ANJING ATAU ANAK ANDA?

~ 127 Views

“Ma, mengapa Mama tidak menitipkan arloji dan perhiasan Mama kepada Mbak Siti?” tanya seorang anak kepada ibunya.

“Soalnya harga arloji dan perhiasan itu itu ratusan juta, Nak. Masa Mama titipkan pembantu?”

“Kalau harga Adik berapa ya Ma?”

“Mengapa engkau tanya begitu?”

“Karena Mama selalu menitipkan Adik ke pembantu saat Mama pergi ke mana pun!”

Saat percaya, pertanyaan si kecil kepada ibunya ini bukan hanya menempelak ibu itu, tetapi juga menusuk hati nuraninya yang paling dalam.

Saat berangkat ke kantor, fenomena ortu yang lebih sayang binatang, bahkan barang ketimbang buah hatinya sendiri, terjadi di mana-mana. Associated Press melansir berita Pasutri di AS yang melakukan tindakan tercela ini. Saat bermobil dari Tempe menuju Casper di Wyoming, Michael Fee, 62, sang kepala keluarga, tega menaruh dua bocah berusia 6 dan 10 tahun di bagasi mobilnya. Dia dan istrinya, Amber Freudenstein, 31, duduk di depan dan bangku belakang diisi dua anjing german shepherds. Mereka menempuh perjalanan panjang sejauh 1.448 kilometer. “Saya berusaha membuat segalanya aman. Tidak ada niat buruk,” ujar Fee saat diinterogasi polisi.

Saya tidak tahu respons polisi. Kalau di sini, bisa saja orang di jalan yang emosi berkata, “Bapak memang genderuwo!”

Julukan yang tepat bagi istrinya? Apalagi kalau bukan kuntilanak! Mana ada seorang ibu tega membiarkan anak-anaknya disimpan di bagasi sedangkan anjing peliharaan malah duduk nyaman di kursi belakang.

Dari fenomena di atas, apa yang bisa kita pelajari?

1. Relasi sudah mengalami distorsi

Banyak orang—seperti pasutri di AS di atas—mengalami disorientasi relasi. Mana ada manusia waras yang lebih mengasihi binatang ketimbang manusia, meskipun untuk beberapa kasus ada manusia yang punya perilaku seperti bintang sementara bintang memiliki sikap yang lebih manusiawi. Kesetiaan anjing Hachiko yang begitu setia menunggui majikannya yang telah tiada di Stasiun Sibuya, Jepang.

Ada pecinta Herder yang melarang istrinya memberi makan telur yang sudah pecah ke anjingnya. “Kasihkan orang belakang saja,” ujarnya pendek. Siapa yang dia maksud ‘orang belakang’? Ternyata ART. Miris, bukan?

2. Salah menempatkan prioritas

Jika kita merasa anak kita lebih berharga ketimbang arloji atau perhiasan, mengapa kita menyimpan barang berharga kita di lemari besi atau bahkan safe deposit box di bank, sementara anak-anak kita titipkan ke suster atau pembantu?

Ketika anak-anak kami masih kecil, saya dan istri memang memakai jasa babysitter dan PRT, namun di rumah ada keluarga yang bisa kami titipi untuk mengawasi rumah dan si kecil. Yang lebih penting lagi, setiap malam, anak-anak kami yang masih kecil itu tidur bersama kami. Bukan di kamar sendiri dengan babysitter.

3. Cara kita menghabiskan waktu menunjukkan kualitas kasih kita

Saat mengajar kelas Success Motivation Institute—program pembelajaran manajemen dan sumber daya manusia dari AS—saya meminta murid atau mahasiswa membuat Wheel of Life mereka sendiri. Dari cara mereka membuat roda kehidupan mereka saya tahu mana yang paling utama dalam hidup mereka.

Jangan lupakan apa yang Stephen R. Covey katakan, “The main thing is to keep the main thing the main thing.” Dengan kata lain, “Put First Things First.” Jika kita menempatkan yang utama di tempat yang utama, maka yang kurang utama dan remeh temeh akan menempati sisanya. Bukan sebaliknya.

Masa menempatkan yang utama justru di bagasi? Yang bener aja!