HIDUP, CINTA, MENIKAH ITU PILIHAN. JANGAN SAMPAI SALAH MEMILIH

~ 1140 Views

Sabtu. Pagi hari. Setelah mandi saya berangkat ke kantor. Istri sudah memanasi mobil. Saat saya mengambil kunci city car istri saya bertanya, “Kok nggak membawa yang besar? Biasanya Papa kan suka yang itu?”

“Mau naik boom boom car!” saya ingin mengucapkan kata itu, tetapi yang keluar adalah “Pakai yang ini saja.” Bukankah real men use three pedals? Wkwkwk.

Pilihan saya untuk memakai mobil kecil yang matic ternyata tepat dibanding mobil besar yang manual. Entah ada apa, pagi itu jalan ke kantor saya macet luar biasa. Seandainya saya pakai yang manual, bakalan kaki kiri capek menginjak kopling.

Hidup Itu Pilihan

Kok bisa? Ya soalnya banyak orang yang karena berbagai macam persoalan berat memilih untuk mengakhiri hidupnya. Saat berada di AS, saya membeli jaket denim limited edition. Jaket itu dibuat khusus untuk memperingati ultah Golden Bridge.

Kisah seputar jembatan yang legendaris ini melimpah. Sebagian bernuansa romantis, sebagian kelam. Jembatan yang menghubungkan San Fransisko dengan Marin, Kalifornia ini menjadi saksi bisu ribuan orang yang mengakhiri hidupnya di sana. Pemkot memasang jaring di bawahnya untuk mencegah pelaku bunuh diri langsung terjun ke air yang dingin ini.

Orang yang berani, bukan berani mati, melainkan berani hidup di tengah tekanan yang berat. Itu sebabnya ada perusahaan yang memasang iklan lowongan pekerjaan dengan salah satu syarat: “Bisa bekerja di bawah tekanan.”

Bekerja Itu Pilihan

Sebagai homo faber (makhluk pekerja) manusia memang diharapkan bekerja. Gara-gara Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden dan harus ‘berpeluh’ untuk mencari nafkah, ada saja orang yang menganggap bahwa pekerjaan itu kutukan Tuhan. Nyatanya tidak! Mengapa? Sejak berada di  Taman Eden, manusia pertama sudah diminta untuk bekerja yaitu mengelola taman.

Bagaimana kalau harta kita sudah melimpah? Bukankah kita tidak perlu bekerja? Salah lagi. Bekerja tidak selalu untuk mengumpulkan harta. Justru mulia jika kita bekerja di bidang sosial. Saat ini social entrepeneur sedang naik daun. Banyak orang mapan di Indonesia yang terjun ke dunia sosial untuk mensejahterakan rakyat secara langsung, bukan hanya janji-janji kosong saat menjelang pemilu saja.

Orang egois yang hanya mengumpulkan harta mendapat teguran: “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?”

Mencintai Itu Pilihan

Mengapa saya memilih Susan dan bukan Wiwik, misalnya. Mengapa She Khang memilih Yenny dan bukan Ratna? Jawabannya sederhana, cinta itu pilihan. Pertama, kita memutuskan untuk mencintai seseorang atau tidak. Kedua, orang yang kita pilih itu membalas cinta kita tidak? Jika tidak, apakah kita akan tetap melajang seumur hidup atau segera move on dan menjatuhkan pilihan ke orang lain?

Semakin banyak pilihan, semakin baik. Benarkah? Bukankah semakin banyak pilihan semakin sulit kita untuk memilihnya? Seorang sahabat lama saya, Eka, mengirimkan 85 foto corak batik. “Pak tolong pilih tiga, saya akan belikan untuk Bapak,” ujarnya.

Karena bingung, saya meminta istri dan anak sulung saya untuk memilihkan bagi saya. Saya dengan dari kamar mereka berdebat karena pilihan yang berbeda.

“Bagusan ini, Ma,” ujar Yona.

“Kalau untuk papamu ya cocok yang ini,” ujar Susan.

Jika untuk memilih kemeja batik saja kadang ribet dan membutuhkan waktu, apalagi memilih pasangan  hidup. Oleh sebab itu, saran saya kepada siapa pun yang konseling ke saya tentang pasangan hidup, selalu saya katakan, “Jangan instant!”

Contoh konkretnya? Kisah ini.

Seorang oma baru saja ditinggal meninggal oleh suaminya. Baru saja tanam menimbun jenazah sang suami, sang istri sudah pinjam hape cucunya.

“Untuk apa?” tanya cucunya keheranan.

“Hape oma tertinggal di rumah,” jawab omanya, “saya mau ganti status Ig saya menjadi ‘single again’.” Orang yang cepat sekali move on dicurigai banyak pihak sudah memiliki calon sebelum pacarnya pergi atau pasangannya meninggal dunia. Bisa juga sebenarnya dia tidak terlalu mencintai pacar atau pasangannya.

Menikah (Lagi) Itu Pilihan

Menikah atau tidak menikah itu juga pilihan. Para pertapa, romo dan suster yang memilih untuk hidup selibat kita hormati. Kita bahkan salut dengan pengorbanan mereka. “Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen, dalam perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas?” ujar St. Paul. Dia berkak, tetapi memilih untuk selibat.

Orang yang memilih menikah sama baiknya dengan orang yang tidak menikah. Jadi jika ada seorang (apalagi cewek) yang sudah menginjak usia lebih dari 40 tahun dan belum menikah, jangan melontarkan pertanyaan yang menyakitkan: “Kapan menikah?” Pasangan saja belum punya ditanya menikah. Bisa jadi dia memang memutuskan untuk tidak menikah, tidak salah kan?, atau memilih untuk menikah tetapi belum ada calon. Ketimbang melontarkan pertanyaan provokatif, bukankah jauh lebih indah jika secara aktif kita ‘mencarikan’ pasangan yang pas untuknya? Pilihan memang tetap di tangannya.

Mulai sekarang, mari belajar untuk menghargai pilihan orang lain. Beda pilihan itu biasa. Bertengkar karena beda pilihan itu belum dewasa.