MEMBALAS SUAMI YANG SELINGKUH

Diambil dari buku: From Jomblo To Bojo – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

Kami sudah menikah selama lima tahun dan belum dikarunai anak. Belakangan, suami saya sering keluar kota dengan berbagai alasan. Mula-mula saya percaya, tetapi saya mendengar bahwa suami punya affair dengan seorang janda di kota lain. Saya tahu bahwa saya harus mengampuninya, tetapi hati saya terlalu sakit untuk melakukan semua itu. Sementara itu, ada teman SMP saya yang belakangan ini mulai mendekati saya. Dia sudah cerai dengan isterinya. Terus terang saja, saya pun mulai tertarik dengannya. Meskipun kami belum berbuat terlalu jauh—hanya saling mengirim pesan lewat hp—tetapi hati nurani saya tidak sejahtera. Saya tahu ini dosa. Namun, ketika melihat kelakuan suami yang semakin menjadi-jadi, kadang timbul perasaan untuk membalas dendam. Jika dia bisa mengapa saya tidak? Mohon saya dikuatkan!

Ibu yang sedang dirundung masalah. Saya ikut prihatin dengan kondisi Ibu. Dari sms Ibu, saya tahu bahwa Ibu sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, Ibu merasa tertekan, karena suami selingkuh. Namun, Ibu harus memastikan apakah kabar itu benar atau tidak. Jika tidak benar, Ibu sudah melakukan kesalahan, karena mencurigai suami yang sebenarnya baik-baik saja. Untuk urusan apa suami ke kota lain? Apa benar hanya cari jalan agar bisa selingkuh atau memang benar-benar bekerja? Sebenarnya, tanpa menggunakan jasa detektif swasta pun Ibu bisa mengamati tanda-tandanya. Jika Ibu cukup peka, Ibu bisa merasakan keanehan-keanehan dari sikap, perilaku maupun ucapan suami. Misalnya, apakah tiba-tiba suami Anda jadi suka dandan? Atau jika dulu menaruh hape sembarangan, sekarang hape selalu dipegang. Kalaupun ditinggal, Anda tidak bisa membuka karena ada password-nya. Sepulang dari luar kota jika Ibu ingin bermesraan dengannya, bagaimana reaksinya? Apa Ibu merasakan sesuatu yang aneh? Penurunan kadar kasih sayang? Meskipun tidak bisa diukur secara prosentase, isteri yang peka bisa merasakannya.

Kedua, jika ternyata dugaan Ibu tidak benar, Ibu harus meminta maaf kepada Tuhan karena mencurigai suami yang setia. Atau jika sekiranya Ibu sudah pernah menuduhnya, apalagi memarahinya, maka Ibu dengan berbesar hati harus minta maaf kepadanya.

Ketiga, jika ternyata benar, maka pengampunan pasti lebih baik dan lebih rohani ketimbang balas dendam. Ini bukan pilihan tetapi keharusan. Firman Tuhan tidak pernah berkata, “Ampunilah seorang akan yang lain kecuali sakit hatimu sudah terlalu dalam.” Tidak ada itu. Pengampunan sejati keluar dari hati yang tersakiti.

Ketiga, introspeksi diri. Saya tidak bisa menolerir kesalahan suami, tetapi toh ada bagian yang Ibu bisa selesaikan, yaitu mengampuninya. Balas dendam bukan hanya berdosa di hadapan Tuhan, tetapi juga membuat masalah semakin besar. Hal ini seperti menyiramkan bensin ke api yang sedang menyala.

Keempat, tetap layani suami dengan baik, tetapi terus doakan agar hatinya kembali kepada Tuhan. Saya percaya, suami yang selingkuh bukan hanya karena jauh dari Ibu, tetapi juga jauh dari Tuhan. Jika hubungannya dengan Tuhan dekat, dia tidak mungkin melakukan hal itu.

Kelima, ayat ini bisa menolong Ibu: “1 Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, 2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu” (1Ptr 3:1-2). Selamat melakukan perjuangan dengan iman.

Be Sociable, Share!