KENAPA MAMA NINGGALIN AKU

~ 715 Views

Itulah teriakan seorang bocah perempuan RA sebelum menghembuskan nafas terakhir di toilet sekolah. Berita itu langsung menyentuhku. Sampai saya menulis ini saya tidak tahu apa yang terjadi. Menurut penjaga sekolah bocah perempuan itu sempat berteriak dua kali dan ada tumpahan di lantai toilet. Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kasus di Depok ini?

Pertama, jika memang benar mamanya meninggalkannya, pasti ada alasan yang sangat kuat untuk itu. Biasanya bocah yang ditinggalkan disebabkan karena beban ekonomi yang terlalu berat. Bisa jadi mamanya ingin bebas dan mencari kehidupan baru lagi. Saya setuju dengan pendapat netizen yang mengatakan jika tidak siap untuk mengasuh, lebih baik tidak mempunyai anak. Seorang warganet berkomentar, “MAMAAAA oooooooooOOOOOooo ⁣I don’t wanna die, I sometimes wish I’d never been born at all.” Van The Boss

Kedua, kedua, mamanya single mother dan menemukan atau ditemukan pria lain. Pria itu mau menikahinya dengan satu syarat: tanpa anak. Saya pernah membaca kasus yang mirip di luar negeri. Anak yang ditinggalkan akhirnya menggelandang dan meninggal dunia. Memang menikah dengan seorang yang sudah mempunyai anak punya kerepotan dan kesulitan tersendiri. Anak-anak belum tentu mau menerima mama atau papa baru. Meskipun begitu, jika mereka mau menikah, seharusnya membicarakan ini baik-baik dengan anak-anak. Jika anak-anak itu tidak egois, mereka bisa diberi penjelasan. Yang penting jangan memaksakan diri apalagi memaksa orang lain untuk menerima kehadiran kita. Jalan kasih adalah jalan terbaik. Masing-masing pihak perlu melakukan pendekatan agar pernikahan kedua bisa berjalan ‘tanpa ganjalan’.

Ketiga, orang yang menemukan anak yang teriak seperti itu harus cepat tanggap. Jika tidak bisa menolong sendiri, cari orang lain yang bisa membantu. Apalagi ini terjadi di sekolah. Dari sini kita bisa belajar berbagi tanggung jawab. Ortu tidak bisa begitu saja ‘menitipkan’  apalagi ‘meninggalkan’ anaknya di sekolah. Meskipun bertanggungjawab terhadap pendidikan anak didiknya, pihak sekolah tentu mempunyai keterbatasan. Kita yang mempunyai anak satu atau dua di rumah saja bisa ‘kecolongan’ apalagi di sekolah yang muridnya jauh lebih banyak. Kerja sama ortu-sekolah dan kepedulian pihak lain sangat dibutuhkan di sini.

Mari jaga anak-anak titipan Tuhan ini dengan baik.