3S Penyelamat Pernikahan

3 S PENYELAMAT PERNIKAHAN

~ 29

“Pak Xavier, saya mau diceraikan suami,” ujar ibu di seberang sana sambil menangis sehingga suaranya tidak jelas, padahal dia tidak memakai WA call. Setelah saya tenangkan, barulah dia bisa menceritakan prahara yang melanda rumah tangga yang dibina sekian lama.

Dari berbagai curhat—istilah kerennya konseling—saya mendapati bahwa 3 tindakan elegan inilah yang menyelamatkan kita dari kehancuran pernikahan. Lewat persetujuan mereka, tentunya dengan mengaburkan identitas, dan tujuannya bukan untuk membongkar aib, melainkan sebagai pembelajaran yang berharga, saya mendapati 3 tindakan elegan inilah yang menyelamatkan kita dari kehancuran pernikahan.

Seks

Hubungan Suami Istri
Salah satu penyebab utama kehancuran rumah tangga adalah tidak terpenuhinya kebutuhan yang satu ini. Banyak suami yang mengeluh istrinya tidak lagi mau melayaninya di ranjang. Alasannya berbagai macam mulai dari kelelahan sampai ‘aku sudah malas melakukannya’.

Suami yang bijak memang tidak langsung melabrak, tetapi belajar memahami istrinya. Istri yang bekerja di kantor biasanya energinya sudah terkuras habis. Apalagi jika tidak ada PRT. Di rumah pun, saat sang suami bisa mengutak-atik gadget, mendengarkan musik sambil menyesap kopi atau menonton televisi sambil ngemil, istrinya pontang panting ke sana kemari membereskan rumah dan mempersiapkan makan malam bagi seisi keluarga. Pemeran Wonder Woman pun—Gal Gadot—mengakui bahwa untuk menjadi Wanita Super di rumah adalah pekerjaan yang mustahil.

Meskipun begitu memang ada para istri yang karena alasan ‘tidak mood’, enggan melayani suaminya. “Dia kasar, Pak Xavier, sehingga saya malas melayaninya di malam hari,” ujar seorang ibu anak tunggal.

Memang ada suami yang tahan bertarak bertahun-tahun, tetapi benarkah dia sekuat itu atau dia terpaksa bertarak karena tidak mendapatkan pelayanan? Atau—yang lebih gawat—menyalurkannya ke tempat lain tanpa sepengetahuan istrinya?

Saat data dan fakta ini saya beberkan, banyak wanita yang mencoba mengubah dirinya sendiri sebelum mengubah suaminya. “Saat saya melayaninya dengan sepenuh hati, suami saya berubah drastis. Dia sekarang berinisiatif untuk menyenangkan saya di banyak bidang kehidupan. Kami seperti berbulan madu kembali, Pak Xavier,” ujarnya dengan wajah memerah dadu.

Sahabat

“Setiap kali saya pulang ke rumah, isteri saya tidak ada di rumah,” ujar seorang pengusaha muda.

“Ke mana?”

“Ke mana lagi kalau tidak klayapan ke mal,” jawab suaminya dengan nada jengkel.

Selain seks, suami membutuhkan seorang sahabat di rumah. Isteri yang baik adalah sahabat yang baik. Suatu pagi saya bersama seorang sahabat berlatih di driving range. Usai memukul puluhan bola, kami istirahat dan duduk di sebuah taman yang rindang. Di atas meja sudah tersedia tiga minuman dingin. Yang satu sudah diminum separuh. Yang dua masih penuh.

istri-sahabat-suami

“Silakan diminum, Pak Xavier,” ujar isteri sahabat saya itu ramah.

Ketika suaminya pamit ke toilet, saya tanya isterinya, “Ibu suka golf?”

“Sama sekali tidak. Saya sering geli sendiri, memangnya kurang kerjaan memukuli bola kecil ke mana-mana,” ujarnya sambil menutup mulutnya dengan buku sambil menahan tawa.

“Lha, kok ibu ada di sini menemani kami?” kejar saya.

“Karena saya mencintai suami saya!”

Aha! Inilah kuncinya mengapa rumah tangga mereka tampak begitu berbahagia. Meskipun tidak menyukai golf, namun isteri sahabat saya ini mencintai suaminya sehingga bersedia mendampinginya bermain golf.

Saya jadi teringat isteri saya. Meskipun dia tidak suka membaca, setiap kali kami keluar negeri, dia justru menawari saya untuk mampir ke toko buku. Apalagi kalau saya berjalannya lebih lambat karena melihat buku-buku baru yang dipajang di depan toko. Dia bahkan membelikan buku-buku bertema SDM yang saya koleksi. Meskipun tidak pernah dia ungkapkan, dia bersedia ke toko buku atau perpustakaan, bahkan membelikan saya buku karena dia mencintai saya.

Sanjungan


Suatu kali saya diminta menerjemahkan pasutri yang sama-sama bicara di panggung dalam sebuah seminar keluarga. Sambil mengalihbahasakan materi yang mereka sampaikan, saya melihat cara komunikasi dan bahasa tubuh mereka. Saya sungguh terkesan.

Ketika sang suami bicara, sang istri begitu supportive! Dia bukan hanya menganggukkan kepala dan gerakan ekspresif lain yang menunjukkan kekagumannya, ada sinar cinta yang keluar dari mata birunya.

Saat giliran sang isteri yang bicara, berkali-kali dia mengucapkan kata-kata sanjungan dan pujian bagi suami. Dengan senyum bangga yang tidak bisa ditutup-tutupi, suaminya tersenyum bahagia.

Setiap orang senang pujian yang tulus, bukan jilatan. Apalagi kalau itu datang dari orang yang paling dekat dengan kita. Suatu kali saya memimpin pernikahan di salah satu spot romantis di Bali. Selesai pemberkatan, kami menghadiri resepsinya. Saya lupa waktu itu sedang membicarakan masalah apa, tetapi tiba-tiba isteri saya berkata, “Pa, tadi seorang ibu yang hadir berkata bahwa kotbah papa baik.”

Jika saya pakai helm saat itu, helm-nya pasti tiba-tiba terasa sesak.
Sanjungan

Hai para isteri, cobalah memenuhi 3S di atas, dan lihatlah hasilnya? Cepat atau lambat, suami Anda akan berubah ke arah yang lebih baik. Demikian juga sebaliknya.

“There is no greater risk than matrimony. But there is nothing happier than a happy marriage.”
~ Benjamin Disraeli