KENTUT PUN BAYAR

Diambil dari buku: Life Is Wonderful – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

Seorang pria berusia 70 tahun terkena penyakit sehingga dia tidak dapat kencing. Dokter berkata bahwa dia harus dioperasi untuk mengobati penyakitnya. Dia setuju operasi segera dilakukan karena dia sudah menderita kesakitan berhari-hari. ketika operasi selesai, dokternya memberinya tagihan biaya operasi.

Kakek itu melihat sepintas tagihannya dan langsung menangis. Ketika melihat kakek itu menangis, dokternya memberitahu bahwa jika biaya operasi terlalu mahal baginya, dokter itu bisa mengatur keringanannya. Kakek itu berkata, “Saya tidak menangis karena biayanya. Saya bisa membayarnya kok. Saya menangis karena selama 70 tahu saya kencing dan tidak pernah ditagih oleh Tuhan!”

Kisah  yang dikirimkan lewat Blackberry Messanger oleh Edy Gunawan ini mengingatkan saya akan kisah lainnya. Seorang bapak dari desa mengunjungi anaknya yang berada di Surabaya. Saat diajak jalan-jalan ke sebuah mal, bapak ini ingin kencing. Begitu sampai di toilet, dia kaget karena harus membayar lebih dulu sebelum kencing. Dia protes kepada anaknya. “Gimana sih. Di desa aku bisa kencing sembarangan tanpa bayar. Di sini kencing saja bayar!”

Sebenarnya, bukan hanya kencing yang bayar. Kentut pun bayar. Tidak percaya? Orang yang tidak bisa kentut, harus dibawa ke dokter atau rumah sakit. Mengapa? Karena bisa menimbulkan penyakit yang lebih parah. Orang yang selesai dioperasi pun harus bisa kentut dulu baru diizinkan minum.

Nah, tidakkah kita merasa bersyukur bahwa selama ini kita tidak pernah ditarik apa-apa oleh Tuhan. Orang yang berada di ICU, untuk bernafas pun dia harus membayar setiap tabung oksigen yang dia hirup. Coba bayangkan, berapa banyak uang yang harus kita keluarkan jika setiap nafas yang kita hirup Tuhan perhitungkan?

Anda tentu ingat kisah seorang anak yang saat disuruh membelikan sesuatu ke warung sebelah, meminta ongkos kepada mamanya. Meskipun sedih, mamanya tetap membayar ongkos itu. Namun, ibu ini ingin memberi pelajaran kepada anaknya. Saat anaknya tidur, ibu itu membuat daftar harga dari setiap pelayanan yang ibu itu berikan sejak anak itu dilahirkan sampai anak itu sekolah. Jumlahnya uangnya tentu banyak sekali. Misalnya, biaya melahirkan. Uang susu. Uang makan. Biaya pendaftaran sekolah. Biaya dokter. Uang untuk membeli makanan, minuman dan jajan anak itu setiap hari. Dan sebagainya dan seterusnya. Setelah mendaftar dan menjumlah semua uang itu, ibu itu menulis berapa yang harus anak itu bayar. Tepat di bawahnya, ibu itu menulis sebuah kalimat: “Sudah dibayar lunas dengan kasih!” dan dia tandatangani.

Saat anak itu bangun keesokan harinya dan membaca semua itu, dia meneteskan air mata, mencari ibunya ke dapur, berlari dan memeluk ibunya sambil berkata, “Ma, maafkan adik ya!”

Ada satu frasa dalam bahasa Inggris yang tepat sekali untuk menggambarkan orang yang tidak berterima kasih, yaitu “Take it for granted!” Kita menganggap bahwa segala sesuatu memang bisa kita nikmati tanpa berpikir bahwa semua itu berasal dari Tuhan.

Marilah di dalam hidup ini senantiasa memiliki sikap yang bersyukur kepada Tuhan. Sikap semacam ini akan membuat kita lebih sehat karena tidak mudah iri hati dengan orang lain. Kita justru bersukacita saat orang lain bersukacita dan berdukacita saat orang lain berdukacita. Itulah definisi empati yang terbaik. Setuju?

Be Sociable, Share!