SELERA

Diambil dari buku: 100 Kisah Cekak Yang Membuat Bijak – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

“Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian” (Amsal 15:17).

Setiap kali kami sekeluarga makan di luar, selalu saja ada perdebatan lebih dulu. Biasa, selera setiap orang berbeda. Selera saya dengan isteri berbeda, selera isteri dengan anak berbeda, bahkan selera kedua anak saya pun berbeda. Nah, siapa yang harus dituruti? Saya bahkan pernah mendengar dari seorang sahabat tentang pengalamannya makan bersama sebuah keluarga. Sahabat saya itu diundang untuk berkhotbah di sebuah gereja. Dia diinapkan di rumah salah satu pengurus gereja. Otomatis pengurus gereja itu jugalah yang mengajaknya makan di luar. Namun, setiap kali makan, dia tidak pernah ditanya mau makan apa. Sebaliknya, tuan rumah bertanya kepada anaknya makan di mana. Akibatnya, saat pelayanan di sana, sahabat saya itu dijamu junk food terus-menerus.

Bagaimana kita bisa mengatasi perbedaan selera ini? Ada beberapa cara. Pertama, sistem giliran. Jadi, jika minggu ini kita makan menurut selera si A, minggu berikutnya selera di B dan minggu berikutnya lagi biar si C yang pilih. Begitu seterusnya. Kedua, sistem kompromi. Jadi, cara makanan yang semua orang bisa makan. Meskipun tidak bisa memuaskan semua orang, toh tidak ada yang tidak doyan. Ketiga, makan saja di foot courd atau cafe sera. Dengan cara begini, kita tetap bisa makan satu meja tetapi dengan menu menurut selera makan masing-masing anggota keluarga.

Kekasih Tuhan, pepatah berkata, “Rambut boleh sama hitam, tetapi selera berbeda!” Saya punya selera yang berbeda, bahkan bertolak belakang dengan isteri. Namun, kami mengatasinya dengan cara saling mencoba makanan favorit. Saya kasih contoh. Saat masih pacaran dulu, saya tidak suka mie, sedangkan mie adalah makanan favorit isteri saya. Setiap kali makan mie, saya hanya pesan minum dan nunggui dia makan. Setelah itu pindah ke tempat lain yang mempunyai menu kegemaran saya. Namun, lama-lama saya mencoba juga makan mie dan sekarang saya jadi doyan makan mie. Jadi, yang penting adalah bagaimana kita bisa menyesuaikan diri dengan orang-orang yang kita kasihi dan tidak mementingkan diri sendiri. Selamat mencoba.

Doa: Ajar aku untuk tidak egois dan belajar mengerti keinginan orang lain.

Be Sociable, Share!