DARIPADA MATI LEBIH BAIK BANGKRUT

~ 601jp 577 pvc 601 GA 568

LEBIH BAIK BANGKRUT DARIPADA MATI. ADA YANG PERNAH BERPIKIR BEGINI?

Mr. Sandwich adalah seorang milyuner Thailand yang jatuh miskin saat krisis ekonomi Asia tahun 1997, lalu ia menjadi penjaja sandwich jalanan.  Sirivat Voravetvuthikun, nama asli Mr. Sandwich, tadinya hidup super mewah sebagai pengembang properti dan pemain saham.  Ia biasa berjudi, dan pernah menghabiskan Rp. 2 milyar dalam semalam.

Saat krisis, bank menyita seluruh propertinya, namun Sirivat masih berhutang Rp. 180 milyar. Ia sempat depresi, tetapi tidak bunuh diri seperti beberapa pengusaha lain yang bangkrut saat itu.

Sirivat menyalahkan dirinya karena terlalu rakus berhutang untuk bisnis. Tetapi ia menerima kenyataan lalu memutuskan untuk berjualan sandwich di pinggir jalan dengan sebuah kardus yang dikalungkan di lehernya.

Hari pertama, ia harus menahan malu mendengar orang bertanya:Anda kan multi milyuner, mengapa berjualan sandwich? Ia menjual 40 sandwich hari itu. Ia pernah dikejar-kejar polisi karena berjualan di pinggir jalan.  Kini usaha sandwich-nya bernilai lebih dari Rp. 45 milyar, meluas menjadi usaha restoran dan minuman kaleng. Ia berencana membuka warabala serta mendaftarkan bisnisnya di bursa saham.

Walaupun sangat sulit, Mr. Sandwich menerima hidup apa adanya. Ia berkisah, ada seorang pengusaha menembak diri gara-gara bangkrut, tetapi ia tidak meninggal justru lumpuh!  Motto Mr. Sandwich, “Lebih baik bangkrut daripada mati.”

Kiriman dari Ceni, Bone, yang mengutip dari FB Meliana Halim ini kembali menyentakkan kita dari tidur panjang karena semangat yang patah. Dari kisah Mr. Sandwich ini kita bisa memetik 3 mutiara berharga yang perlu kita kalungkan ke leher kita.

I. Selama nafas masih di kandung badan, jangan mengisi hidup dengan keluhan

Gampang? Sulit! Meskipun pernah membaca buku No Complaining Rule. Positive Ways to Deal with Negativity at Work karya Jon Gordon, saya tidak bisa berhenti mengeluh begitu saja. Perlu usaha. Saat mengeluh, segera sadar dan belajar untuk bersabar. Mengapa mengeluh itu merugikan? Karena keluhan tidak memperbaiki keadaan, kecuali menuliskan keluhan kita di surat pembaca. Wkwkwk. Bukan hanya tidak bisa memperbaiki keadaan, melainkan justru mengurangi produktivitas kita. Bukankah saat mengeluh badan ikut ogah diajak bekerja?

II. Selama kita tidak malu, kita masih bisa maju

Seperti Mr. Sandwich, kita bisa memulai kembali usaha kita. Semangat juang merupakan bahan bakar yang tidak perlu membeli meskipun harganya tinggi. Saat kita berada di titik nadir, alias bangkrut krut, kita sudah tibak bisa jatuh ke bawah lagi. Kita sudah berada di dasar. Apalagi yang bisa kita lakukan saat berada di paling bawah kalau tidak naik kembali. Siapa tahu kita bisa naik lebih tinggi ketimbang awal kejatuhan kita.

III. Alih-alih bunuh diri dan menjadi duri bagi orang lain, mengapa tidak bergerak naik dan mengajak orang lain naik bersama kita?

“If you are not networked, you are not working.” Berjejaringlah dan menjaring lebih banyak lagi rezeki. Mari kita tularkan fighting spirit kita kepada orang-orang yang telah kehilangan semangat juangnya. Orang yang kita tolong suatu kali akan menolong orang lain lagi. Jangan sampai jaringan ini putus sampai di Anda. Masih banyak orang di luar sana yang membutuhkan uluran tangan kita.

Saat kita melakukan ketiga hal di atas, Tuhan dan alam semesta ciptaan-Nya dengan cara-Nya dan waktu-Nya bisa membalikkan keadaan kita. Ketika saya diundang bicara di Vancouver, Kanada, saya bertemu dengan orang Indonesia yang membeli sandwich resto di kota indah itu. Saat saya berkunjung kedua kalinya di gerai roti lapisnya, orang sampai antre untuk mendapatkan roti isi itu. Rezeki memang tidak ke mana-mana saat kita siap menerimanya. Mau mengikuti jejak Mr. Sandwich?