TAKUT MENGHADAPI MASA DEPAN

Diambil dari buku: 100 Tanya Jawab Aktual Seputar Rumah Tangga – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

Saya ibu dari tiga orang anak. Penghasilan suami saya pas-pasan. Saya takut kami tidak bisa menyekolahkan anak-anak kami, sehingga masa depannya menjadi suram. Ada saran? Tx. GBU.

Saya senang Anda memikirkan masa depan anak-anak. Artinya, Anda adalah seorang yang bertanggung jawab. Di saat banyak Anda yang menelantarkan anak-anaknya, Anda justru berpikir tentang masa depan mereka. Berdasarkan pertanyaan Anda, saya ingin memberikan beberapa masukan.

Pertama, anak-anak kita, meskipun kita orangtuanya, bahkan Ibu yang melahirkan mereka, tetapi anak-anak tetap milik Tuhan. “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah” (Mazmur 127:3). Artinya, jika kita memiliki anak, itu semua adalah hak prerogatif Tuhan. Anak-anak pun milik Tuhan.

Kedua, Tuhan tahu anak-anak kita sejak dalam kandungan: “Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim?” (Ayub 31:15) “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku” (Mazmur 139:13). “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya” (Mazmur 139:16). Perhatikan kata ‘membentuk’ dan ‘menenun’. Dua kata itu menunjukkan betapa Tuhan sungguh mengasihi kita.

Ketiga, karena Tuhanlah yang membuat kita memiliki anak, maka Dia juga bertanggungjawab atas anak-anak kita. Saya pernah membaca sebuah kisah yang mungkin bisa menginspirasi Anda. Seorang ibu yang mempunyai bayi kecil bepergian ke luar kota di tengah badai salju. Penduduk setempa yang tahu kepergiannya segera mencari ibu itu. Keesokan harinya, ibu itu ditemukan dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Dia mati beku dalam kondisi hampir telanjang. Apa yang membuatnya melepaskan mantel tebalnya di tengah badai salju yang membekukan itu? Dia melakukannnya untuk anaknya. Sangat tubuh itu di balik, ada seorang bayi yang menangis. Meskipun kelaparan, tetapi selamat. Ketika besar, bayi itu menjadi Perdana Menteri Inggris. Saat dilantik sebagai perdana menteri, dia berkata, “Tanpa seorang ibu yang berkorban, saya tidak akan bisa seperti ini.” Ibu, Tuhan jauh lebih mengasihi anak-anak kita ketimbang kita mengasihi mereka. Percayalah. Yesus pun demikian. Ketika murid-murid hendak mengusir anak-anak yang datang kepada-Nya, Guru yang penuh kasih sayang itu berkata, “Tetapi Yesus berkata: ‘Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga’” (Matius 19:14). Tuhan memang menganggap dirinya seperti induk ayam yang melindungi anak-anaknya: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Lukas 13:34).

Keempat, dengan kesadaran seperti itulah Anda seharusnya mendidik anak-anak seperti pemazmur: “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.   Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang” (Mazmur 127:4-5). Apa artinya? Kita harus memenuhi kepala anak kita dengan hikmat yang datangnya dari Tuhan. Dengan demikian, kita tidak akan malu dan dipermalukan oleh anak-anak yang kurang ajar dan kurang dididikan. Anda perlu menaati perintah ini: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6). “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu” (Amsal 29:17). Bersama suami, taati perintah ini: “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Efesus 6:4). Setelah itu, serahkan kepada Tuhan hasilnya!

Be Sociable, Share!