Seandainya Aku Tahu Lebih Awal …

~ 154 Views

Suatu malam seorang anak merengek meminta dibelikan makanan kesukaannya kepada ayahnya. Sang ayah yang sedang membaca koran pun tidak menggubris rengekan sang anak. Karena merasa diacuhkan, sang anak berpikir bahwa ia harus merengek lebih keras lagi supaya sang ayah memenuhi keinginannya. Akan tetapi, sang ayah membentaknya sehingga anaknya semakin keras merengek, sampai akhirnya ia mengambil rotan dan memukul pantat sang anak. Setelah sadar dari perbuatannya ia melemparkan rotan itu lalu pergi meninggalkan anaknya yang
terisak-isak merintih kesakitan.

Selang beberapa jam Ibunya membawakannya sebungkus bihun goreng dan memintanya untuk menghabiskannya, karena ayahnya akan marah jika ia tidak mau memakannya. Di dalam hati sang anak, ia berjanji bahwa tidak akan pernah meminta apa pun lagi dari sang ayah karena untuk sekedar mendapatkan makanan saja ia harus merasakan kesakitan.

Kini 20 tahun sudah berlalu sejak kejadian itu, tetapi ingatan sang anak terhadap perlakuan ayahnya masih tersimpan di dalam ingatannya. Walaupun ia berkata tidak membenci sang ayah tetapi tindakannya secara otomatis menunjukkan sebuah pe…no…lak…an. Sampai pada suatu hari, sang Ibu tidak sengaja bercerita tentang peristiwa itu kembali. Di dalam hatinya sang anak mengeluh mengapa kenangan buruk itu yang diungkit kembali oleh ibunya. Namun ia tersentak begitu ibunya menceritakan kejadian yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

Ibunya berkata: “Nak, ketika itu ayahmu kesal dan memukul kamu sampai menimbulkan bekas luka di pantatmu. Ibu tidak bisa membantu apa-apa saat itu. Tetapi janganlah marah pada ayahmu, ia tidak sengaja melakukannya. Kamu terlalu kecil saat itu untuk mengerti bahwa ayah dan ibu tidak memiliki uang lebih untuk membeli bihun goreng kesukaanmu. Ayahmu sedang memikirkan bagaimana kita dapat makan esok hari dan amarahnya memuncak mendengar rengekanmu.” Sang anak bertanya, jika memang ayahnya tidak memiliki uang, mengapa kemudian ia pergi setelah
memukulnya dan membelikan makanan tersebut.

Sang ibu tersenyum dan menjawab: “Nak, ayahmu menyesal setelah itu. Lalu ia keluar dengan membawa beberapa potong celana dan pakaian terbaiknya. Kamu tahu apa yang ia lakukan? Ia menjual semuanya ke penjual barang bekas di dekat pasar demi mendapatkan sedikit uang untuk
membeli makanan yang kamu minta.”

Hati sang anak terenyuh dan tersimpan penyesalan yang dalam saat ia mendengar kata-kata Ibunya. Dari hal ini, ia dapat merasakan kasih ayahnya yang tulus, sebab sang ayah tidak pernah menceritakan
atau bahkan mengungkit hal itu ketika mereka bertengkar.

Akhir pekan ini ayahnya akan pulang ke Jakarta. Ia teringat setiap kali ayahnya datang ia selalu menolak jika diminta untuk menjemput di stasiun. Ia juga menghabiskan banyak waktu di luar rumah entah
lembur di kantor atau pergi dengan teman-temannya agar tidak bertemu muka dengan sang ayah. Di dalam kamarnya ia berlutut dan berdoa. Ia menyesali kesombongannya karena selama ini ia tidak pernah sungguh-sungguh mengampuni sang ayah. Sekarang sudah berapa banyak waktu dan pengalaman-pengalaman yang seharusnya ia dapat rasakan bersama dengan sang ayah telah terlewatkan. Tetapi ia sadar bahwa ia tidak dapat memutar kembali waktu yang telah berlalu, yang ia miliki adalah hari ini untuk menebus tahun-tahun yang hilang.

Hari itu ia mengambil keputusan untuk mengampuni dan mengasihi ayahnya. Kemudian ia menelepon ayahnya dan berkata bahwa beliau tidak perlu memesan taksi karena ia yang akan menjemputnya. Di ujung telepon sana terdengar suara terkejut ayahnya.

Akhir pekan tiba. Ia menanti kereta yang membawa sang ayah menuju Stasiun Kota. Tidak berapa lama ia melihat sesosok pria paruh baya dan berkacamata, dengan guratan-guratan di keningnya, tampak tua dan lelah. Senyumnya merekah di ujung jalan dan airmatanya mengalir ketika sang anak membisikkan kata maaf dan memeluknya.

Terus terang air mata saya berlinang saat membaca sepenggal kisah yang dikirimkan oleh Djunaedi, seorang rekan di WAG.
Konon, mutiara adalah air mata kerang yang kesakitan karena dagingnya kemasukan kerikil. Tentu saja itu mitos, tetapi merupakan analogi yang cukup menarik sekaligus mengandung nilai estetika tinggi. Kita pun dapat memetik mutiara hikmat dari kisah yang berjudul “Jangan Menghakimi, Karena Ada Sangat Banyak Yang Tidak Kita Ketahui”. Saya setuju sekali dengan judul ini.

Pertama, salah persepsi itu berbahaya sekali. Seorang sahabat saya yang mengambil kuliah bahasa Ibrani di Yerusalem, memberikan perumpamaan yang menarik. “Xavier, Anda tahu beda TV hitam putih dan berwarna?” Pertanyaan itu sangat aneh karena saya tidak pernah punya televisi hitam putih. “Itu kan zaman Papa Mama, bahkan Opa Oma kita dulu?” Dave, sahabat saya itu, meneruskan: “Jika Anda melihat seorang berbaring di tepi jalan dengan genangan di sekitarnya di TV hitam putih, Anda bisa jadi
merasa orang itu terpeleset air. Namun jika Anda melihatnya di televisi berwarna, Anda tahu ternyata genangan itu adalah darahnya.”

Kedua, jika kita hanya melihat sebagian, pemahaman kita terhadap yang kita lihat juga sebagian. Demikian juga jika kita mendengar hanya dari satu pihak, pasti pendapat orang itulah yang Anda terima. Jika Anda menganggap apa yang Anda lihat dan dengar itu benar, bisa jadi Anda mengalami distorsi, degradasi, bahkan dekadensi pemaknaan.

Ketiga, jika pemahaman Anda sudah salah, keputusan apa pun yang Anda ambil akan salah juga. Seorang sahabat saya, Beatrice, mengirimi kata-kata mutiara yang indah sekali. “If you look with hatred, every grass is weed. But if you look with kindness, every grass is flower.” Kutipan dari drakor Black Dog itu sungguh mengena. KAM Jusuf Roni, puluhan tahun yang lalu, pernah berkata kepada saya, “Jika Anda selalu mencari hantu, maka setiap rumput bisa ada hantunya, bahkan di pensil Anda pun ada.” Jika kita
memandang seseorang dari kacamata yang buram, apa pun yang dikerjakan orang itu pasti salah.

Keempat, jika kita belum jelas melihat sesuatu, dekatilah. “Jika ada berada di sebuah hutan yang ada rawa-rawanya dan melihat sebuah pohon yang gemerlapan di bawahnya, jangan buru-buru berkata Anda melihat keajaiban. Bisa jadi itu ulat semacam lintah yang berbahaya.”

Kelima, jika tidak yakin teliti sebelum beraksi. Dokter Lukas—seorang penulis paripurna—memberi catatan: “Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (Luk 1:1-4).

Keenam, untuk mendapatkan informasi itu, kita bisa saja menunggu. Sang anak yang salah memahami ayahnya harus menunggu selama 20 tahun baru mengetahui kebenarannya. Itu pun saat sang ibu berinisiatif. Seandainya tidak, bisa jadi sampai meninggal dunia pun anak itu tidak tahu apa yang ayahnya lakukan.

Ketujuh, tindakan yang terbaik—seperti Lukas—adalah mencari tahu yang sebenarnya. Di dunia jurnalistik ada istilah Check and Balanche. Artinya pemberitaan itu harus akurat karena sudah mengecek—meminjam istilah Lukas—mencari saksi mata. Bisa juga bertanya ke berbagai sumber. Di
dunia medis pun ada ungkapan “second opinion”. Jika seorang dokter—misalnya dokter umum—kurang yakin dengan diagnosisnya, dia bisa merujuk pasien ke dokter spesialis. Seorang dokter spesialis pun bisa
merujuk pasien ke dokter spesialis lain yang bidangnya lebih cocok dengan sikon pasien.

Kedelapan, sebelum jelas, jangan ngegas. Bisa jadi kendaraan kita masuk jurang karena jalan di depan kita gelap dan berkabut. Saat diminta pimpin KKR gabungan beberapa gereja di Madiun, saya bermaksud menginap di Telaga Sarangan. Saat tanjakan dan kabut kebal, sopir pribadi saya menyarankan agar kami turun dan menginap di sekitar tempat itu. “Jalan berkabut. Saya tidak bisa melihat ke depan dengan
jelas. Berbahaya,” ujarnya. Saya setuju.

Kesembilan, pengampunan membuat hubungan dipulihkan, bukan balas dendam. Sang anak karena tidak tahu apa yang membuat ayahnya marah, memutuskan untuk perang dingin dengan sang ayah. Gerakan tutup mulut dan tutup relasi ini membuat dia kehilangan tahun-tahun yang semestinya bisa dia luangkan bersama ayah tercinta.

Kesepuluh, tindakan yang baik, meskipun terlambat, jauh lebih baik ketimbang tidak melakukannya sama sekali. Penghalang utamanya biasanya kalau tidak gengsi ya merasa terluka terlalu dalam.

Xavier Quentin Pranata, pelukis kehidupan di kanvas jiwa, berdomisili di Instagram @xavier_qp