GUGUR

Diambil dari buku: Seasons’ Sonata – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

Di suatu musim gugur, saya sedang jalan-jalan di taman kota. Angin menerbangkan dedaunan yang rontok di taman itu. Karena ingin menikmati suasana senja di musim gugur itu, saya mencari tempat duduk. Di bangku taman yang terletak di sebelah bangku saya, seorang gadis berambut pirang sedang asyik membaca. Belaian tangan angin yang lembut berhembus mempermainkan ujung syal saya. Tiba-tiba selembar daun kekuningan menyapu wajah saya. Seketika saya teringat cerita anak-anak tentang selembar daun mungil.

Pada suatu hari, selembar daun kecil menangis seperti daun-daun lain saat ditiup angin musim gugur. Ranting yang mendengar tangisan itu bertanya, “Ada masalah apa, daun mungil?” Daun kecil itu menjawab, “Angin baru saja memberitahuku bahwa suatu hari nanti dia akan meniupku dan membuatku gugur dan mati di tanah.”

Ranting itu memberitahu cabang yang menceritakannya kepada dahan yang meneruskan cerita itu ke pohon. Begitu mendengar kisah itu, secepat kilat pohon itu mengirimkan pesan kepada daun kecil itu, “Jangan takut. Pegang saja tanganku erat-erat dan engkau tidak akan gugur.”

Daun kecil itu berhenti menangis. Dia bahkan bernyanyi riang. Setiap kali pohon itu menggoncangkan tubuhnya, dahan bergoyang, cabang berayun dan ranting bergetar, daun mungil itu justru melompat-lompat dan menari-nari dengan gembira. Dia tidak lagi takut jatuh. Waktu berlalu sampai bulan Oktober.

Dan ketika mentari musim gugur bersinar, daun mungil itu melihat bahwa semua daun di sekelilingnya berubah menjadi sangat indah. Ada yang berwarna kuning, jingga, merah dan percampuran di antara warna-warna itu. Saat dia bertanya kepada pohon apa artinya semua itu, pohon menjawab, “Mereka siap terbang melayang. Mereka memakai baju warna-warni karena sedang bersukacita.”

Daun mungil itu bersiap pergi. Dia pun mengenakan pakaiannya yang sangat indah. Perpaduan warna yang sangat cantik, kuning kemerah-merahan. Indah sekali! Saat daun mungil itu menunduk, hatinya tercekat. Ranting, cabang, dahan dan pohon tidak memakai baju seindah dia. Daun mungil itu tidak tahan lagi untuk tidak bertanya, “Lho, kok baju kalian putih sedangkan kami bersinar keemasan?”

“Kami kan pakai baju kerja karena tugas kami belum selesai, tetapi engkau memang cocok pakai baju warna-warni karena engkau sedang liburan sebab tugasmu sudah selesai,” ujar cabang.

Pada saat itu angin berhembus kencang dan daun mungil itu terlepas dari rantingnya. Dia terbang melayang, berputar-putar seperti percikan api di udara dan kemudian mendarat dengan lembut di dekat pagar bersama ratusan daun lainnya… dan tertidur… jauh dalam mimpi… dan tidak pernah bangun kembali untuk menceritakan apa yang sudah terjadi.

Kisah yang dulu saya baca dari Apple for the Teacher itu mengingatkan saya akan “The Seasons of My Own Life”. Musim-musim dalam hidup saya seperti itu juga. Di saat musim gugur, perasaan sentimental muncul di dada. Ketika musim dingin, saya hanya ingin berada di dekat perapian Tuhan untuk menghangatkan jiwa saya. Saat musim semi tiba, tiba-tiba saja ide mengalir demikian deras sehingga beberapa buku bisa saya selesaikan dalam waktu yang singkat. Waktu musim panas tiba, saya hanya ingin tetirah dan berziarah ke tempat-tempat yang sejuk berangin untuk sedikit mendinginkan kepala yang panas. Namun, satu hal yang pasti, musim yang paing indah di dalam hidup saya adalah musim panen saat saya menuai tetesan hasil perasan keringat otak ketika saya menabur benih ide sambil menyirami dengan air ilham dan pupuk ilahi. Segala sesuatu dari Dia, oleh Dia dan bagi kemuliaan-Nya.

Be Sociable, Share!