata bisa terobati. Dengan berdiri sejenak, melakukan olahraga di tempat, atau pergi ke toilet dan mengunjungi meja rekan sekerja kita, tubuh jadi bergerak. Menaiki tangga, ketimbang naik lift, juga bisa membakar kalori. Apalagi jika rumah atau kantor kita tidak lebih dari tiga lantai.

2. Relasi

Saat ada undangan bicara di Singapura, saya menyempatkan diri jalan-jalan sore bersama istri tercinta. Di Orchard Road, kami melihat sepasang suami istri mengapit dua anaknya. Alih-alih mengobrol dengan asyik, mereka malah sibuk dengan gadget masing-masing. Jika kebiasaan ini kita teruskan, kita jadi orang yang antisosial. Salah satu cara efektif untuk kembali melakukan sosialisasi dan komunikasi yang sehat dianjurkan oleh seorang sahabat saya. Setiap kali makan bersama, setiap orang wajib menaruh hapenya di tengah meja. Siapa yang mengangkat handphone-nya pertama kali, dialah yang membayar tagihan. Cara ini ternyata efektif. Kalau sudah bicara tentang uang, tiap orang tiba-tiba jadi sensitif. Wkwkwk.

3. Menyebarkan Virus

Virus zaman milenial ini berupa black campaigne, fraud, hate speech, hoax, kekerasan dan pornografi. Di era digital ini di samping kita bisa terinveksi oleh ‘virus’ zaman now, kita pun bisa menularkan bahkan meng-up load konten-konten negatif lewat gadget kita.

Pisau di tangan dokter bedah, bisa menyembuhkan pasien. Pisau di tangan pembunuh berdarah dingin, bisa menjadi senjata yang mengerikan. Pilihan ada di tangan kita. Meskipun sadar akan dampak negatifnya, saya memilih untuk memakai gadget saya untuk hal-hal yang positif. Misalnya, setiap hari saya mengunggah kata-kata motivasi dan gambar inspiratif via Instagram, Facebook dan Twitter saya. Hidup jadi lebih indah dan menyenangkan saat kita bisa menikmati anugerah Tuhan dan membagi kebahagiaan kepada sesama. Bukankah begitu?