My Octopus Teacher: Film Menyentuh yang Membuat Hidup Layak Diperjuangkan

~ 141 Views

Aneh dengan judul di atas? Ya! Justru keanehan itulah yang memaksa jari saya menekan tombol dan mulai memutar film yang memungkasi tahun 2020 lalu. Saya tidak menyesal! Mata dan HATI saya tidak pernah lepas dari layar. Film dokumenter yang di-diret oleh Pippa Ehrlich dan James Reed ini bercerita mengenai persahabatan Craig Foster, seorang ahli biologi kelautan, dengan seorang gurita. Mengapa saya mengetik ‘seorang’ gurita, bukan ‘seekor’ gurita? Terus terang, jari sayalah yang mengetik itu tanpa saya sadari. Begitu mau saya hapus, saya berpikir, jangan-jangan jari saya ikut merasakan bahwa gurita itu lebih cocok disebut seorang ketimbang seekor. Anda akan mengerti apa maksud saya saat menyaksikan film yang mendapat penilaian 100% dari penonton yang menilainya.

Makhluk yang terkenal soliter ini ternyata bisa menjalin hubungan yang so intimate dengan manusia, sehingga begitu menyentuh dan mengharukan. Craig butuh waktu lama untuk bisa PDKT dengan makhluk yang sebenarnya imut ini, meskipun kalau disorot kamera secara close up tampak seperti monster laut yang mengerikan. Apalagi dengan maraknya film yang menjadikannya menjadi gurita raksasa  yang meneror nelayan.

Jika Anda pernah membaca novel atau menonton film Eat Pray Love, saya memakai Eat Live Love dari film ‘My Octopus Teacher’ ini. Ketiga hal itulah yang saya pelajari dari film yang diambil di wilayah terpencil di False Bay, Cape Town, Afrika Selatan, tepatnya dekat Simon’s Tows, Tanjung Peninsula.

EAT

Dengan kemampuan berkamuflase yang luar biasa, gurita bisa menyamar sebagai rumput laut dan menunggu mangsanya lewat. Dia bisa juga bersembunyi di sarangnya dan menanti dengan sabar ikan atau kepiting untuk mendekat dan…hup…dalam sepersekian detik, dia sudah mendekap mangsanya dengan tentakelnya. Tidak lama kemudian, mangsanya tinggal sisa-sisa yang tidak berhasil dia cerna.

Penyamaran yang sama dia lakukan, bahkan dengan cara yang lebih canggih, yaitu membungkus dirinya dengan kulit-kulit kerang yang berserakan di dasar samudra, untuk melindunginya dari serangan hiu piyama. Hiu ukuran kecil yang ganas ini diberi nama demikian karena warna kulitnya yang bergaris-garis mirip piyama. Sepandai-pandainya gurita menyamar atau melarikan diri, hiu ini memiliki penciuman yang tajam sehingga bisa melacak keberadaan gurita. Dalam sebuah kesempatan, meskipun sudah bersembunyi di lubang karang, hiu itu berhasil menyantap satu tentakelnya sehingga memaksa gurita itu berdiam diri ke sarangnya untuk memulihkan bekas lukanya.

LIVE

Inilah pelajaran kehidupan yang bukan saja didapat Criag Foster, tetapi juga setiap orang yang menyaksikannya. Kehidupan gurita seperti seorang yatim piatu. Dia besar di lingkungan yang keras sehingga harus cepat belajar jika tidak ingin dihajar kehidupan.

Itulah sebabnya gurita bukan makhluk yang gampang didekati. Dia mudah curiga terhadap apa atau siapa pun yang asing. Dia tidak segan-segan menyemprotkan tinta hitam ke siapa pun yang berusaha mendekatinya. Matanya yang tajam mengamati siapa saja yang mendekat, termasuk Craig. Ahli biologi kelautan ini butuh waktu hampir satu tahun untuk terus-menerus mendekatinya. Perlahan tapi pasti, usahanya berhasil. Dia bahkan bisa menjulurkan jarinya ke sarang gurita itu dan membiarkannya diremas oleh penghisap yang banyak jumlahnya.

Karena kedekatannya inilah di akhir film, gurita ini sempat ‘melompat’ dan ‘memeluk’ dada Craig dan tidak melepaskannya dalam waktu lama. Rupanya itulah salam perpisahan karena tidak lama kemudian dia akan kawin, bertelur, mengerami telurnya dan mati. Saat menceritaan bagian ini mata Craig berkaca-kaca yang membuat saya ikut terharu dan terhanyut.

LOVE

Saat menemukan cintanya, gurita itu kawin di sarangnya, bertelur dan menjagai telurnya sampai menetas. Itulah proses yang menyakitkan dari seorang ‘ibu’ gurita. Dia rela tidak makan dalam waktu lama sehingga tubuhnya lemah. Dia bahkan tidak bisa mengusir ikan-kan kecil yang menggerogoti tentakelnya sedikit demi sedikit. Dia hanya bisa memandang semua itu dengan mata sayu. Dia bahkan tidak bisa melihat anak-anaknya besar nantinya. Bukankah ortu pun sering habis-habisan agar anaknya bisa sukses menjadi ‘orang’?

Kasih adalah pengorbanan benar-benar ditunjukkan si gurita. Ketika tubuhnya benar-benar lemah, dia menjadi makanan empuk dari hiu piyama yang memang menjadi predatornya yang utama. Craig sempat goyah saat menyaksikan hal itu. Hati kecilnya ingin menolong sobat kecilnya ini, tetapi di sisi lain dia sadar bahwa dirinya tidak boleh mengganggu ekosistem dan hukum alam. Dia membiarkan sahabatnya itu dibawa pergi dan disantah hiu dengan hati yang pilu. Dia merasa ada sebagian dirinya yang ikut hilang dibawa arus laut yang dingin.

A SAD BUT HAPPY ENDING

Secara pribadi saya mendapatkan tiga pelajaran utama. Pertama, terlepas dari sejumlah besar penemuan, betapa miskinnya pengetahuan kita terhadap alam sehingga secara sadar atau tidak, kita mengeksploitasinya untuk memuaskan dahaga egoisme kita. Gurita merupakan salah satu hasil laut yang menjadi makanan farovit manusia. Oke, tidak apa-apa. Namun, pernahkah Anda membayangkan, menyaksikan, atau bahkan mengalaminya sendiri gurita yang dimakan hidup-hidup? Dengan sumpit, gurita kecil yang ingin bebas keluar dari piring saji diambil, dicelupkan ke kecap atau saus dan langsung masuk ke mulut kita yang rakus. Jika gurita dan makhluk lain makan untuk hidup, banyak di antara kita yang makan untuk kesenangan saja, bahkan memasukkan apa saja sampai perut kita berontak dan mulut kita muntah. Tidaklah mengherankan jika ada negara yang kuat memangsa yang lemah untuk mereka eksploitasi habis-habisan, termasuk Indonesia.

Kedua, betapa rapuhnya kita di tengah alam yang begitu luas. Ironinya, kita justru sering membuat diri kita sendiri semakin rapuh dengan merusak biota laut, misalnya dengan bom ikan yang merusak terumbu karang. Bisa juga membabat hutan liar untuk komoditas sehingga menimbulkan banjir dan longsor. Saat berada di sebuah tempat wisata alam, saya pernah membaca kutipan suku Indian yang sungguh benar. “Only when the last tree has been cut down, the last fish been caught, and the last stream poisoned, will we realize we cannot eat money.” Kutipan atau lebih tepatnya nubuatan suku Indian kuno itu terbukti sekarang. Ternyata kita yang merasa memiliki super power ternyata dibuat repot luar biasa oleh virus yang super kecil.

Ketiga, kekuatan cinta seekor binatang yang seringkali kita remehkan. Gurita yang biasanya begitu sulit didekati, justru bisa menjadi sahabat terbaik Craig selama hampir satu tahun. Begitu melihat Craig, gurita itu melakukan gerakan seakan berkata, “I love you. I miss you.” Gurita bukan hanya bisa menunjukkan kasih sayangnya kepada manusia asing seperti Craig, tetapi juga menyalurkan kasih tanpa syarat kepada anak-anaknya. Dia rela kelaparan sampai mati agar anak-anaknya bisa bertahan di tengah lautan yang kadang begitu kejam. Cita-cita luhur gurita itu jugalah yang Craig tunjukkan saat mempersiapkan anaknya, Tom, menjadi ahli biologi kelautan yang bukan belajar di kelas ber-AC tetapi di alam yang tak pernah kehabisan sumber ilham. Pengalaman dan kehidupan adalah sarana belajar terbaik. Di akhir cerita, saat di lautan, Tom menemuka gurita kecil. Betapa dia harus berterima kasih kepada induknya yang membuatnya bisa meneruskan hidup dan menghidupkan dirinya sendiri.

Saya lebih suka mengganti judul Gurita Guru Saya menjadi Gurita Guru Kita. Bukankah setiap kita perlu belajar dengan bersahabat dengan alam? Jika Anda setuju dengan saya, bagikan renungan saya ini kepada orang-orang yang Anda kasihi. Thank you!