CEK GEREJA SEBELAH

~ 1645 Views

Saat menemani anak berangkat sekolah dan langsung ke kantor, saya minta diputarkan lagu dari Spotify berjudul “Cek Gereja Sebelah” by Bobby Febian. Lagu itu dikirimkan seorang sahabat lama saya yang sekarang menetap di Sydney. Spontan suasana mobil berubah ceria. Mendung di luar, cerah di dalam. Coba dengarkan liriknya yang kocak tapi sarat makna.

Bosan gila di gereja
Suasana kurang oke rasanya
Untung saya masih coba-coba
Cari yang cocok dan nyaman tempatnya

Tadi khotbahnya kurang enak ditelinga
Butuh dihibur malah diajar menderita
Itu buat dia bukan buat saya
Kalau saya maunya yang berkat-berkat aja
 
Chorus 1
Buruan  cek gereja sebelah
Minggu depan siapa yang khotbah
Kalau lebih mantap mending kita pindah
Pelayanan gereja ini rada payah
 
Verse 2
Ini dia fenomena
Anak tuhan yang hobinya pindah gereja
Alasannya basi punya
Kurang cocok untuk bertumbuh katanya
 
Datang gereja hanya dengan mental meminta
Sensitif luar biasa dan gampang terluka
Gak ada yang oke dalam pandangannya
Pantaslah mulutnya gampang berkata
 
Bridge
Tapi memang gak ada gereja yang sempurna
Sini dan sana pasti banyaklah kurangnya
Masalah bukan gereja masalahnya anda
Yang hobi pindah gereja
Kampungan namanya
 
Chorus 2
Berhenti cek gereja sebelah
Apalagi tanya-tanya siapa yang khotbah
Mending tertanam daripada pindah
Kalau setia semuanya jadi indah
Gak usah cek gereja sebelah

Ngakak bukan? Sentilan sentilun itu sungguh membuat senyum dikulum. Seberapa banyak di antara kita yang ngejar hamba Tuhan tertentu agar bisa menikmati kotbah yang isinya berkat melulu. Ayo angkat tangan!

Apa  yang salah dari perilaku sebagian umat itu? Pertama, seperti tanaman, jika kita dipindahkan terus dari satu lahan ke lahan lain, dari satu pot ke pot lain, bukannya bertumbuh subur melainkan justru mati. Namun, tidak lucunya, alasan orang berpindah gereja karena merasa tidak bertumbuh di gereja lama dan tumbuh subur di gereja baru. Alasan klise yang ternyata basi bukan?

Kedua, alasan lainnya karena musiknya tidak enak, WL dan singers-nya fals dan sebagainya. Pertanyaan kritisnya, kita datang ke gereja untuk memuji dan menyembah Tuhan, sekaligus mendapat siraman rohani atau menyaksikan konser musik saja?

Ketiga, ruangannya panas. Saya setuju jika gereja dipasang AC, apalagi kita tinggal di iklim tropis. Tapi ada gereja yang memberi pengumuman begini: “Di gereja kami AC-nya dingin.” Sungguh menggelikan. Ibadah yang diurapi Tuhan berganti menjadi café untuk kenikmatan sendiri.

Keempat, kita cek ke gereja sebelah untuk membandingkan mana yang lebih nyaman menurutnya dan bukan mana yang lebih berkenan di hadapan Tuhan. Jika kita berpindah-pindah, maka kita menyenangkan diri sendiri dan tidak membuat Tuhan berkenan.

Kelima, ini yang blunder abis. Kita mencari gereja yang sempurna. Pertanyaan paling mendasar, apakah kita sempurna. Kita justru datang ke gereja untuk disempurnakan terus-menerus agar seperti Kristus. Ini butuh perjuangan seumur hidup, bukan pindah gereja setiap minggu. Tanpa kita sadari, jika kita menemukan gereja yang sempurna sekalipun—meskipun ini mustahil—gereja tersebut langsung tidak sempurna begitu kita masuk di dalamnya. Kita yang membuat gereja itu makin tidak sempurna.

Nah, ketimbang cek gereja sebelah, mengapa tidak mengecek hati kita yang terdalam. Sebenarnya, kita beribadah itu untuk apa? Memuaskan diri kita sendiri atau ingin berubah sesuai kebenaran Kristus?