3 HAL INI YANG DIBENCI SUAMI DAN ANAK TAPI TAK DISADARI ISTRI

~ 158jp 1 pvc 158 GA 0

HAI PARA ISTRI MANA YANG SERING ANDA LAKUKAN?

“You know, all that matters in the people you love are happy and healthy. Everything else is just sprinkles on sundae.”
~ Paul Walker ~

Senin pagi. Seperti biasa saya mencuci dan menjemur pakaian. Sejak asisten rumah tangga pulang kampung dan menikah, kami memang memutuskan untuk mandiri. Toh anak-anak sudah besar. Saat menjemur pakaian saya mendengar istri saya mengomeli pekerjaan si bungsu yang sedang menyapu. Saya tersenyum maklum. Anak sulung saya juga pernah diomeli. Saya juga.

Apa istri saya salah? Kalau dari sudut pandang kami suami dan anak-anak—yang semua laki-laki—jawabannya, ‘Ya’, namun dari sudut pandang istri apa yang dilakukan wajar karena merasa pekerjaan kami tidak sesuai dengan harapannya. Hal-hal kecil semacam ini, jika dibiarkan, bisa menjadi pertengkaran. Nah, ini yang dibenci anak dan suami tapi tak disadari istri.

Diomeli meski sudah berkontribusi

Bukan hanya anak bungsu kami yang pernah diomeli mamanya, saya pun sering mengalaminya. Saat mencuci pakaian, misalnya, saya memasukkan begitu saja semua pakaian ke dalam mesin cuci. “Jangan dicampur begitu. Nanti ada yang kelunturan”; “Membilasnya bukan begitu, nanti pakaian yang lembut jadi cepat rusak”, “Celana jeans jangan dicampur sama handuk. Nanti bulu-bulu handuk melekat di celana dan susah bersihinnya!”

Kalau sudah mendengar begitu, rasanya pengin pergi meninggalkan cucian dan ganti nonton televisi atau menyambar iPad saya untuk baca berita online. Wakakak.

Kami, para laki-laki, merasa bahwa kami sudah berkontribusi, kok diomeli? Kami tidak alergi terhadap masukan, tapi dengan cara yang elegan. Wkwkwk. Laki-laki punya gengsi. Jika terus diomeli, kami merasa tidak dihargai. Oke, cara kami mungkin salah di mata istri dan mama, tapi please jangan begitu cara mengoreksi. Tunjukkan caranya sekali. Kami akan catat di memori.

Ini Hobi kami jangan dibenci

“Main sepak bola? Apa tidak mengganggu kelas lain?” protes istri saya saat anak bungsu saya membawa bola sepaknya ke sekolah. Karena kami sedang sarapan berdua, saya menurunkan sendok saya dan berkata pelan, “Biarkan anak kita bermain bola daripada main games.” Dulu istri saya sempat gemes ketika melihat saya memborong banyak buku. Namun, dasar kutu buku, saya tidak pernah menggubris omelannya. Setelah kebiasaan saya membaca buku menghasilkan banyak buku yang lain, belahan jiwa saya ini memahami bahwa seorang penulis butuh ‘makanan’ untuk mengenyangkan ‘leher ke atas’. Kini, istri saya tidak pernah mengomel saat saya maupun anak bungsu saya—yang sama-sama gila baca—membeli banyak buku. Terkadang malah dia yang membelikan saya buku he, he, he.

Baca Juga : Menghasilkan Uang dari Hobi? Bisa, Asal Tahu Caranya. Mengubah Hobi Menjadi Hoki, Ini Strateginya

Kami memang tidak terlalu rapi, tapi tolong jangan dihakimi

Saat pacaran dulu, saya masih tinggal di kost dekat tempat kerja saya. Ketika pacar saya datang ke kost, dia gregetan melihat kamar saya berantakan. Saat ada keperluan, saya tinggal sebentar. Waktu kembali ke kost, saya kaget plus senang karena kamar saya jadi rapi sekali. Namun tidak tahan lama. Beberapa saat kemudian, kamar saya kembali seperti kapal pecah. Buku menyebar di mana-mana, termasuk di atas komputer.

Cara saya berpakaian pun tidak terlalu rapi. Kadang saya ingin kemeja tidak saya masukkan ke celana. Istri selalu mengingatkan saya untuk terus-menerus tampil rapi. Suatu hari, saya berangkat kerja dengan rambut yang—menurutnya—awut-awutan, padahal, menurut saya berantakan wkwkwk. Saat diingatkan untuk bersisir, saya jawab santai, “Wong sudah laku saja!”

Kedua anak saya—karena cowok semua—sama tidak rapinya dengan saya. Suatu hari kami mengunjunginya di kamar apartemennya di Melbourne. Begitu masuk kamar, istri saya keluar sambil berkata, “Coba lihat, Pa, selimut yang saya bawain dari Indo tampaknya nggak pernah dicuci.” Saya menyembunyikan senyum saya agar tidak ikut-ikutan didamprat!Hai mama dan istri, tolong jangan hakimi dari penampilan kami. Hati kami tidak sesemrawut penampilan kami. (#membeladiri.com).

Ini Harapan Kami

Di suatu hari libur, seorang sahabat mengajak saya main golf. Kami pemanasan lebih dulu di driving range. Sambil memukul bola kami mengobrol ke sana kemari sehingga waktu berjam-jam terlewatkan dengan asyik. Begitu selesai, saya kaget karena istri teman saya justru menyambut kami dengan senyuman. Tidak ada omelan, apalagi makian. Dia bahkan menyodorkan minuman dingin. Wuih.

Apa dia suka golf? Tampaknya tidak. Lalu? Prinsipnya, jika dia mencintai suaminya, dia juga belajar untuk memahami hobi suaminya.Para istri dan mama, hanya itu yang kami inginkan. Kami ingin dipahami dan ditemani. Percaya. Kami akan melakukan yang sebaliknya, bahkan lebih lagi.

Baca Juga : Menjadi Istri Kesayangan dan Kebanggaan Suami, Ini 4 Rahasianya

“Jika engkau ingin diperlakukan sebagai ratu dalam keluarga, perlakukan suamimu sebagai raja.”
~ NN ~