PILIH KASIH

Diambil dari 100 Tanya Jawab Aktual Dan Praktis Seputar Rumah Tangga – Xavier Quentin Pranata

Saya seorang ibu dengan dua orang anak perempuan. Saya sama-sama mengasihinya, tetapi saya lebih care kepada anak pertama ketimbang anak kedua. Mengapa? Karena yang pertama itu sakit-sakitan. Bukan hanya itu, saya merasa bahwa anak pertama jauh lebih peduli terhadap saya daripada adiknya. Padahal, biasanya anak bungsu yang dimanja. Belakangan ini, anak bungsu saya mulai merasakan perbedaan kasih saya itu. Bagaimana saya harus bersikap?

Girl Jealous of Mother and Sister --- Image by © Pixland/Corbis
Pertanyaan Anda sudah menunjukkan bahwa Anda pilih kasih. Dengan atau tanpa Anda sadari, perlakuan yang berbeda terhadap anak akan menimbulkan masalah hubungan. Anak yang lebih disayang jadi manja, sedangkan yang kurang disayang jadi berontak. Kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut, hasilnya akan semakin parah. Hubungan ibu-anak jadi rusak. Masalah jadi lebih rumit jika timbul persaingan di antara anak-anak Anda untuk mendapatkan kasih sayang Anda. Inilah yang disebut Sibling Rivalry, atau persaingan antara saudara sekandung.

Contohnya ada di Alkitab. Misalnya, dalam kasus Esau dan Yakub. Ishak lebih menyayangi Esau, sedangkan Ribka lebih sayang kepada Yakub: “Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub” (Kejadian 25:28). Akibat persaingan itu, kedua kakak beradik itu jadi bermusuhan.

Contoh yang kedua adalah Yusuf. Dia diperlakukan istimewa oleh Yakub: “Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia” (Kejadian 37:3). Akibatnya? “Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah” (Kejadian 37:4). Bukan hanya itu, mereka malah bersekongkol untuk mencelakakan Yusuf.

Di dalam kehidupan sehari-hari persaingan antarsaudara ini bisa kita temui. Seorang anak yang masih batita (bawah tiga tahun), biasanya tidak siap jika diberi adik baru. Jika selama ini dia yang paling diperhatikan oleh ayah dan ibunya dan tiba-tiba seisi rumah tampaknya lebih memperhatikan adiknya, maka timbullah iri hati yang berbahaya. Ketika saya menjenguk seorang pengerja gereja yang baru saja melahirkan anak kedua, dia berkata, “Tadi begitu adiknya ada di rumah, kakaknya melemparinya dengan sandal!” Mengapa? Karena usia kakaknya baru dua tahun. Dia belum mengerti bahwa adiknya harus lebih diperhatikan karena masih bayi. Saya pun pernah mendengar anak pendeta yang menutupi adiknya dengan bantal karena iri hati. Untung segera ketahuan orangtuanya. Jika tidak, si bayi akan meninggal karena kehabisan oksigen!

Nah, melihat kasus-kasus seperti itu, kita sebagai orangtua harus mencoba bersikap adil kepada anak-anak kita. Bagaimana caranya? Sebuah kartun yang saya lihat di sebuah buku memberikan pelajaran yang menarik. Dua orang ibu berpapasan di jalan. Ibu yang satu masih belum mempunyai anak, sedangkan ibu lainnya mempunyai empat orang anak yang masih kecil-kecil. Ibu yang belum dikaruniai anak itu bertanya, “Bagaimana engkau bisa MEMBAGI kasih sayang kepada empat orang anaknya secara adil?” Ibu yang ditanya menjawab, “Aku tidak membaginya. Aku MELIPATGANDAKANNYA!”

Nah, bisakah Anda belajar untuk melipatgandakan kasih Anda kepada kedua orang anak Anda agar Anda tidak dicap pilih kasih? Bagi waktu Anda secara adil antara anak pertama dan anak kedua. Jika Anda memperhatikan anak pertama karena sakit-sakitan, jelaskan hal itu kepada anak kedua, agar dia bisa memahami. Ketika si bungsu sakit, berilah perhatian yang sama besarnya seperti ketika Anda merawat si sulung. Selamat mendidik anak dengan kasih Kristus.

Be Sociable, Share!