KECANDUAN GAME

Diambil dari Buku: From Jomblo To Bojo – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

Saya seorang ibu dua orang anak. Anak saya manis-manis semua, tetapi belakangan karena pengaruh teman-temannya, anak-anak saya mulai berani mencuri-curi untuk bermain game. Saya tidak masalah asal di hari libur dan jam-jam tertentu. Namun, saya tidak bisa terima jika anak-anak saya bermain game tidak kenal waktu. Bagaimana pendapat Bapak? Tx.

142742059Games memang mengikat. Sifatnya seperti candu. Sekali kita terikat, susah untuk melepaskannya. Ada beberapa tipe games. Ada yang membangun. Ada yang merusak.

Yang termasuk games yang membangun antara lain petualangan, memasak, membangun kota dan sebagainya.

Yang termasuk games yang merusak antara lain games perkelahian dan pertempuran yang banyak melibatkan kekerasan dan darah. Anak-anak yang terbiasa dengan darah virtual suatu kali tidak merasa apa-apa saat melakukan tindakan nyata dengan darah betulan.

Yang jadi persoalan, batas antara games yang membangun dan yang merusak tipis sekali. Kadang-kadang dari judul dan sampul depannya, games itu oke-oke saja, namun jika kita masuk ke dalamnya, ada adegan seks dan kekerasan yang tidak seharusnya dikonsumsi anak-anak.

Bahaya lainnya adalah daya pikat dan daya ikatnya. Games yang tidak berbahaya seperti Hay Day pun bisa sangat merugikan jika pemainnya tidak tahu waktu. Padahal, games ini sebenarnya mengajari kita untuk bercocok tanam dan membangun agrobisnis. Kita bisa meminta mur, misalnya, untuk memperbesar gudang kita agar hasil panen bisa masuk. Kita pun perlu waktu untuk memanen, bahkan juga mengangkat yang sudah matang. Games semacam ini mengajarkan tanggung jawab. Namun, sekali lagi, jika waktu kita tersita hanya untuk hal-hal semacam ini, maka tindakan produktif yang nyata jadi terabaikan. Persahabatan dan kekeluargaan bisa terputus gara-gara kita kecanduan games.

Ingat kasus Flappy Bird yang ditutup oleh pemiliknya? Sebenarnya games ini diciptakan untuk menghilangkan rasa bosan ketika menunggu dalam antrian, menanti orang untuk pertemuan dan sebagainya. Namun, dampaknya ternyata membuat orang kecanduan.

Nah, apa jadinya jika empat orang duduk dalam satu meja—untuk makan, misalnya—tetapi keempat-empatnya tidak mengobrol dan berinteraksi, tetapi asyik dengan games-nya masing-masing? Games yang membangun pun jadi merusak hubunga. Ironis sekali.

Ada ‘alasan logis’ yang sebenarnya dicari-cari, yaitu ‘ketimbang saya kluyuran tidak karuan dan mencari petualangan cinta ke sana kemari, bukankah lebih baik main games di rumah?” Excuse semacam ini tidak bisa diterima. Mengapa? Pertama, kesalahan logika. Apa jika tidak bermain games seseorang otomatis akan keluyuran dan melakukan hal-hal negatif? Tidak, bukan? Kedua, kesalahan yang justru sangat ironis. Jika Anda di rumah tetapi tidak memperhatikan tanggung jawab sebagai anggota namun justru asyik bermain games, bukankah Anda ada tetapi seolah-olah tidak ada?

Mari bijak memakai waktu.

Be Sociable, Share!