SUAMI ISTRI PISAH KOTA

Diambil dari buku: 100 Tanya Jawab Aktual Seputar Rumah Tangga – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

Saya dan suami sudah menikah enam tahun dan dikarunia dua orang anak. Mula-mula rumah tangga kami harmonis. Namun, setelah itu suami dipindahkan kerja di kota lain, sedangkan saya tetap bekerja di tempat semula. Mula-mula setiap minggu sekali suami pulang. Namun, semakin lama jarak kepulangannya semakin jarang, bahkan bisa setengah tahun sekali. Sejak saat itu hubungan kami kurang harmonis. Apa yang harus kami lakukan? Tx. GBU.

Persoalan yang Anda alami banyak dialami oleh keluarga muda di Indonesia. Mengapa? Karena saat ini untuk survive di Indonesia seringkali dibutuhkan dua sumber dana keuangan. Pengeluaran semakin banyak sedangkan pemasukan sangat terbatas. Mayoritas masyarakat Indonesia memang menengah ke bawah yang tidak merasakan nikmatnya gaji yang tinggi. Jika hanya salah satu yang bekerja, dipastikan kondisinya pas-pasan. Saya bisa memahami hal ini.

Nah, untuk bisa bekerja, kita seringkali tidak bisa memilih bekerja di mana dengan gaji berapa. Posisi tawar menawar kita seringkali lemah karena jumlah tenaga kerja yang tersedia jauh lebih banyak ketimbangan lowongan pekerjaan yang ada. Dengan demikian, ada kemungkinan suami dan isteri bekerja di tempat, bahkan kota yang berbeda.

Namun, di sisi lain, Firman Tuhan mengajarkan kita untuk bersatu dengan pasangan kita. Ada anjuran dan ada peringatan. Kita lihat nasihatnya: “Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!   Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.   Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (Mazmur 133:1-3). Larangannya? “Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak” (1 Korintus 7:5).

Lalu, bagaimana jika posisi seperti itu? Ada beberapa alternatif yang bisa saya sarankan. Pertama, dari sudut ekonomi. Siapa yang penghasilannya lebih besar? Jika suami, maka Anda yang harus pindah ke kota suami dan cari kerja di sana.

Kedua, dari segi Firman Tuhan, kalaupun gaji Anda lebih besar, tetapi Anda mengikuti suami.

Ketiga, dari segi keseluruhan. Jika Anda dan anak-anak susah untuk pindah ke tempat suami, maka mau tidak mau suamilah yang harus pindah pekerjaan dan kembali ke kota yang sama dengan Anda. Jika tidak ada lowongan pekerjaan, mengapa tidak mencoba berwiraswasta sedang Anda tetap bekerja sementara suami merintis bisnisnya.

Alternatif mana pun yang kalian pilih, dibutuhkan komitmen yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, percikan konflik sedikit saja bisa menyebabkan api pertengkaran yang besar. Untuk itu ada beberapa hal yang saya sarankan. Pertama, rundingkan masak-masak hal itu. Karena anak-anak masih kecil, mereka tidak usah dilibatkan dalam diskusi ini. Namun, sekali hasilnya sudah kalian ambil, anak-anak harus diberitahu supaya mereka siap, apalagi jika mereka harus pindah sekolah karena kepindahan tempat tinggal. Kedua, pilihan apa pun yang akhirnya kalian ambil, ambil komitmen untuk memenuhinya, bagaimanapun beratnya. Mengapa? Karena itu merupakan pilihan kalian berdua. Bukan pilihan sepihak, meskipun mungkin yang mengambil keputusan adalah suami Anda sebagai kepala rumah tangga. Ketiga, berdoalah dengan sungguh-sungguh agar Tuhan mencukupkan segala sesuatu, sehingga suatu kali kelak, kalian berdua bisa memilih tempat tinggal di kota yang kalian berdua inginkan. Selamat berunding.

Be Sociable, Share!