Benarkah di Australia Lulusan Universitas Top Malah Mendapat Gaji Kecil? Ini Faktanya! Berikut Panduan Memilih Kampus

~ 819 Views

Sebagai orang yang sangat mencintai kehidupan kampus, saya senang sekali mengunjungi kampus baik di dalam maupun di luar negeri. Bicara soal kampus, ada berita menarik yang saya baca pagi hari. Selesai ibadah pagi bersama para mahasiswa, saya membaca judul berita yang cukup menggelitik. “Di Australia, Lulusan Universitas Top Malah Mendapat Gaji Kecil.” Berita dari ABC Australia yang dikutip detik.news ini tentu saja mengagetkan saya.

Ternyata judulnya tidak terlalu cocok dengan isinya. Mau tahu? Ini: Ternyata bukan lulusan universitas terbaik di kota-kota besar Australia yang mendapat penghasilan tinggi setelah mereka memasuki dunia kerja. Menurut laporan harian The Australian, lulusan dari universitas regional justru mendapat penghasilan rata-rata lebih tinggi. Misalnya saja lulusan Universitas Charles Darwin yang mendapat gaji 10 persen lebih tinggi dari lulusan universitas lain yang berasal dari jurusan sama. Lulusan dari universitas yang berada di negara bagian Northern Territory tersebut mendapat penghasilan sekitar AU$ 80 ribu, hampir Rp 800 juta, per tahun, setelah mereka lulus tiga tahun. Survei pendapatan para lulusan universitas di Australia yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Australia.

Universitas New South Wales berada di tempat kedua, dengan rata-rata pendapatan AU$ 80 ribu, disusul lulusan dari Central Queensland University, University of New England dan Charles Sturt University. Lulusan universitas yang dianggap terbaik di Australia seperti University of Sydney (AU$77.300), Australian National University (AU$77.200), dan Monash University (AU$72.500) berada di peringkat. Sementara lulusan University of Melbourne mencatat rata-rata pendapatan hanya AU$ 68.900. Rata-rata pendapatan lulusan universitas di Australia setelah tiga tahun bekerja adalah AU$ 73.000. (detikNews)

Saya teruskan berita itu ke anak saya yang sedang kerja di sana. Ini jawabannya, “Seharusnya nggak bisa dijadikan patokan pi. Besar kecilnya gaji tergantung agreement antara employee dan empolyer kan? Tapi memang ada minimalnya. Kebanyakan nggak dilihat lulusan mana, tapi lulusan apa. Ada sector yang gajinya lebih tinggi dari sector lain. Misalnya, sector enterprise integrator lebih tinggi gajinya daripada sector programmer, padahal kedua-duanya sama-sama dari IT field.” Maklum dia kerja di bidang IT. Saya tidak pernah tanya soal gaji anak, tapi ini saat yang tepat untuk bertanya kepadanya. Wkwkwk. “Gajiku juga sekitar segitu pi,” jawabnya tanpa menjelaskan berapa ‘segitu’ itu he, he, he. Dari berita ABC Australia dan jawaban anakku, apa yang bisa kita jadikan pelajaran?

Pertama, jika kita sedang mencari sekolah untuk anak, yang penting adalah jurusan apa dulu baru mencari kampusnya. Jangan terbalik. Seringkali anak atau ortu memilih kampus top lebih dulu tanpa tahu lebih jauh jurusan apa saja yang disediakan kampus itu. Jangan-jangan kampus top itu malah tidak menyediakan jurusan yang kita inginkan.

Kedua, bukan apa yang lagi trend saat ini, tetapi pada saat anak lulus nanti. Ingat booming jurusan ekonomi di tanah air? Semua ingin masuk fakultas ekonomi sehingga lulusannya membludak dibandingkan lapangan kerjanya. Ini yang sulit, karena kita harus pintar-pintar memprediksi SDM apa yang paling banyak dibutuhkan pada saat itu.

Ketiga, jauh lebih baik lagi kalau jurusan yang diambil bukan semata-mata untuk cari kerja, melainkan menciptakan lapangan kerja. Meskipun menjadi seorang entrepreneur merupakan karier yang menjanjikan, tetapi pengalaman kerja seringkali dibutuhkan di sini. Asal jangan terlalu nyaman ‘ikut orang’ dan akhirnya malah tidak berani sama sekali untuk melangkah. Memang ada orang-orang yang ‘lebih nyaman’ meniti karier sebagai karyawan ketimbang usahawan. Faktor keberanian mengambil
risikolah yang menentukan di sini.

Keempat, minat dan bakat anak sangat menentukan jurasan apa yang seharusnya diambil. Ambil contoh jurusan pangan. Anak yang lebih senang berkutat di laboratorium lebih cocok masuk jurusan food science atau food tech, sedangkan yang suka kerja di pabrik dan lapangan lebih pas di food industry.

Kelima, ada kampus yang lebih menekankan akademis ketimbang kewirausahawan. Anak yang ingin jadi dosen atau peneliti lebih cocok masuk kampus yang dominan di bidang akademis, sedangkan anak yang berani menerima tantangan dan buka usaha sendiri memilih kampus yang menekankan entrepreneurship.

Last but not least, tanya kepada Sang Khalik agar memilih yang terbaik!