AGAR TIDAK SALAH PILIH PASANGAN HIDUP

~ 758jp 720 pvc 404 GA 758

“Apakah saya picky?” Pertanyaan itu bisa ditanyakan kepada konselor spesialisasi hubungan. Bisa juga ditanyakan kepada diri sendiri. Pertanyaan yang seperti itu jugalah yang ditanyakan kepada saya oleh seorang pemuda kepada saya di sebuah café di suatu malam yang panas. Pertanyaan yang sama juga dilontarkan oleh seorang gadis yang usianya sudah melampaui kepala tiga saat saya selesai mengajar di sebuah kampus. Dalam banyak kasus, pertanyaan itu sebenarnya lebih ke retorika ketimbang pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Toh di dalam hati kecilnya, mereka merasa bahwa mereka memang TERLALU pemilih.

Mengapa kata ‘terlalu’ saya pakai huruf besar semua? Karena memilih itu harus, tetapi kalau terlalu—bahkan keterlaluan—memilih, hasilnya tidak baik. Orang Jawa bilang, “Pilih-pilih tebu oleh bongkrek!”

“Setelah sekian lama gagal menjalin hubungan yang serius dengan seorang gadis,” ujar seorang pemuda sambil menyesap kopi expresso-nya, “saya mengambil kesimpulan bahwa kesalahan ada di pihak saya. Saya terlalu picky!”

Pertanyaan penting yang perlu dijawab oleh orang yang sedang memburu cinta, “Apakah pendulum saya mengayun terlalu kiri sehingga saya gampang cari pacar tetapi juga begitu lancar dan gencar berkata ‘Bubar’?” Sebaliknya, “Apakah pendulum saya mengayun terlalu ke kanan sehingga saya sulit sekali mendapat pasangan karena saya memasang harga terlalu tinggi?”

Dari pengalaman mendengarkan banyak orang curhat kepada saya—istilah kerennya konseling—bertahun-tahun, ada rambu-rambu yang perlu kita patuhi agar kita tidak salah memilih pasangan.

No body’s perfect

Itulah salah satu judul buku saya. Saat seminar tentang Love, Sex and Dating, saya sering guyon begini: “No body’s perfect. I’m nobody. That’s why I’m perfect!” Wkwkwk. Tanpa sadar kita merasa diri kita sendiri ‘sempurna’ sehingga mencari pasangan yang ‘sempurna’. Tipe orang semacam ini mengingatkan saya akan kisah mal yang menyediakan ‘cowok idaman’.

Begitu membaca tulisan semacam itu, seorang cewek langsung masuk ke mal yang khusus menyediakan cowok berbagai jenis dan tipe. Di lantai satu gadis itu disambut dengan sederetan pria yang tampan. Begitu bingung dia memilih sampai dia melihat tulisan menuju ke lantai dua dengan tulisan mencolok ‘Ada yang lebih baik!”

Segera saja dia naik satu lantai lagi. Cewek itu senang bukan main karena di sini cowoknya bukan hanya ganteng, tetapi juga ramah. Saat sudah hendak menjatuhkan pilihan, ada tulisan lagi ‘Ada yang lebih baik’ dengan anak panah menuju ke lantai tiga.

Tanpa berpikir panjang dia segera naik ke lantai tiga. Matanya melotot, mulutnya melongo. Di sini cowoknya bukan hanya tampan dan ramah, tetapi juga romantis. Co cuit! Begitu melihat cowok yang unyu-unyu dia segera saja ingin menggandeng satu, tetapi matanya sekali lagi melihat tanda panah ke atas dengan tulisan ‘Ada yang lebih baik’.

Sekali lagi, cewek itu naik ke lantai empat. Di sini dia betul-betul termehek-mehek karena cowoknya di samping tampan, ramah dan romantis namun juga kaya dan perlente. Justru karena semua chick and charm, dia butuh waktu yang lama sekali berada di lantai ini. Tanpa sadar matanya terbiasa mencari tanda panah ke atas dan…sekali lagi dia menemukan tanda panah dengan tulisan ‘Ada yang lebih baik.’

Dengan berlari-lari kecil, bahkan melompati dua tangga sekaligus, dia sampai ke lantai atas dan berharap mendapatkan cowok yang sempurna. Namun, cewek ini begitu kaget karena ternyata ruangannya kosong dengan tulisan besar ‘Pintu keluar!’

Kisah imajinatif dan kreatif di atas membuat saya flash back. Setiap kali ke Fremantle, sebuah kota pantai kecil di Australia Barat, saya selalu mengunjungi sebuah pasar tradisionalnya. Selain menjual buah dan sayur segar, pasar ini memberi tempat bagi seniman lokal untuk unjuk kreasi. Saat ‘cuci mata’ di antara barang-barang antik dan menarik di sana, mata saya bersirobok dengan sebuah T.Shirt. Di dada ada gambar seorang wanita yang pakai gaun pengantin. Wajah wanita itu sudah menjadi tengkorak. Gaunnya dipenuhi sarang laba-laba. Ada tulisan mencolok berbunyi ‘Still Waiting For The Perfect Man!’ Sindiran yang begitu menohok!

Nah, lho, lalu apa yang perlu kita jadikan batu duga atau patokan untuk menemukan pasangan yang pas?

 

Mirror Mirror on the Wall

Mirror, mirror, on the wall, who’s the fairest of them all?” Begitu ucapan ratu jahat yang merasa dirinya paling cantik di dunia. Setiap kali ditanya begitu, cermin ajaib itu selalu menjawab bahwa ratu itulah yang tercantik. Namun, saat Putih Salju beranjak remaja, ternyata dialah yang lebih cantik.

Mencari pasangan hanya berdasarkan penampilan akan terus-menerus mencari yang lebih cantik, lebih tampan dan lebih lainnya. Sampai kapan. Sampai tak terbatas. “Setiap kali saya merasa cocok dengan seorang cewek, saya selalu kuatir ada yang lebih cantik lagi,” ujar seorang cowok picky kepada saya. “Saya bisa gila sendiri, Pak Xavier, kalau saya menuruti keinginan hati saya.”

“Apa saya sakit mental ya?”

“Menurut saya, engkau sakit pikiran. Bukan mental,” jawab saya tegas.

Meskipun penampilan itu penting, kepribadian jauh lebih penting. Salah satu cuitan saya di twitter berbunyi: “Pria seringkali mencintai wanita yang cantik, padahal wanita menjadi cantik justru ketika dia dicintai!”

How low can you go

Selain karakter, cara berkomunikasi juga menentukan apakah Anda mendapatkan pasangan yang pas atau buas. Jika cara bicara orang yang Anda kerja terus menerus bernada tinggi, jangan-jangan Anda ikut terkena tekanan darah tinggi karena kuatir dia berkata, “I fire you!” seperti ucapan seorang boss yang mengasuh acara The Apprentice. Seberapa rendah hati Anda untuk bisa menerima perlakukan seperti ini terus-menerus.

How low can you go? Do you really want to know? Sampai Anda merasa tidak bisa lebih direndahkan lagi!

How about spending pattern?

Siapa bilang uang tidak penting? Namun, jangan sampai Anda terjebak oleh yang satu ini. Dengan mengamati perilaku belanja dia, Anda bisa mengukur kantong Anda sendiri sambil berkata dalam hati, “Kira-kira saya sanggup nggak ya mengimbangi gaya belanjanya yang gila-gilaan?” Apakah kaki Anda sanggup menemaninya belanja seharian? Apakah dompet Anda cukup tebal? Jika tidak, lebih baik mundur.

Apa kata yang di atas?

Di atas semua itu, apakah Anda pernah bertanya kepada yang di atas tentang orang yang sedang Anda taksir? Ada dua. Pertama, ortu Anda. Meskipun kita hidup di era post modern, restu ortu tetap perlu. Bagaimanapun juga, apa enaknya sih ‘kawin lari’? Kawin jalan saja bisa lelah, apalagi lari he, he, he.

Di atas ortu masih ada lagi yaitu Bapa di surga. Di Buku Kehidupan tertulis: “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” Indonesia adalah negara yang sangat menunjung tinggi nilai-nilai agama. Perbedaan relijiusitas yang sangat jomplang bisa membawa kita masuk jurang. Jika seorang polisi menikah dengan seorang preman, bukankan mereka akan kejar-kejaran terus? Wkwkwk.

Seimbang di sini bukan hanya masalah kesalehan hidup, tetapi juga kesalahan gambar diri. Pria yang kurus tinggi bisa saja jatuh cinta sama wanita yang gemuk pendek for the sake of love. Benarkah? Saya setuju bahwa karakter lebih penting ketimbang penampilan. Isi lebih berharga ketimbang kemasan. Namun, pertanyaan ini perlu kita jawab: “Siapkah kita jika orang yang melihat kita berjalan bersama kemudian cekikikan sambil berbisik satu sama lain, ‘Kok kayak angka 10 ya?’” Jika siap, go ahead. Jika tidak, pertimbangkan kembali.

Tidak hanya anatomi, tingkat pendidikan dan kecerdasan juga bisa jadi bahan pertimbangan penting. Jika perbedaan kecerdasan sangat mencolok, secara chemistry bisa tidak menyatu. Bahasa gaulnya nggak nyambung.

Seimbang dalam ekonomi juga menjadi salah satu bahan pertimbangan. Saya tidak mengatakan bahwa orang kaya tidak boleh menikah dengan orang kurang mampu. Tidak sama sekali. Saya banyak menyaksikan pernikahan dengan perbedaan ekonomi mencolok, tetapi tetap bahagia. Namun, sekali lagi, siap tidak jika ada omongan miring di belakang kita? Dari sesi konseling, sering terjadi salah satu menjadi minder dan akhirnya hubungan jadi blunder.

“Hati-hati sebelum jatuh hati” dan “hati-hati menjaga hati” perlu kita masukkan ke dalam hati sebelum kita memutuskan untuk menambatkan hati.