5 KRITERIA UTAMA YANG HARUS ADA PADA PACAR ANDA SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK MENIKAH

~ 35 Viewsjp 866 pvc 724 GA 0 XQP 35 Views

Phillip Island. Malam hari. Saya sedang membaca satu demi satu lembar peserta “Young Professional Camp” yang berasal dari Melbourne dan New Zealand. Di sesi awal, saya meminta peserta untuk menuliskan “Kriteria Pasangan Hidupku”. Nah, berlembar-lembar kertas dari puluhan peserta itulah yang saya pelototi satu per satu dan … tiba-tiba mata saya terpaku pada tulisan seorang gadis. Di urutan pertama dia menulis: “Calon pasangan hidupku haruslah orang yang lebih mencintai Tuhan ketimbang diriku.”

Pernyataan iman yang berani dan tegas. Jujur. Saya salut. Meskipun belum menanyakan alasannya, lulusan salah satu kampus top di Melbourne ini berani mengutamakan Tuhan ketimbang pasangan. Karyawan di sebuah hotel bintang lima di wilayah Victoria ini, menurut saya, cerdas. Jika suaminya lebih mengasihi Tuhan ketimbang dirinya, dia tidak mungkin menelantarkan dan menyakitinya. Bukankah orang yang cinta Tuhan semestinya cinta sesama juga? Lebih-lebih isterinya sendiri!

Berikut lima kriteria yang seharusnya ada dalam ‘wishing lists’ setiap orang yang siap memasuki mahligai pernikahan:

I. Calon suami/isteriku orang yang rohani, bukan agamawi.

Full Heart

Ketika diminta bicara di Bandung, saat menemani saya makan malam, seorang panitia bertanya, “Kapan Pak Xavier full time?” Saya mengerti, maksudnya adalah menjadi rohaniwan sepenuh waktu. Dengan tersenyum saya menjawab, “Bagi saya full heart jauh lebih bermanfaat ketimbang full time!”

Apa gunanya kita memakai tanda-tanda agama secara mencolok tetapi perilaku kita jauh panggang dari api? Saya pernah tertawa geli saat melihat sebuah mobil dikendarai secara ngawur namun di kaca belakangnya ada stiker berbunyi, “Tuhan ada di mobil ini!”

II. Calon mempelaiku mau menerima aku apa adanya meskipun nanti aku bertambah tua.

Sampai Tua Tetap Cinta

Dalam perjalanan darat dari Canberra ke Sydney, matahari musim semi mulai undur. Meskipun begitu, sinar mentari yang lembut itu masih bisa menerobos kaca mobil dan menyentuh lembut wajah isteri saya yang pulas di samping saya. Sambil memandang wajah yang tidak lagi muda itu, saya berkata dalam hati, “Terima kasih, San, karena telah menjadi pendampingku yang setia selama bertahun-tahun.”

Wajah boleh renta, namun kasih jangan ikut reyot. Rasanya baru kemarin saya duduk di sofa pelaminan dengannya. Daun kalender berguguran seakan menghantar musim gugur yang sebentar lagi mampir di benua kanguru ini. Sang Khalik pernah berkata, “Kasih tak berkesudahan.”

III. Calon pendampingku orang yang bukan hanya menerimaku, namun keluargaku juga.

Pernikahan bukan hanya ‘mempertemukan’ dan ‘mempersatukan’ dua insan yang saling jatuh cinta, tetapi juga dua keluarga. Saya sering menemui isteri yang tidak bisa menerima ibu mertuanya. Mereka tidak bisa mengasihi ibu mertuanya seperti mengasihi ibu kandungnya sendiri. Itulah sebabnya dalam berbagai seminar keluarga, saya selalu tekankan kalimat ini, “Saya lebih suka menggunakan istilah ‘mother in love’ ketimbang ‘mother in law’.

Secara bergurau, saya pancing peserta dengan pertanyaan, “Siapa isteri paling berbahagia di dunia?” Ketika melihat wajah-wajah kebingungan—khususnya dari para isteri—saya jawab sendiri pertanyaan itu dengan, “Hawa… karena tidak punya mertua!” Wkwkwk.

IV. Calon belahan jiwaku harus lebih mengasihiku ketimbang anak-anakku.

Ketika berbicara di acara keluarga muda di Sydney, seorang bapak yang baru dikaruniai seorang anak bertanya kepada saya, “Kak Xavier—sapaan yang membuat saya lebih muda he, he, he—siapa yang lebih Kakak kangeni, isteri atau anak?”

“Tentu saja anak.”

Jawaban saya itu membuat keningnya berkernyit dan matanya menyala dengan lampu keingintahuan. “Sebab anak adalah anak saya sedangkan isteri adalah anak orang lain.” Guyonan saya itu disambut dengan tawa terbahak-bahak.

Pernyataan ini memang menimbulkan kontroversi. Jujur saja, saya pribadi lebih senang untuk mengasihi KEDUANYA—yaitu isteri dan anak-anak. Namun, jika harus memilih satu di antara dua, kita seharusnya memilih pasangan kita. Mengapa? Karena kita sudah dipersatukan menjadi satu daging. Orang Jawa dengan sangat arif berkata, “Garwa” alias “Sigarane nyawa” atau “Belahan jiwa.”

V. Calon pendampingku seumur hidup harus lebih mengutamakan keluarga ketimbang kerja, apalagi hobi.

Seorang isteri konseling kepada saya. Sudah bertahun-tahun menikah tetapi mereka tidak dikaruniai anak. “Bagaimana kami bisa punya anak jika kami hampir tidak pernah kumpul,” ujarnya dengan mata membasah. “Suamiku gila kerja. Dia lebih betah duduk di depan laptop-nya ketimbang menemaniku tidur. Aku selalu frustrasi sampai ketiduran menunggunya. Saat bangun pagi, dia masih ngorok di sampingku karena bekerja sampai menjelang dini hari,” sambungnya.

Atas seizinnya, saya panggil suaminya. Dia seorang computer programmer. Dia mengakui dirinya sebagai seorang workaholic. “Kalau sudah mengutak-atik program, saya bisa lupa segalanya, Pak Xavier,” ujarnya jujur.

Setelah saya nasihati, tidak lama kemudian, isterinya hamil dan di susul oleh kehamilan berikutnya.

Hobi? Boleh. Ninggalin isteri karena hobi? No Way!

Bukan hanya pekerjaan. Hobi pun bisa menjauhkan kita dari pasangan hidup kita. Ketimbang alergi dengan hobi pasangan, alangkah indahnya jika mencoba untuk memahami hobi masing-masing dan tetap saling mengasihi. Isteri saya, sangat memahami hobi saya. Ketika meminta saya menemaninya untuk urusan yang menyita cukup banyak waktu: ke dokter gigi. Isteri saya sering bertanya, “Sudah membawa buku?” Wkwkwk.