HOME SWEET HOME

Diambil dari buku: 100 Kisah Cekak Yang Membuat Bijak – Xavier Quentin Pranata

“Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan” (Amsal 17:1).

home-sweet-homeMatahari sudah di atas ubun-ubun ketika saya tiba di sebuah rumah asri ke North Sydney. Begitu melihat suasana rumah yang dikelilingi kebun yang menghijau itu, hati saya terasa sejuk. “Wah, saya bakalan bisa tidur dengan nyenyak nih,” ujar saya dalam hati setelah semalaman di atas pesawat terbang. Meskipun baru kali itu saya menginjak rumah itu, saya merasakan keteduhan. Mengapa? Karena pemiliknya ramah. Dia menolong mengangkatkan koper saya yang berat ke lantai dua rumahnya.

Setelah tidur sejenak, saya turun ke bawah. Ternyata tuan rumah sudah menyediakan nasi dan lauk pauk. Coba tebak apa lauknya? Lodeh terong dan petai! Benar. Anda tidak salah. Petai! Kok ada petai sih di Sydney? Seolah mengerti tatapan mata saya, tuan rumah berkata, “Mama saya yang masak. Petainya kalengan.” Saya dan isteri makan  lahap siang itu. Saya langsung merasa berada di rumah sendiri di Indonesia.

Kekasih Tuhan, itulah sebabnya mengapa penulis kitab Amsal katakan, “Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan” (Amsal 17:1). Meskipun lauknya siang itu bukan daging, tetapi sayur lodeh, tetapi saya justru bersyukur. Masakannya enak sekali. Jadi, walaupun jauh dari tanah air, saya masih merasakan suasana tanah air, meskipun udara di Sydney jauh lebih dingin. Namun, ada satu hal yang jauh lebih penting lagi. Senyaman-nyamannya rumah kita di bumi, masih jauh lebih nyaman rumah kita di surga nanti. Di sana tidak ada lagi sakit-penyakit, tangisan dan kertak gigi.

Doa: Bapa, terima kasih karena telah menyediakan rumah di surga bagiku.

Be Sociable, Share!