BERANI MELOMPAT JAUH

Diambil dari buku: Berani Melompat Jauh – Xavier Quentin Pranata

berani melompat jauh1Seorang pria mau pulang ke rumahnya. Dia mempunyai dua pilihan. Pertama, lewat jalan pintas melalui kuburan. Kedua, lewan jalan memutar. Jika dia memilih pilihan yang pertama, dia bisa cepat sampai di rumah, namun, ada kuburan menyeramkan yang harus dia lalui. Jika dia memilih pilihan yang kedua, dia akan sampai di rumah lebih larut, tetapi jalan yang dilalui terang benderang.

Akhirnya dia mengambil keputusan untuk memilih jalan yang pertama. Saat memasuki kompleks kuburan, hatinya mulai kebat-kebit. Bulu kuduknya berdiri. Suara angin malam yang berdesir tidak bisa mengalahkan debur jantungnya yang berpacu seru. Bayang-bayang pohon yang terkena rembulan seakan-akan cakar hantu yang siap merobek-robeknya. Karena dihantui rasa takut yang luar biasa, dia mempercepat langkahnya. Langkahnya semakin lama semakin cepat dan akhirnya berlari. Karena tidak hati-hati dia terperosok ke sebuah lubang kubur yang belum dipakai.

Dia mencoba melompat setinggi dan sejauh mungkin, tetapi tidak berhasil. Kemudian dia mencoba memanjat dinding kuburan itu tetapi gagal terus karena tanahnya merosot. Setelah berkali-kali gagal, akhirnya dia pasrah dan meringkuk sendirian di pojok lubang yang dalam dan gelap itu.

Tidak seberapa lama kemudian dia mendengar suara langkah yang mendekat. Karena ketakutan, dia semakin meringkuk ke sudut kuburan. Tiba-tiba saja “bluk!” dia mendengar suara orang yang jatuh. Ternyata suara tadi adalah pejalan kami yang sama seperti dirinya terperosok ke lubang itu.

Orang itu tampak panik. Dia mencoba melompat setinggi dan sejauh mungkin. Namun, seperti dirinya tadi, orang itu pun gagal. Karena merasa kasihan, tiba-tiba dia bersuara, “Sudah, tidak usah dipaksakan. Saya juga mau keluar dari sini tidak bisa!”

Tiba-tiba saja ada kekuatan raksasa yang timbul di dalam diri orang itu. Dengan teriakan penuh ketakutan orang itu melakukan lompatan terakhir. Kali ini dia berhasil. Tanpa menghiraukan panggilan orang yang masih ada di dalam kuburan, orang itu lari terbirit-birit. Tinggallah orang pertama tetap di dalam kuburan.

Katak Pun Bisa

Kisah di atas mirip dengan fabel tentang seekor katak. Suatu kali karena kurang hati-hati, seekor katak yang menyeberang jalan terperosok ke sebuah galian. Dia segera berteriak-teriak meminta bantuan. Teman-temannya yang mendengar suara teriaknnya segera saja mengerumuni lubang itu. Dengan berbagai cara mereka mencoba mengeluarkan temannya, tetapi tidak seekor katak  pun yang berani masuk ke lubang yang sama, karena jika mereka melakukannya maka akan ada dua katak yang terjebak. Yang bisa mereka lakukan hanyalah berteriak-teriak memberi semangat agar katak itu melompat keluar. Akhirnya, mereka bubar satu per satu.

Anehnya, keesokan harinya, mereka mendapati katak yang terperosok itu sudah ada bersama-sama mereka lagi. Meskipun tubuhnya kotor, katak itu selamat. “Apa yang terjadi?” tanya teman-temanya dengan koor.

“Ketika kalian pergi, aku sudah hampir putus asa,” ujar katak itu, “namun tiba-tiba saja aku mendengar suara truk yang mendekati lubangku. Seketika itu juga timbul kekuatannya dan aku melompat setinggi dan sejauh mungkin. Aku berhasil keluar!”

Ibu Perkasa

Rumah seorang ibu yang ditinggalkan suaminya bekerja terbakar. Di tengah kepanikannya, dia mengangkat sebuah kulkas dan mengeluarkannya dari rumah. Setelah rumahnya berhasil dipadamkan, dia meminta orang-orang menolongnya menggotong kembali kulkasnya masuk ke rumah. “Lho, tadi Ibu bisa mengangkatnya sendiri keluar, kok sekarang minta bantuan?” tanya seseorang. Dengan malu-malu ibu itu menjawab, “Saya sendiri juga heran, kok tadi saya kuat mengangkatnya!”

Invisible Power

Apa yang dilakukan oleh orang yang terperosok di kuburan, katak yang masuk ke lubang jalan dan ibu yang berhasil mengangkat kulkas sendirian sebenarnya bukanlah mukjizat, melainkan kuasa yang meskipun tidak kelihatan tetapi luar biasa. Setiap kita memiliki kekuatan seperti itu. Yang menjadi masalah, kekuatan itu kita biarkan terpendam jauh di dalam diri kita. Yang kita munculkan hanyalah puncak gunung esnya saja.

Nah, bagaimana sih cara memunculkan invisible but invincible power itu? Pertama, adalah the law of enforcement. Kita perlu melaksanakan tekad yang sudah ada di dalam hati kita. Hal yang sama saya alami saat kuliah S-3. Karena sibuk pelayanan riwa-riwi Indonesia-Australia, saya tidak segera menulis dan menyelesaikan semua persyaratan S-3 saya. Ketika bertemu dengan dekan pasca sarjana, dia mendesak saya dengan sedikit tekanan agar saya segera menyelesaikannya. Karena tekanan itu, dengan meminjam istilah proklamasi, “dalam tempo yang sesingkat-singkatnya” saya selesaikan tugas saya dan diwisuda tahun itu juga.

Kedua, try to put one more straw upon our shoulder. Kita mengenal istilah “the last straw” atau jerami terakhir yang artinya beban yang kita pikul sudah terlalu berat, sehingga hanya tambahan satu jerami saja kita akan collaps. Namun, seringkali kita menerapkan standar yang terlalu rendah bagi diri kita sendiri. Setelah beberapa tahun mempelajari tentang potensi otak manusia, saya jadi tahu bahwa kita belum maksimal memakainya. Jadi, kita masih bisa menaikkan garis mistar kita beberapa senti lagi.

Ketiga, kita perlu mengundang the real invisible but invincible power yang datangnya dari Tuhan. Kemampuan kita terbatas, tetapi kemampuan-Nya tidak terbalas. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Yang lebih menggembirakan, Dia memberi kita kekuatan yang luar biasa itu. Mau bukti? Coba kita baca Firman Tuhan di dalam 1 Yohanes 4:4 yang berbunyi: “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yohanes 4:4).

Nah, dahsyat bukan? Untuk menguji apakah Anda benar-benar mengerti kebenaran di atas, coba Anda jawab teka-teki ini: Ketika melewati rel kereta api, mengapa katak berani melompatinya?

(Karena kalau harus memutar, terlalu jauh dong!)

Be Sociable, Share!