Tuhan, Tolong Di-Unmute Ya

~ 122 Views

Bisa jadi di masa pandemi seperti ini ada yang mengeluh kepada Tuhan seperti itu. Permintaan semacam itu menyiratkan bahwa Tuhan tidak mau mendengar, bicara dan peduli masalah yang menimpa kita. Benarkah?

Paling tidak ada beberapa buku yang ‘mendaraskan’ doa itu. Where Is God When It Hurts? Saat menerjemahkan buku ini Philip Yancey, penulisnya, mencoba menjadi juru bicara orang-orang yang merasa Tuhan meninggalkan justru di saat mereka berada di titik nadir kehidupan.

When God Doesn’t Make Sense adalah buku sejenis karya James C. Dobson. Pakar keluarga ini seakan mewakili orang-orang yang terluka dan tidak bisa memahami cara Tuhan bekerja. Seperti Yancey, Dobson seakan bertanya, “Tuhan kok gitu sih?” “Di mana Engkau saat kami menderita seperti ini?” “Aku kok sulit memaham-Mu.” Begitu kira-kira rentetan pertanyaan yang kita ajukan baik kepada diri sendiri, sesama maupun langsung kepada Tuhan.

Ada dua buku karya anak bangsa yang mencoba memberikan pencerahan kepada setiap kita. Pertama, Gusti Allah Mboten Sare karya Nurul Huda Haem. Kedua karya sahabat lama saya dari Klaten Purnawan Kristanto berjudul Tuhan Yesus Tidak Tidur. Lewat kedua buku itu, penulis ingin
memberi pencerahan kepada kita bahwa Tuhan tetap ada. Dia peduli. Dia mendengar. Dia tidak tidur!

Tobat Nasional, Doa Internasional

Saat Indonesia mengalami krisis multidimensi, beberapa tokoh nasional pernah mengajak rakyat Indonesia untuk bertobat secara nasional. Medio Mei lalu, tepatnya Kamis, 14 Mei 2020 lalu, Paus Fransiskus Pemimpin Umat Katolik dunia meminta “orang beriman dari semua agama” untuk bersatu dalam doa. Gayung bersambut. Ahmad Al-Tayeb seperti dilansir al-arabiya, menanggapi positif insiasi yang diserukan Paus Fransiskus ini. Lewat postingan facebook pribadinya, iman besar Mesir ini mengundang seluruh umat manusia di dunia untuk berdoa kepada Allah SWT agar pandemi
segera berakhir.

Pertobatan secara nasional memang perlu kita lakukan karena bangsa ini sedang diserang bukan hanya Covid-19 tetapi oleh musuh yang sulit. Apa itu? “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Ucapan Bung Karno ini betul-betul kita rasakan sekarang.

Sesama anak bangsa saling serang karena perbedaan pilihan politik. Ada yang berkata, permusuhan antara ‘cebong’ dan ‘kampret’ sudah berlalu. Siapa bilang? Secara kasat mata bisa jadi, tetapi komentar di setiap berita yang kita baca sampai hari ini menunjukkan masih banyak yang belum bisa move on.

Pertarungan antarelit politik pun terus berlangsung tak henti-henti. Ucapan Puan Maharani tentang Sumbar langsung disambar lawan yang berseberangan sehingga menjadi viral. Pancasila yang seharusnya final terus menjadi bahan diskusi dan perdebatan internal di republik tercinta.
Dikotomi TNI-Polri yang seharusnya diakhiri kembali memanas dengan peristiwa di Ciracas. Banyak pihak yang menyerukan agar keakraban para jenderal di antara dua institusi bukan hanya di atas mimbar, tetapi merembet dan merembes sampai ke akar rumput, sehingga hoaks tidak mudah merebak.

Pertarungan di antara warganet juga membuat kita terkaget-kaget. Istilah ‘anjay’ bisa membuat banyak orang menjadi lebay. Saat Donald Trump dan Joe Biden pemanasan untuk pilpres, di tanah air pun, pilpres tahun 2024 sudah mulai memanas. Masih banyak kalangan yang berharap Prabowo
kembali ke meda laga. Ada yang meminta Ridwan Kamil tampil. Ada yang berharap Ganjar berkibar. Termasuk yang paling gres sekelompok anak muda yang ingin menggiring Giring.

Kasus membeber Joker dan ‘pinang-pinang’ Jaksa Pinangki masih terus didalami. Kematian 100 dokter akibat Covid seakan menampar kita bahwa penanganan pandemi di negeri ini dianggap beberapa kalangan masih morat-marit. Langkah-langkah pemerintah yang terengah-engah jangan
kita perlemah dengan melempar sumpah serapah. Ketimbang nyinyir lebih baik hadir. Vaksin terbaik untuk mengatasi korona adalah disiplin.

Aku Sudah Unmute, Kalian Belum

Saat protokol kesehatan diterapkan dengan ketat, istilah google meet, zoominar dan webinar jadi akrab di telinga kita. Saat mengikuti zoom meeting, seorang pembicara tampak bersemangat sehingga tidak ingat kalau belum unmute. Akibatnya peserta bingung dan bengong. Ada yang
memberi notice lewat message to everyone.

Bisa jadi hal itulah yang kita rasakan saat kita saat kita menghadap Dia dalam doa. Pertanyaannya, benarkah Tuhan membiarkan sembahyang kita sekadar berkumandang? Atau doa kita sendiri yang seperti tong kosong yang asal nyaring?

Saat merenungkan hal ini, saya belajar, paling tidak ada tiga tataran doa:

Kita bicara, Tuhan mendengar.

Kita bicara, Tuhan bicara.

Tuhan bicara, kita mendengar.

Jangan-jangan saat Tuhan bicara, kita tidak mendengar, bahkan leave meeting room. Bukan berarti Tuhan tidak unmute, melainkan gadget kita bermasalah atau koneksi kita tidak lancar, bahkan mati.

Aku Sudah Kirim Bantuan

Saya teringat kisah yang relate dengan kasus doa yang seakan tidak Tuhan jawab. Seorang rohaniwan terjebak di gereja karena banjir bandang. Sebuah truk datang untuk mengevakuasinya, tetapi rohaniwan itu menolak. “Tuhan akan tolong saya,” jawabnya.

Saat air semakin meninggi, sebuah perahu karet mampir di depan gereja untuk menolongnya. “Tuhan akan tolong saya,” ujarnya.

Ketika air naik terus, rohaniwan itu naik sampai ke atap gereja. Sebuah helikopter mendekat dan menurunkan tangga tali. “Tuhan akan tolong saya.” Itulah ucapan terakhir rohaniwan itu.

Tidak lama kemudian banjir menenggalamkan Gedung gereja bersama rohaniwan itu. Sesampai di surga, rohaniwan itu protes kepada Tuhan dan bertanya, “Tuhan, aku kan hamba-Mu yang setia. Mengapa Engkau tidak mendengar doaku dan menolongku?”

Dengan wajah sedih, Tuhan menjawab, “Aku tahu engkau adalah hamba-Ku yang setia. Oleh sebab itu Aku telah mengirimkan tiga regu penolong, tetapi ketiganya engkau tolak.”

Di dalam sikon yang gawat darurat dan ancaman resesi seperti ini, masihkah kita meragukan Tuhan tidak peduli? Tuhan tidak tidur, tetapi kita yang ngelantur, bahkan ngelindur. Jangan-jangan jaringan internet kita yang bermasalah atau gadget nurani kita mati karena terlalu banyak kita pakai untuk menyebar hoaks dan ujaran kebencian? Jika kita merasa Tuhan tidak mendengar, coba ‘dengarkan’ Firman Tuhan: “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yes 59:1-2).

Xavier Quentin Pranata, pelukis kehidupan di kanvas jiwa, berdomisili di @xavier_qp