PILIHAN YANG SULIT

Diambil dari buku: From Jomblo to Bojo – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

Saya sedang dihadapkan oleh pilihan yang sama-sama sulitnya. Begini. Saya sudah menikah dan tinggal bersama mertua. Saya sebenarnya sudah bisa mandiri dan membeli rumah sendiri, tetapi mertua meminta saya untuk tetap tinggal di rumahnya. Alasannya, dia sangat mencintai anak perempuannya. Namun, justru alasan itulah yang membuat saya tidak betah tinggal bersamanya. Setiap kali kami bertengkar, mertua selalu membela anaknya dan menyalahkan saya. Yang membuat saya semakin jengkel, saya tidak bisa mendidik anak dengan bebas. Anak saya selalu dimanjakan oleh mertua, sehingga anak menjadi tidak bisa diatur. Jika saya marahi, maka mertua yang ganti memarahi saya. Kalau saya marah, saya didiamkan. Kalau saya tinggalkan dia, saya dianggap tidak mengasihi orangtua. Hanya mau mengambil anaknya dan menelantarkan mamanya. Apa yang harus saya lakukan? Pusing saya! Tx.

the-in-laws

Apa yang Anda hadapi adalah problem klasik, yaitu hubungan mertua-menantu. Sebenarnya, hubungan mertua-menantu bisa menjadi sangat indah jika ada kesepakatan tak tertulis antara keduanya. Pertama, mereka saling mengasihi. Dari sini mertua, mereka tidak membeda-bedakan apakah ini anak sendiri atau anak menantu. Demikian juga dari sisi menantu, apakah mereka orangtua sendiri atau mertua.

Kedua, sedapat mungkin rumah sendiri-sendiri. Dengan demikian, singgungan karena lokasi bisa diminimalisir. Jika tetap tinggal satu rumah, siapa yang menjadi kepala keluarga? Jika itu rumah mertua, maka mau tidak mau haknyalah yang menjadi kepala rumah tangga. Namun, jika itu rumah Anda, maka Andalah yang menjadi kepala di rumah itu. Tentu saja, Anda tetap menghormatinya sebagai ayah dan ibu Anda sendiri.

Ketiga, jika terpaksa harus tinggal di rumah mertua, alangkah indahnya jika ada pembagian wilayah yang diatur sebaik-baiknya. Misalnya, jika ada dua rumah—rumah induk dan rumah lain di sebelahnya atau di belakangnya—maka Anda bisa menempati salah satu dari rumah itu. Bukan masalah besar kecilnya, tetapi masalah berapa jumlah jiwa yang menempatinya. Jumlah keluarga yang besar tentu membutuhkan ruang yang lebih besar. Jika hanya ada satu rumah, maka perlu ada sekat agar baik mertua maupun Anda punya ‘daerah kekuasaan’ sendiri-sendiri. Meskipun tidak diterapkan secara kaku, minimal hal ini bisa mengurangi gesekan. Jika rumah yang Anda tempati bertingkat, alangkah baiknya jika Anda tinggal di lantai atas sedangkan mertua di lantai bawah. Alasannya sederhana, agar di usia senjanya, mereka tidak perlu naik turun tangga. Tanpa batas wilayah ini, maka Anda tidak bakal merasa bebas dan betah tinggal di sana, karena segala semuanya diketahui mertua. Hal ini menyulitkan Anda untuk menjaga privacy.

Karena saat ini Anda sudah dan sedang tinggal bersama mertua, coba ajak bicara isteri Anda dulu. Apakah dia mendukung keinginan Anda untuk pindah. Sebagai isteri, sudah selayaknya dia mendukung dan menghormati Anda sebagai kepala rumah tangga. Jika tekad kalian sudah bulat untuk pindah, nyatakan secara terus-terang kepada mertua, lengkap dengan alasannya. Tentu saja, Anda perlu memilih dan memilah kata-kata Anda agar tidak terkesan Anda ingin menyingkir atau menyingkirkan mertua dari hidup Anda. Yakinkan mereka bahwa kalian tetap mengasihi mereka dan tetap menjaga silaturahmi. Saya doakan Tuhan memberi hikmat untuk menghadapi mertua Anda.

Be Sociable, Share!