HOWARD SCHULTZ: LEBIH DARI SEKADAR ‘MAMPIR NGOMBE’

Diambil dari buku: Extra Ordinary Life – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

Urip kui koyo wong mampir ngombe. Hidup itu seperti orang yang mampir minum. Filsafat ini mengandung arti yang sangat dalam yaitu bahwa hidup manusia di muka bumi ini singkat. “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap” (Mazmur 90:10).

Nikmatnya Kopi Mahal

howard-schultz_starbucksOrang yang mampir minum biasanya segera pergi setelah memuaskan dahaganya. Namun tidak demikian jika kita ‘mampir ngombe’ di Starbucks. Kita betah duduk lama untuk menikmati Frappuccino sambil mengunyah cake gurih dan mendengarkan musik Bob Marley yang mendayu-dayu. Untuk kenikmatan itu, orang rela membayar puluhan ribu rupiah per gelas minuman. Inilah ide jenius seorang Howard Schultz yang begitu join dengan perusahaan yang mengambil nama dari perahu pencari ikan dalam novel Mobi Dick karya Herman Melville, langsung melakukan inovasi di sana sini.

Mengapa orang rela membayar mahal itu minum kopi? Nikmatnya kopi atau coklat pilihan, kue-kue hangat yang membangkitkan selera dan suasana terang namun teduh itulah yang membuat harga kopi di sini puluhan kali harga kopi di warung pinggir jalan. Saya yang telah mencoba kedai Starbucks di beberapa negara merasakan benar apa itu “Pengalaman Starbucks”.

Lima Rahasia Starbucks

Apa rahasia sukses mereka? Ada lima. Pertama, Lakukan dengan Cara Anda! Di Starbuckis kita bisa memesan minuman seperti double tall nonfat mocha with a little vanilla at the bottom atau racikan kita lainnya. Para barista, juru campur minuman, berusaha memuaskan keinginan setiap pelanggan.

Kedua, Semuanya Penting. Howard Schultz sering berkata, “Bisnis retail adalah tentang detail”. Seluruh mitra, istilah untuk karyawan di Starbucks, berusaha menampilkan sisi terbaik mereka, bahkan sampai hal yang detail. Setiap 10 menit sekali mereka secara berlirian ‘meninjau lapangan’ untuk melihat keberhasilan dan kerapihan kedai mereka.

Ketiga, Surprise and Delight. Seorang pelanggan yang menjatuhkan doppio-espresso didatangi mitra Starbucks yang berkata, “Biar saya buatkan yang baru”. Ketika pelanggan itu berkata, “Tidak usah repot-repot, lagupula itu sudah hampir habis”, karyawan itu berkata, “Tidak repot kok, jadi saya akan membuatkan minuman baru, gratis untuk Anda.” Ketika melihat reaksi cepat dan ramah itu, pelanggan itu berkata, “Sikap seperti inilah yang membuat saya membeli saham Starbucks.”

Keempat, Terbuka terhadap Kritik. Seorang penulis yang tidak disebutkan namanya berkata, “Jangan keberatan dikritik. Jika tidak benar, abaikan saja; jika tidak adil, jangan tersinggung; jika tidak beralasan, tersenyumlah; jika terbukti, itu bukan kritik—pelajarilah.” Ketika ada seorang pelanggan yang melontarkan kritik pedas, Starbucks tidak membela diri tetapi malah meminta maaf dan menerima masukan tersebut dengan potitif.

Kelimat, Leave Your Mark. Starbucks berusaha merangkul lingkungan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi rakyat banyak. Di mana ada kedai Starbucks, diharapkan mereka menjalin relasi dengan lingkungan dengan meninggalkan tanda-tanda positif. Suatu langkah positif yang perlu diteladani perusahaan di Indonesia. (The Starbucks Experince karya Joseph A. Michelli).

Be Sociable, Share!