JAMES ALLEN: RAHASIA ITU BERNAMA PIKIRAN

Diambil dari buku: Extraordinary Life – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

Belakangan ini pikiran kembali dieksplorasi, terutama setelah terbitnya buku The Secret karya Rhonda Byrne. Di dalam bukunya ini, produser Prime Time Production, Melbourne Australia ini mengatakan bahwa jika kita berpikiran positif, maka kita menarik hal-hal positif ke dalam kehidupan kita. Penulis yang kini tinggal di Amerika Serikat itu menyebutnya The Law of Attraction alias Hukum Tetarikan.

Sebenarnya, gagasannya itu bukan ide baru. Dia memperoleh intisari bukunya yang laris manis itu dari The Science of Getting Ritch karya Wallace Wattles yang terbit tahun 1910. Intinya, pikiran itu seperti magnet yang menarik apa saja yang ada di sekitarnya baik atau buruk, positif atau negatif, konstruktif atau destruktif. Nah, salah satu karya klasik yang lebih tua namun lebih terkenal adalah As A Man Thinketh karya James Allen yang terbit pada tahun 1902.

Sebagai orang beriman, kita tidak asing dengan judul itu karena merupakan penggalan ayat Firman Tuhan di dalam Proverb 23:7a: “For as he thinketh in his heart, so is he.” (King James Version). Di dalam bahasa Indonesia kurang jelas: “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia” (Amsal 23:7a).

Dirampok dan Dibunuh

James Allen dilahirkan di Leicester, Inggris pada tahun 1864. Masa remajanya kurang berbahagia karena dia harus meninggalkan bangku sekolah pada usia 15 tahun untuk bekerja. Karena bisnis keluarganya hancur, ayahnya mengadu untung ke Amerika. Sesampainya di negera adi daya ini dia justru dirampok dan dibunuh.

Allen bekerja di beberapa perusahaan manfaktur Inggris sampai tahun 1902, tetapi bakat dan minatnya di bidang tulis-menulis menariknya untuk menjadi penulis sepenuh waktu. Agar bisa menulis dengan tenang, dia pindah ke Ilfracombe di pantai barat daya Inggris. As A Man Thinketh merupakan buku kedua dari 19 buku yang dituliskan dalam sepuluh tahun. Buku ini terbit atas dorongan isterinya.

Seperti yang Kita Pikirkan

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari bukunya ini? Pertama, kita tidak menarik apa yang kita inginkan, tetapi menarik hal-hal yang berkenaan dengan siapakah diri kita. Artinya, Anda tidak mendapatkan sukses, tetapi menjadi sukses. Menurutnya, tidak ada jarak antara benda dan pikiran.

Kedua, kita adalah hasil dari pikiran kita. Pikiran yang mulia menghasilkan sosok yang mulia, sedangkan pikiran yang buruk menghasilkan sosok yang mengertikan.  Itulah sebabnya Alkitab memerintahkan kita untuk memikirkan hal-hal yang positif: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8).

Ketiga, lingkungan tidak membentuk sebuah individu, lingkungan menyingkapkan sosok individu. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas keadaan kita sekarang, kecuali menyalahkan diri sendiri.

Keempat, kita bisa mengubah dunia dengan mengubah pikiran kita. Kita cenderung untuk mengubah orang lain. Padahal, jika kita ingin dunia berubah, kita harus mengubah diri kita sendiri.

Kelima, bagi Alleh, kesuksesan itu sama dengan kedamaian. Alkitab memberikan pernyataan yang lebih keras: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26). Nah, rahasia terbesar bukanlah terletak pada pikiran kita, tetapi pikiran yang ditaklukkan kepada Kristus. (Disarikan dari 50 Self-Help Classics karya Tom Butler-Bowdon dan The Secret karya Rhonda Byrne).

Be Sociable, Share!