Curhat

4 MANFAAT JADI TEMPAT CURHAT

~ 275

Sebagai konselor saya—mau tidak mau, sempat tidak sempat, suka tidak suka—sering menjadi tempat curhat atau sharing orang lain baik yang lebih muda, sebaya atau bahkan jauh lebih tua dari saya. Sebagai guru dan dosen, yang curhat ke saya bukan hanya guru, teman dosen dan ortu, tetapi juga murid dan mahasiswa. Ternyata asyik juga mendengarkan curhatan mereka. Seorang gadis kecil—sebuah saja namanya Angel—bisa curhat di ruang kepala sekolah tentang betapa disiplinnya sang ayah mendidiknya. Seorang mahasiswi curhat sambil menangis bahwa ortunya tidak setuju dia pacaran dengan orang yang beda suku dan agama. Seorang nenek curhat bahwa dirinya kesepian dan tak seorang pun yang memperhatikannya.

Dari perjumpaan dengan merekalah saya belajar bahwa ada 4 manfaat menjadi tempat curhat:

  1. Saya belajar agar bisa dipercaya

Ini point paling penting yang saya rasakan. Jika saya tidak dapat dipercaya, mereka tidak mungkin datang kepada saya. Jika saya tipe ember—suka gosip—orang pasti ngibrit. Nah, sebagai tempat curhat, saya belajar agar terus-menerus bisa dipercaya. Posisi sebagai tempat curhat menjadikan saya belajar untuk punya integritas. Tanpa integritas, siapa lagi yang percaya kepada saya? Hal ini mengingatkan saya kepada kisah inspiratif yang pernah saya baca entah di mana dan kapan.Ada tiga rohaniwan yang sedang mengobrol tentang tugas dan pelayanan mereka. “Kita adalah rohaniwan tempat orang-orang curhat, bahkan mengaku dosa yang paling memalukan, tetapi kalau kita sendiri yang berdosa, kepada siapa kita bisa curhat selain kepada Tuhan?” ujar seorang rohaniwan, katakan saja A.

“Bener juga,” ujar rohaniwan B, “bagaimana kalau kita retreat bertiga dan saling curhat satu sama lain?”

“Setuju. Ayo kita cari tempat sepi,” sahut rohaniwan C.

Di tempat retreat masing-masing saling mengaku dosa. “Saya paling tidak bisa tahan kalau melihat wanita cantik, tetapi harus saya tekan karena saya rohaniwan,” ujar rohaniwan A.“Kalau saya soal uang,”ujar rohaniwan B. “Meskipun seharusnya saya sudah bebas dari keterikatan dengan uang ternyata mata saya masih silau kalau melihat yang namanya uang.”

Saat rohaniwan A dan B menceritakan ‘aib’ masing-masing, rohaniwan C diam membisu seolah-olah menahan sesuatu. Dia tidak betah dan ingin segera pergi. Tentu saja dua temannya bingung. “Kalau engkau bagaimana?” tanya mereka serentak.

Dengan wajah seakan menahan sesuatu, rohaniwan C berkata, “Saya paling tidak betah menyimpan rahasia orang lain. Jujur saja, saya ingin segera pergi dari tempat ini dan menceritakan curhatan kalian berdua.”

Nah, jika konselor seorang ember yang suka menceritakan kasus orang lain, berabe bukan? Saya memakai kasus orang lain—tentu dengan nama samaran dan tempat berbeda—bukan untuk mengobral keburukan, tetapi untuk belajar agar tidak jatuh ke lubang yang sama. Bahkan ada yang curhat ke saya sambil berkata, “Ceritakan saja ke orang lain agar mereka tidak terjebak seperti saya,” ujar seorang ibu muda yang ditinggal nikah lagi oleh suaminya.

“Tolong jadikan kisah saya ini cerpen agar orang lain tidak mengalami seperti apa yang saya alami,” ujar seorang mahasiswi yang dikhianati pacarnya.

  1. Saya belajar agar tidak perlu jatuh ke lubang yang sama

“Experience is the best teacher.” Begitu yang sering saya dengar. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Namun, bagi saya, “Belajar dari pengalaman orang lainlah yang merupakan guru terbaik.” Mengapa? Jika pengalaman itu sesuatu yang baik dan konstruktif, saya bisa belajar menyerapnya dan menerapkannya dalam hidup saya sendiri. Namun, jika pengalaman itu buruk dan traumatis, hal ini akan memperkuat early warning system di dalam diri saya. “Awas, hati-hati. Jangan melakukan hal yang sama jika tidak ingin mati konyol!” begitu teriak suara hati saya. Atas seizin orang yang curhat dengan saya, kisah mereka—setelah saya acak baik nama maupun tempat untuk tempat menjaga privacy mereka—bisa bermanfaat bagi orang lain jika saya tuliskan. Dari curhatan inilah lahir tulisan saya, terutama di media online.
experiences
  1. Saya belajar untuk (lebih) sabar

Sebagai pembicara publik, tuntutan profesi saya membuat saya lebih banyak bicara ketimbang mendengar. Nah, jika saya menjadi tempat curhat, saya belajar untuk membuka telinga lebar-lebar dan menutup mulut rapat-rapat. Saya jadi mengerti mengapa Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut, yaitu agar kita lebih banyak (lebih dulu) mendengar ketimbang bicara. Kebiasaan kelimat dari orang-orang yang efektif menurut Stephen R. Covey adalah “Seek first to understand, then to be understood.” Saya belajar untuk memahami orang lain lebih dulu ketimbang sekadar minta dipahami. Ternyata belajar mendengar berkorelasi langsung dengan kesabaran.
  1. Saya belajar untuk (lebih) bersyukur

Dengan mendengar keluh kesah orang lain, saya jadi bisa bersyukur tentang kehidupan saya sendiri. Jangan salah paham dulu. Saya tidak merasa bersyukur atas kemalangan orang lain, tetapi bersyukur bahwa apa yang saya alami tidak sebanding dengan apa yang orang lain alami. Kita seringkali jatuh dalam rasa mengasihani diri sendiri. Penyakit self-pity ini, jika kita pelihara terus, akan berubah menjadi self-destruction. Jika kita terus menganggap diri kitalah orang paling malam di dunia, cepat atau lambat, ‘mesiu kelabu’ itu akan menjadi bom waktu dan meledak sewaktu-waktu.

Inilah 4 manfaat menjadi tempat curhat. Kiranya bermanfaat!

“Daripada menghitung kesukaran Anda, cobalah menjumlahkan berkat-berkat yang telah Anda terima!” –Dr. Geoffrey Still

%d bloggers like this: