KISAH DUA KANTONG

Diambil dari buku: 100 Wisdoms For Enriching Your Soul – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

Alkisah, ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan dan ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang. Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian dan sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.

Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya.

Kisah pendek yang dikirimkan seorang rekan kepada saya itu sungguh relevan bagi kita. Berapa banyak di antara kita yang melakukan sebaliknya. Kita memasukkan hal-hal yang baik ke kantong yang berlubang, sedangkan hal-hal yang buruk ke kantong yang tidak berlubang. Akibatnya, hidup kita dipenuhi dengan hal-hal yang negatif, yang buruk dan yang busuk. Tanpa sadar kita telah memelihara kepahitan.

Untuk mengajarkan hal ini ada seorang guru yang menyuruh muridnya membawa sebutir kentang di dalam kantong kain. “Kalian harus membawa kantong berisi kentang ini ke mana pun dan di mana pun tidak boleh dilepas,” ujar guru itu. Murid-muridnya, meskipun merasa aneh dengan pekerjaan rumah ini, melakukannya. “Apa sulitnya sih membawa sebutir kentang kecil dalam kantong dan mengalungkan ke leher,” begitu pikir mereka.

Hari-hari pertama, mereka tidak mengalami hal yang mengganggu. Mereka menganggap kantong itu sebagai kalung. Namun, lama-lama kentang itu membusuk dan mulai mengeluarkan bau yang tidak sedap. Mereka menghadap guru dan berkata, “Pak, kami tidak sanggup membawa kantong kentang ini lagi. Izinkan kami melepaskannya!”

Hal-hal buruk yang kita simpan di kantong yang tidak berlubang itu akan membusuk, bahkan berulat, dan mengganggu aktivitas kita. Bukan hanya itu, hal-hal itu justru bisa menimbulkan akar pahit. Ada orang-orang tertentu yang menghubungkan penyakit kanker dengan akar pahit ini. Mengapa kita tidak belajar dari seorang guru bijak bestari?

Guru itu punya seorang sahabat yang ke mana-mana bersama-sama. Suatu kali mereka sedang berlibur ke pantai. Setiap kali sahabatnya melakukan kesalahan baik lewat kata-kata maupun ucapannya, guru bijak itu menuliskan kesalahan itu di pasir pantai. Sebaliknya, setiap kali sahabatnya itu menjadi sahabat yang baik dengan membuatnya tertawa, merenung, bahkan belajar sesuatu, dia mengambil obeng dan mengguratkan kata-kata itu di batu. Saat temannya bertanya tentang tindakannya itu, sahabatnya dengan tersenyum berkata, “Saya memilih untuk menuliskan hal-hal negatif yang menimpa saya di atas pasir agar ketika ombak datang, tulisan itu terhapus untuk selama-lamanya. Sebaliknya, hal-hal positif yang menimpa diri saya, saya goreskan ke atas batu agar bisa terus saya baca berulang-ulang.”

Hidup memang masalah sikap. Kita bisa bersikap negatif terhadap peristiwa positif sekalipun. Sebaliknya, orang bijak bisa memetik hikmat positif dari peristiwa negatif yang menimpa dirinya. Saya teringat akan Thomas Alfa Edison. Suatu malam, laboratorium tempat dia mengadakan penelitian, terbakar. Ketika menyadari bahwa bangunan sangat penting dalam hidupnya itu tidak bisa diselamatkan, dia menyuruh anaknya untuk memanggil isterinya. “Panggil mamamu,” ujar Edison dengan penuh semangat, “ibumu belum pernah melihat kebakaran seperti ini.”

Apakah mudah bagi kita untuk bersikap positif. Tentu tidak semudah membalik tangan, tetapi ada satu pertanyaan yang bisa mengarahkan otak kita untuk berpikir positif. Setiap menjumpai masalah, tanyakan satu pertanyaan ini: “Pelajaran apa yang bisa saya petik dari musibah ini?” pertanyaan itu akan membuat otak kita bekerja secara positif. Ketika pertanyaan ini, “Apa yang bisa kita lakukan terhadap kecelakaan di udara?” diajukan, ditemukan parasut!

Be Sociable, Share!