KUNCI KEBAHAGIAAN

Diambil dari Buku: Life Is Colorful – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

e150-2Suatu hari, seekor anak singa bertanya kepada ibunya: “Ma, di mana sih kebahagiaan itu?”

Mamanya menjawab: “Ada di ekormu.”

Karena itu anak singa itu terus menerus mengejar ekornya. Namun, setelah sepanjang hari mencoba, dia gagal untuk mendapatkan kebahagiaan yang ada di ekornya. Dia mengadu kepada ibunya. Mendengar kisah anaknya, ibunya hanya tersenyum dan berkata: “Anakku, engkau tidak perlu mengejar kebahagiaan. Selama engkau maju terus, maka kebahagiaan akan selalu bersamamu!”

Email yang dikirimkan Elizabeth kepada saya ini sengaja saya terjemahkan untuk Anda, karena saya ingin berbagi kebahagiaan dengan Anda. Belakangan ini saya banyak mendapatkan email bukan saja dari anak saya tetapi juga dari para sahabat baik di dalam maupun di luar negeri. Yang menarik, di sekian banyak email yang saya terima, seringkali di bawahnya ada kata-kata berikut: “Jika Anda diberkati dengan email ini, forward-kan ke sahabat-sahabat yang lain agar mereka juga diberkati!”

Kunci kebahagiaan adalah kalau kita bisa berbagi kebahagiaan itu dengan orang lain. Suatu siang, misalnya, saya dikirimi oleh Leony satu kantung plastik es campur. Karena kantong plastiknya cukup besar, maka saya membaginya menjadi dua dan memberikan yang separuh kepada Dave yang kebetulan ada di dekat saya. Selasa berikutnya, Vera mengirimi saya dua potong roti dan singkong, yang langsung saya bagi dengan Yafet. Ketika pulang kerja, di mobil, Yonatan, putra sulung saya, menyodorkan pisang goreng sambil berkata, “Ini kesenangan papa!”

Mengapa mereka bisa tahu apa yang menjadi kesukaan saya? Karena mereka dekat dengan saya dan mengasihi saya. Jika kita dekat dengan orang-orang tertentu, kita akan tahu apa yang mereka sukai dan apa yang tidak kita sukai. Saya tahu bahwa Pak Hanny—Gembala HFC—suka maka steak sedangkan ibu Agnes—isteri Pdt. Hanny—senang bakso. Saya juga tahu kalau Pak Sutresno—pengusaha roti dan telur—suka kweetio Apeng dan tahu telor Bon Ami sedangkan Pak Freddy—pengusaha trasi—suka  gurame goreng Prima Rasa. Mengapa saya tahu kebiasaan mereka? Karena saya dekat dengan mereka dan mengasihi mereka dan sebaliknya. Kadang-kadang Dokter Roy mampir ke Embong Sawo dan berkata, “Pak, mau makan gudeg Bu Har?” Atau Muzafar, “Pak ayo makan mie babat Kembang Jepun!” Seorang Guru Minggu Ceria, Stefanus, setiap dia berulang tahun, saya malah dikirimi Green Tea karena tahu saya suka minuman itu. Dr. Albert dan Irene—pengusaha garment—suka membelikan aku buku kalau mereka pas keluar negeri. Daftar ini bisa saya perpanjang dengan keluarga saya sendiri dan para sahabat yang sangat panjang.

Yang menarik, seperti kisah anak singa di atas, kebahagiaan itu tidak usah kita kejar tetapi kebahagianlah yang mengejar kita kalau kita berjalan lurus dan benar. Bukan hanya itu, kita bisa menularkan kebahagiaan kita dengan orang lain. Dulu, ketika pacaran, saya tidak suka mie (baik goreng maupun rebus, apalagi kweetio). Namun, Susan memperkenalkan mie itu sehingga saya pun ikut suka. Dulu saya tidak begitu suka Suki, Pak Sugianto—seorang developer—yang  ‘memaksakan’ menu itu sehingga sekarang saya jadi suka. Selesai morning worship, kami sering diajak makan mie oleh Pak Kim Hoo—pengusaha angkutan laut. Setiap kali makan bersama, saya tidak pernah pesan mie tetapi bubur ikan. Lama-lama Pak Kim Hoo tidak pesan mie tetapi ikut pesan bubur ikan. Rupanya, saya pun bisa ‘memaksakan’ menu kesukaan saya ke orang lain. Namun, jangan coba-coba mengajak Maria dan Yohanes—kakak beradik ini yang menjadi staf di GBI Happy Family Center—untuk makan bubur. Ketika saya ajak makan bubur, mereka berkata, “Seperti orang sakit saja!” He, he, he.

Nah, apa inti tulisan ini? Makanan? Bukan! Minuman? Bukan! Kunci kebahagian adalah membagikan kebahagiaan itu kepada orang lain. Setuju?

Be Sociable, Share!