DOMBA DITENGAH SERIGALA

~ 292 Views

Begitu menakutkan sikon itu sehingga Yesus pun menyamakan kita seperti domba di tengah serigala. Seserius apa sih ancaman serigala. Mari kita mencoba membayangkan diri sebagai seekor domba di tengah serigala. Jika ada sekawanan domba dan ada satu serigala saja, domba bercerai berai karena ketakutan. Bayangkan jika hanya ada satu domba dan dikelilingi sekawanan serigala. Apa kira-kira domba itu bisa selamat?

Kita sedang dalam posisi itu. Apa atau siapa serigala itu? Black campaigne, hate speech, hoax, fraud, genderuwo, sontoloyo dan kawan-kawan. Sejahat itu? Ya! Jika serigala beneran bisa saja mencabik-cabik dan memakan kita, serigala jadi-jadian itu meremukkan kita sampai hakiki kita yang paling dalam: hati nurani.

Berita bohong yang disampaikan terus-menerus benar-benar seperti pedang bertama dua. Di satu sisi, dia membunuh pelan-pelan orang yang mendengarnya seperti kanker ganas yang metastasis. Di sisi lain dia pun tanpa disadari inangnya, membunuhnya dari dalam. Orang yang terus-menerus menyebarkan berita bohong lama-lama bisa membohongi diri sendiri sehingga mengalami delusi parah. Cilakanya, orang yang berusaha menyadarkannya dianggap musuh dan harus dibunuh.

Kegilaan yang sungguh mengerikan, bukan?

Bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari sosok serigala yang bisa berubah bentuk menjadi berbagai macam ancaman? Pertama dan terutama perlu tenang. Kepanikan justru membuat persoalan baru. Dengan tinggal tenang dan berdoa, terletak kekuatan kita. Bukankan untuk melihat apa isi kolam kita harus membiarkannya tenang lebih dulu sehingga airnya menjadi bening? Di air yang keruh sandal jepit pun bisa tampak seperti ikan!

Coba bayangkan sebuah demonstrasi. Ketika sekumpulan orang hendak menyampaikan pendapat secara damai, kita bisa mendengarkan apa tuntutan mereka. Namun, jika demonstrasi itu menjadi anarkis, kita tidak lagi bisa membedakan mana yang benar-benar ingin didengar aspirasinya dan mana yang menjadi penunggang gelap dan bisa saja menjadi pembunuh gelap. Di antara suara hingar bingar dan asap tebal dari tembakan gas air mata membuat mata kita pedih dan sulit melihat dengan jelas.

Diri kitalah yang saat ini menjadi pusat demonstrasi chaos itu. Tanpa berdia diri, pikiran yang kusut sulit diurai, apalagi membedakan manakah yang domba dan mana yang serigala.

Kedua, menyadari posisi kita sebagai makhluk yang lemah. Itulah sebabnya mengapa domba membutuhkan gembala yang baik. Di rumah kita membutuhkan ortu yang baik agar tidak diserang oleh genderuwo yang suka menculik anak-anak atau kuntilanak yang merayu dengan wajah ayu dan lidah beracun sehingga banyak pemuda yang jatuh ke dalam pelukan dan tusukan taringnya.

Di masyarakat kita membutuhkan tokoh panutan yang bisa mengayomi kampung kita sehingga kita merasa aman dan nyaman tinggal di sana. Dalam cakupan yang lebih luas kita membutuhkan sosok pemimpin daerah sampai pemimpin nasional yang sungguh-sungguh mengabdi dan bukan hanya karena ambisi.

Dalam tataran yang jauh lebih luas, yaitu dunia, kita membutuhkan Gembala yang Agung itu. Gembala yang baik tidak akan meninggalkan domba-domba-Nya. Dia bahkan mencari domba yang hilang sampai ketemu. Di pihak kita, domba yang baik mengenal suara gembalanya dan hanya menuruti perintah-Nya. Bukan malah hanyut ditipu genderuwo, kuntilanak dan sontoloyo yang kerjanya hanya bikin gaduh dan keruh.