KARTU CERDAS

Diambil dari buku: Life Is Colorful – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

Saya mendapatkan email menarik dari Yulan. Email lucu ini ingin menunjukkan kepada kita bahwa smart card yang sedang ngetrend saat ini bisa menjengkelkan juga. Diberitakan negara jiran, Singapura, dalam waktu dekat akan meluncurkan kartu pindar yang disebut The Multi-purpose Future Card yang merupakan versi paling canggih dari NRIC (National Registration Identity Card) atau semacam KTP di Indonesia. Dengan dimasukkannya smart chip di dalamnya, kartu canggih ini dapat juga dipakai sebagai passport, catatan medis, SIM, ATM, bahkan keanggotaan di Perpustakaan Nasional. Jadi, kapan pun dan di mana pun Anda menggunakan kartu ini, Anda dapat dilacak via GPS. Tentu saja keberadaan kartu canggih ini menimbulkan pro-kontra. Kira-kira yang terjadi akan seperti ini. Seseorang hendak membeli pizza via telepon dan terjadilah pembicaraan antara operator restoran pizza dan pemesan sebagai berikut:

“Terima kasih karena menelpon Pizza Hut.”

“Halo. Dapatkah saya pesan pizza?”

“Dapatkah saya mendapatkan nomor Kartu Pintar Anda?
“Sebentar. 790230-88-5551.”

“Terima kasih Tuan Tan Ah Beng. Anda menelpon dari Block 345, Teck Whye Ave, #41-1522. Telepon rumah Anda 6788988, telepon kantor 6912788 dan handphone Anda 69788688.”

“Dari mana Anda dapat semua nomor saya?”

“Anda terhubung dengan Kartu Pintar, Tuan.”

“Ok, ok, saya bisa pesan sea-food pizza kan?”

“Tidak bisa, Tuan.”

“Lho, mengapa?”

“Menurut catatan medis terakhir Anda, Anda memiliki tekanan darah dan kolesterol yang tinggi.”

“Lalu apa saya Anda?”

“Cobalah Hokkien mie pizza rendah lemak. Anda  pasti suka.”

“Wah, kok Anda tahu saya suka Hokkien mie?”

“Anda baru pinjam buku berjudul ‘Popular Hokkien Dishes’ dari Perpustakaan Nasional minggu lalu.”

“Oke, beri saya tiga family size pizza. Berapa harganya?”

“Ya itu cukup untuk 10 anggota keluarga Anda. Harganya $45. Anda mau bayar pakai apa?”

“Kartu Pintar.”

“Tidak bisa, Tuan.”

“Mengapa?”

“Kartu kredit Anda over limit. Anda bahkan masih ada tunggakan $6,720.55 sejak Oktober lalu.”

“Oke, kalau begitu saya akan ambil uang pakai ATM.”

“Tidak bisa juga. Dana Anda sudah tidak mencukupi.”

“Apa?”

“Anda baru saja mengambil uang $150 untuk membeli undian pada pukul 4:56 siang.”

“Tidak masalah. Saya akan pinjam uang dari nenek saya. Berapa lama diantar?”

“45 menit. Namun jika Anda tidak sabar, Anda bisa mengambilnya pakai sepeda motor. Kan rumah Anda hanya 5 menit dari sini?”

“Lho, kok tahu?”

“Menurut Kartu Pintar ini Anda memiliki motor Honda dengan plat nomor FE 3288….”

“@@@&&&***###!!!!” (kata-kata makian).

“Hati-hati menggunakan kata-kata Anda!”

“Mengapa?”

“Ingat, pada tanggal 15 Juli 1987 Anda pernah dituduh mengeluarkan kata-kata kotor kepada polisi.”

“Uh!”

Anda tahu apa kelanjutannya? Karena begitu jengkelnya, orang itu tidak jadi pesan pizza. Setelah menutup telepon, dia berkata kepada keluarganya: “Pizza-nya habis!”

Apa setelah kita membaca kisah di atas lalu berhenti menggunakan kartu pintar? Tentu tidak. Teknologi bukan itu dimusuhi, tetapi dipakai secara bijak. Coba bayangkan jika saat ini kita tidak punya handphone. Repot sekali, bukan? Apalagi jika kita sedang berada di suatu tempat yang tidak ada telepon umumnya. Apa kalau kita keluar negeri kita tidak membawa kartu kredit? Begitu pentingnya kartu ini sampai salah satu bank yang mengeluarkan kartu kredit punya motto: “Don’t leave home without it!”

Be Sociable, Share!