SAAT ANDA DIRENDAHKAN

Diambil dari buku: 100 Wisdoms For Enriching Your Soul – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

Ada kisah tentang seorang jenderal bintang empat diperlakukan seperti pelayan restoran. Ceritanya celana seragam jenderal itu sangat mirip dengan seragam pelayan suatu rumah makan. Jadi tidak sengaja seorang tamu memberikan order, minta minum kepada jenderal ini. Dengan santai jenderal ini pergi mengambilkan minum untuk tamu tersebut, yang panik justru tamunya saat tahu ia menyuruh seorang jenderal. Tapi jenderal ini hanya tersenyum, dan tidak mempermasalahkannya.

Juga Karl Malone, pebasket kenamaan sekelas Michael Jordan, pernah lewat di depan bandara, dan seorang ibu mengira ia adalah porter atau petugas taksi. Maka ibu ini meminta Karl membawakan kopernya ke taksi. Dengan senang hati, Karl Malone menaikkan tas itu ke bagasi. Saat ibu mau memberikan tips, dengan sopan Karl Malone menolak, dan menjelaskan siapa dirinya.
Tapi sebaliknya, ada penyanyi yang hendak masuk di suatu acara. Petugas di pintu tidak mengenalinya, dan bertanya, “Anda siapa?” Dengan marah sang penyanyi segera menyelonong masuk, mencari panitia, dan memerintahkan agar petugas di pintu segera dipecat.

Dari kisah di atas, kita bisa memetik pelajaran yang sangat indah. Kebesaran jiwa seseorang bisa dilihat saat dia direndahkan atau diperlakukan lebih rendah dari derajatnya yang sesungguhnya. Kisah di atas mengingatkan saya pada kisah lain yang terjadi di Jogja. Seorang bapak yang sedang mengendarai jeep dihentikan seorang ‘bakul’ (penjual di pasar) dan diminta tolong untuk mengantarkannya ke pasar. Setelah sampai di pasar, bapak itu ikut menolong menurunkan barang dagangan ibu itu. Saat hendak diberi uang, bapak itu dengan sopan menolaknya. Ibu itu tersinggung karena uangnya ditolak. Orang-orang di pasar kaget melihat peristiwa ini karena orang yang dimintai tolong itu adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX alias Raja Jogja.

Mengapa orang gampang tersinggung saat direndahkan? Pertama, dia merasa lebih tinggi daripada yang memperlakukannya seperti itu.

Kedua,dia merasa berhak untuk marah karena telah diperlakukan lebih rendah daripada yang seharusnya. Seorang bapak di sebuah departement store, pernah marah dan berteriak hendak membeli pramuniaga di toko itu hanya karena salah mengambilkan barang. Dia lupa bahwa zaman orang membeli budak sudah lewat.

Hal ini bertolak belakang dengan orang-orang yang dengan cepatnya meminta maaf walaupun tidak salah. Karena tergesa-gesa, saya kadang menyenggol orang. Saya memperhatikan, jika saya berada di luar negeri dan menyenggol secara tidak sengaja orang bule, dengan sopan jutru dia yang berkata, “I’m sorry” atau sekadar “Sorry!” padahal jelas-jelas saya yang salah.

Ketiga, ada orang-orang tertentu yang lebih cepat emosi ketimbang berpikir. Jika terjadi kesalahan, dia lebih dulu menyalahkan orang lain. Baru setelah berdiam diri dan merenungkan masalah yang baru terjadi, dia menyadari bahwa dialah yang salah. Cilakanya, sudah tahu kalau salah pun kadang-kadang malu untuk meminta maaf. Lupa itu biasa, tetapi kalau lupa kemudian ingat kalau bersalah tetapi tidak mau meminta maaf itu artinya berjiwa kerdil.

Mari belajar dari Yesus. “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.  Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.  Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.  Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:2-5). Tidakkah kita malu oleh-Nya?

Be Sociable, Share!