KELUHAN PENJUAL RUJAK

Diambil dari buku: 100 Wisdoms For Enriching Your Life – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

Surabaya. Senin siang. “Pa, mau makan di luar atau saya belikan nasi bungkus?” tanya Susan, isteri saya. Karena saya sedang membaca sebuah buku baru yang berbobot dan menarik, saya memilih opsi kedua. Dengan berjalan kaki isteri saya keluar mencari nasi bungkus. Tidak lama kemudian dia pulang membawa dua bungkus rujak cingur.

Sambil makan salah satu makanan favorit saya selain pecel itu, isteri saya berkata, “Tadi penjualnya sambat (bahasa Jawa, mengeluh) sembako dan perlengkapan rujak naik semua. Jadi terpaksa penjual itu menaikkan harga jualannya.” Saya tentu saja maklum, apalagi seminggu sebelumnya, ada karyawan sebuah kantor yang mengeluh bahwa kenaikan gajinya tidak seperti yang dia harapkan pasca kenaikan harga BBM dan barang-barang kebutuhan yang naik duluan. Ketika membaca koran pagi pada hari Selasa, surat kabar itu menurunkan berita kelangkaan dan naiknya harga kedelai sehingga pembuat tempe menipiskan tempenya. “Habis kalau saya naikkan, tidak ada yang mau beli,” ujar mereka. Pabrik tahu kecil pun gulung tikar karena tahu pun butuh kedelai.

Keluhan penjual rujak, karyawan kantor dan produsen tempe dan tahu sekali lagi mengingatkan kita akan janji politikus, apalagi kita yang tinggal di Jawa Timur sedang hangat-hangatnya pemilihan calib Gubernur baru. Jargon “Pagi dele, sore tempe!” mengingatkan kita akan janji mereka yang sedang kampanye dan kenyataan di lapangan saat mereka terpilih. Tiap orang yang mencalonkan diri selalu mengusung satu tema akbar: “Menyejahterakan rakyat!” Pertanyaannya, rakyat yang mana? Rakyat keseluruhan, lebih fokus lagi rakyat kecil, atau segelintir orang di puncak piramida? Lalu, bagaimana sikap kita sebagai anak Tuhan?

Pertama, kita harus tetap mengucap syukur apa pun yang terjadi. Ucapan syukur bukan berarti tinggal diam ketika kita hancur, tetapi meyakini bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ucapan syukur juga perlu keluar dari mulut bibir kita atas apa yang sudah kita miliki ketimbang mengharapkan apa yang belum Tuhan izinkan menjadi milik kita.

Kedua, jangan membandingkan diri kita dengan orang lain karena kapasitas kita berbeda-beda. Secara spontan dan tanpa sadar bisa jadi kita membandingkan penghasilan kita dengan orang lain. Gaji kita dengan orang lain. Jika penghasilan kita lebih kecil dari orang-orang yang kapasitas maupun jenis pekerjaannya sama atau hampir sama dengan kita ternyata jauh lebih tinggi dari kita, yang perlu kita perhatikan adalah ini: bisa jadi mereka bekerja di perusahaan yang untungnya lebih besar atau atasan mereka lebih dermawan. Itu saja. Terapi diri semacam ini jauh lebih sehat ketimbang menanam biji iri hati yang akhirnya akan membesar dan menjadi benalu dalam hidup kita.

Ketiga, meskipun kedengaran klise tetapi saran ini tetap relevan, yaitu mengencangkan ikat pinggang. “Wah, sabuk saya sudah terikat erat, tetapi perut saya masih lapar?” Mungkin ucapan itu bisa terlontar. Jika demikian kasusnya, maka cara kedua bisa diterapkan yaitu pupuk kreativitas. Isteri saya pernah mendengar keluhan seseorang yang berkata, “Bu Susan, kemarin anak saya mengeluh karena saya masak tempe terus. Saya sudah hampir menangis karena saya kira anak saya minta daging, tetapi air mata saya justru tercurah ketika dia berkata, ‘Ya sekali-kali masak tahu!’ Rupanya anak sekecil itu sudah tahu bahwa ayah ibunya sedang prihatin.”

Saya percaya, Firman Tuhan ini menggarisbawahi apa yang saya tulis di atas: “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti” (Mzm 37:25). Termasuk moon cake ha, ha, ha. Mau? Minta saja sama bulan!

Be Sociable, Share!