5 PERILAKU CRAZY RICH INDONESIA INI BIKIN MULUT KITA TERNGANGA

~ 618

NOMOR MANA YANG PERNAH ANDA JUMPAI?

Film Crazy Rich Asians sedang jadi perbincangan, khususnya bagi orang yang doyan nonton. Sepasang suami istri asal Singapura mengajak saya menontonnya. Apa yang saya saksikan itu benar-benar mencerminkan orang-orang superkaya yang bisa dianggap orang kaya yang gila karena menghamburkan uang tanpa berpikir panjang dan mereka benar-benar ada di sekitar kita, bahkan di Indonesia. Tidak lama setelah film itu tayang, ungkapan Crazy Rich Surabayans menjadi trending topic di medsos.

Sebagai pembicara publik saya punya kesempatan untuk bertemu dan mengenal berbagai kalangan baik menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Bertengger di puncak piramida adalah segelintir orang yang menikmat kue ekonomi terbesar di tengah ratusan juta orang. Saya mengenal sebagian dari mereka yang menurut istilah yang lagi ngehits masuk dalam crazy rich di tanah air. Dari interaksi bertahun-tahun dengan mereka saya mengamati 5 perilaku mereka yang oleh orang kebanyakan, termasuk saya, bisa membuat kita geleng-geleng kepala dengan mulut ternganga.

Di antara 5 perilaku para crazy rich ini, mana yang pernah Anda jumpai?

I. Membuat uang tidak ada serinya

Bagi dia, uang ngak ada serinya! Pernah dengar ungkapan itu? Julukan itu ditujukan kepada orang yang benar-benar mengalami financial freedom sehingga bukan uang yang menjadi ukuran untuk segala sesuatu yang dia lakukan.

Di dalam perjalanan tur ke luar negeri, tentu ada makanan paket yang kita terima. Kita tidak bisa apa-apa saat dibawa ke sebuah restoran. Suka tidak suka, biasanya kita terima saja. Mengapa? Karena toh kita sudah bayar. Namun, di kalangan crazy rich, makan makanan paket bukan suatu keharusan.

Suatu kali, karena tidak suka dengan restoran yang dituju, seorang konglomerat mengajak sebagian peserta untuk makan di tempat lain. Tour leader sudah mengingatkan agar peserta tidak berpencar. Alasannya masuk akal karena jadwal itinerary yang padat.

Apa yang dikhawatirkan terjadi. Rombongan eksklusif yang makan di tempat terpisah itu tertinggal pesawat karena tidak bisa berada di bus yang sama dengan rombongan besar lainnya. Saat sebagian peserta panik, konglomerat itu tetap santai.

Dia menelepon seseorang dan berkata, Tenang, kita susul mereka dengan pesawat carter. Begitu santai, begitu simple. Uang tidak masalah.

Ah aturable, ujar seorang sahabat saya yang menggabungkan istilah bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia.

II. Membuang barang tanpa berpikir panjang

Hai Pak Xavier. Apa kabar? Ini Angel, masih ingat nggak? Begitu pesan masuk di WA saya. Rasanya sudah bertahun-tahun saya tidak kontak dengan Angel. Saya rasa kontaknya pun sudah hilang di handphone saya.

Saat saya tanyakan mengapa baru bisa berkabar, dengan enteng Angel menjawab, Semua handphone saya saya buang ke sungai!

Hah? Apa nggak salah dengar? Ternyata dia benar-benar membuang handphone-nya begitu saja lengkap dengan SIM card-nya. Ketika saya urus ke provider-nya, nomor Pak Xavier masih ada, ujarnya ringan.

Barulah saat kami bertemu di sebuah kafe di hotel berbintang, dia menceritakan semuanya. Angel tidak ingin bergaul kembali dengan teman-temannya yang membuatnya tidak bisa lepas dari pergaulan buruknya. Sayup-sayup pesan St. Paul bergema di kepala saya, Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Rupanya Angel mengerti kebenaran ini.

Sekarang saya bisa fokus untuk mengurus diri sendiri dan makin dekat dengan Tuhan, ujarnya dengan wajah bersih seperti malaikat.

III. Pergi ke mana saja tanpa membawa apa-apa

Seorang sahabat saya, Vela, bisa pergi ke mana saja tanpa membawa apa-apa.

Saya mau jalan-jalan ke China. Pak Xavier mau ikut? tanya gadis lajang ini santai. Sesantai kuncir rambutnya yang ditiup angin lembut dari AC di belakangnya.

Kapan? tanya saya basa-basi karena jelas saya tidak bisa ikut.

Besok, ujarnya tanpa rasa bersalah karena menawari saat on due time alias mepet.

Baginya, berangkat kapan pun tinggal go. Saya belum beres-beres juga, kok. Paling bawa satu tas kecil sudah, ujarnya.

Vela punya kebiasan yang membuat saya geleng-geleng kepala. Jika sedang jenuh dan ingin pergi, dia bisa cabut begitu saja tanpa berpikir panjang. Itulah the power of credit cards. Di moneyless era ini, dia benar-benar mengandalkan kartu-kartu plastik untuk membayar semua urusannya. Hotel tinggal bayar. Baju tinggal beli. Apalagi di Tiongkok budaya cashless sudah begitu biasa.

Saat pulang ke Indonesia, koper saya malah beranak, ujarnya ngakak.

IV. Membeli barang tanpa berpikir ulang

Pak Xavier jadi ke kota X? tanya seorang wanita pengusaha kepada saya. Kota X yang dimaksudkan terletak di Amerika.

Jadi, Bu, ujar saya.

Tinggal di mana?

Disediakan sama yang mengundang, jawab saya.

Kalau mau saya pinjami apartemen saya saja, ujarnya serius. Nanti saya suruh sopir untuk mengantarkan kuncinya.

Saat saya tanya unit aparteman yang dia miliki, ternyata sebuah penthouse di salah satu aparteman termewah di kota itu.

Pada suatu malam, saya sedang dijamu fine dining oleh seorang pengusaha di Jakarta. Kami mengobrol ke sana kemari karena sudah lama tidak bertemu. Ketika membicarakan tentang sebuah negara, tiba-tiba pengusaha di bidang properti ini bertanya, Pak Xavier masih sering ke sana?

Tidak, jawab saya.

Next time kalau ke sana lagi, tinggal saja di apartemen saya, ujarnya.

Karena saya tahu dia senang mengoleksi apartemen dan rumah mewah di luar negeri, saya bertanya, Ada berapa unit yang Bapak beli?

Satu tower, jawabnya tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Bagi sebagian besar orang di tanah air yang harus berpikir panjang dan berulang-ulang serta menghitung uang untuk bahkan mencicil satu unit apartemen ukuran kecil saja, pernyataannya itu terasa meledak di telinga.

Pada kesempatan lain, seorang ibu menghubungi saya. Tolong doakan, Pak Xavier. Suami sedang negosiasi untuk membeli sebuah rumah di Amerika, begitu pesannya. Saat saya tanya lebih lanjut tentang lokasinya, saya terpana. Wilayah itu dihuni oleh super rich Amerika.

Untuk investasi, Pak Xavier, ujarnya tanpa ada nada kesombongan sama sekali.

V. Mengejar kesembuhan dan merawat kecantikan tanpa berpikir anggaran

Seorang bapak sedang sakit di sebuah rumah sakit di luar negeri. Setelah diperiksa, dokter berkata, Tolong diusahakan agar besok bisa dibawa ke Singapura. Peralatan mereka lebih lengkap daripada yang di sini.

Mengapa tidak malam ini juga, Dok? ujar adiknya.

Tidak ada penerbangan malam ini, sahut dokternya.

Ah, tidak masalah, Dok. Saya bisa mengusahakannya, jawab pengusaha di bidang kimia itu lagi.

Tanpa menunggu hari esok, pasien itu diterbangkan malam itu juga. Kok bisa? Bisa saja. Dia punya pesawat jet pribadi. Kalaupun tidak, biaya carter pesawat tidak jadi masalah baginya.

Suatu siang, seorang sahabat mengajak saya makan siang. Ketika menjemput saya di kantor, saya kaget melihat wajahnya. Wah, lama nggak ketemu kok usiamu tidak bertambah?

Proses penuaian dini kan bisa disiasati? ujar ibu itu yang usianya jauh di atas penampilannya. Saya tidak menemukan satu kerut pun di wajahnya yang secara alami seharusnya sudah timbul kerutan.

Dari omong-omong dengan sahabat saya itu, saya baru tahu bahwa biaya perawatan yang dia keluarkan mencapai puluhan sampai ratusan juta per bulan. Baginya, terbang first class ke negara tertentu untuk meremajakan dan melembutkan kulit seperti saya jalan-jalan ke mal saja. Begitu gampang. Begitu mudah.

Apa tidak sayang membuang uang sebanyak itu?

Bukan membuang, melainkan menginvestasikan uang ke tubuh saya, ujarnya sambil tergelak.

Kemerdekaan finansial yang sebenarnya

Saat menyaksikan bagaimana para crazy rich ini menghabiskan atau menghamburkan uangnya dengan begitu mudah, timbul satu pertanyaan, apakah mereka benar-benar mengalami financial freedom? Belum tentu. Bagi saya, the real financial freedom adalah seperti kisah yang pernah saya baca.

Seorang rohaniwan sedang berpergian dengan seorang pengusaha. Saat makan siang, rohaniwan itu membuka bekal makannya yang sederhana. Tanpa sadar, sebuah permata besar jatuh. Usahawan itu kaget. Rohaniwan berpakaian sederhana itu ternyata memiliki permata yang harganya selangit.

Guru. Boleh tidak saya minta permata itu? tanyanya.

Tanpa berpikir panjang, rohaniwan itu menyerahkan permata yang sangat berharga itu begitu saja. Dengan gembira, usahawan itu pergi sambil berpikir betapa bodohnya rohaniwan itu.

Berbulan-bulan kemudian, dia kembali mencari rohaniwan itu. Lho, kok kembali? tanya rohaniwan itu.

Sejak menerima permata ini saya tidak bisa tidur. Guru kok begitu gampang menyerahkan pertama yang sangat mahal itu kepada saya, jawab usahawan itu. Ini saya kembalikan permata milik guru. Saya mau meminta yang lebih berharga dari pertama ini.

Apa yang kauminta?

Hati yang begitu ikhlas sehingga tidak terikat oleh apa pun di dunia ini!

Harta yang terbesar ada di hati yang tidak terikat oleh apa pun! Click To Tweet
%d bloggers like this: