Explore the Captivating 13 New Routes in Indonesia with Garuda Indonesia

~ 119 Views

Itu judul email yang saya terima dari salah satu maskapai yang saya gunakan. Sudah lebih dari setengah tahun saya tidak terbang. Terakhir terbang adalah awal tahun 2020 ini yaitu ke Jepang. Pada saat saya sekeluarga berada di negeri matahari terbit ini, sudah tampak beberapa orang yang pakai masker, tetapi kami tidak tahu bahwa Covid-19 sebentar lagi akan mewabah secara global. Tidak lama sampai di tanah air, pandemi global terjadi. Seandainya saya telat pulang, bisa jadi satu keluarga mengalami karantina di Indonesia. Masih mending kalau self-quarantine terjadi di negara maju. Yenny Sastro yang tinggal di Perth, mengatakan bahwa di awal pandemi, setiap keluarga yang di-lock down mendapatkan tunjangan—kalau tidak salah dengar karena dia sampaikan lewat zoom—sebesar 4 ribu dolar Aussie. “Sekarang sudah tidak, Pi, harus bayar sendiri,” ujar Yeni yang berulang-ulang meminta saya untuk mengunjunginya di ibukota Australia Barat ini.

Kangen terbang?

Meskipun sudah lama tidak mengangkasa—memangnya Superman?—keinginan untuk terbang tidak terlalu kuat dalam diri saya. Maklum, karena sering bepergian, bandara menjadi salah satu tempat yang sering saya kunjungi dan terus-terang saja, rutinitas ke bandara itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Beberapa kunjungan ke bandara bahkan menimbulkan ingatan akan rasa bosan yang menyengat. Apalagi kalau pas terbang sendiri di saat winter. Rasa dingin di hati jauh lebih menyedihkan ketimbang udara membeku di luar bandara. Meskipun di dalam bandara ada heater, tetapi kehangatan itu tidak bisa mengalahkan hangatnya sebuah keluarga yang berkumpul bersama.

Lebih menyedihkan lagi trauma hati plus trauma fisik. Perbedaan cuaca tropis saat berangkat dari Indonesia dan mendarat ke bandara dengan suhu minus membuat tubuh saya meriang, khususnya tenggorokan. Saya ingat persis pengalaman tidak mengenakkan itu. Saat berangkat, udara panas menyengat, tetapi begitu tiba, jaket musim dingin saya tidak kuasa menahan terpaan angin yang menusuk tulang. Rasa haus yang sangat membuat saya menghampiri vending machine di luar bandara dan langsung minum airnya. Inilah kesalahan fatal saya. Tenggorokan saya belum sempat beradaptasi. Untung saya punya istri yang lama bekerja di apotek rumah sakit sehingga membawa persediaan obat. Dalam tempo sehari, tenggorokan saya membaik sehingga bisa menikmati makanan hangat di cuaca dingin.

Tempat, makanan dan orang memang bisa menimbulkan rasa kangen tersendiri. Ada café-café di pegunungan bersalju yang membuat saya rindu untuk datang dan datang lagi. Sambil ‘ditemani’ para pemain ski dan melihat turunnya salju dari jendela café serta menikmati pizza hangat plus coklat mengepul menimbulkan sensasi dan rasa kangen yang membuncah. Namun, tawaran dari Garuda Indonesia itu membuat saya ingin mengenal tanah air lebih lagi, khususnya tempat-tempat eksotis seperti di Bali, Bromo dan Labuhan Bajo dengan Pulau Padar-nya yang berpendar di mata.

Kapan lagi bisa terbang?

Seharusnya bulan Oktober-November ini saya ada perjalanan pelayanan ke beberapa kota di Amerika. Undangan sudah sampai di meja saya sejak Maret 2019 lalu agar saya bisa mengatur jadwal lebih baik. Fakta, pandemi membatalkan jadwal yang bahkan sudah terperinci.

Meskipun saat ini beberapa maskapai dan beberapa negara sudah mulai membuka diri, saya memutuskan untuk menunda terbang—khususnya ke luar negeri—sampai tahun 2021. Itu pun dengan catatan kalau pandemi sudah bisa diatasi dan vaksin sudah teruji secara klinis maupun empiris. Anehnya, justru saat lama tidak terbang, kerinduan untuk terbang tidak terlalu kuat. Maklum, saya orang rumahan dan home made. Wkwkwk. Kumpul bersama keluarga sambil ngobrol atau nonton tayangan TV kabel bersama-sama sambil ngopi buatan barista top—anak sendiri—dan ngemil merupakan kenikmatan tersendiri. Sampai pagi tadi, ketika menerima surel dari maskapai kebanggaan Indonesia membuat saya rindu untuk terbang kembali ke Manado, Papua sampai Dili, Timor Timur yang dulu masuk wilayah Indonesia. Saat menulis artikel ini pun, lidah saya seakan-akan kembali merasakan rica-rica Manado dan papeda bersama sop ikan kuah kuning yang nikmat. Kapan lagi ya bisa ke sana?

Instagram: @xavier_qp