BELAJAR DARI BUAH

Diambil dari Buku: Laugh Is Beautiful  – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

BELAJAR DARI BUAH

fyf-870Ada beberapa teman usher yang suka mengirimi saya email. Salah satunya yang memberkati saya seperti di bawah ini:

  1. Jadilah Jagung, jangan Jambu Monyet. Jagung membungkus bijinya yang banyak, sedangkan jambu monyet memamerkan bijinya yang cuma satu-satunya. Artinya: Jangan suka pamer.
  2. Jadilah pohon Pisang. Pohon pisang kalau berbuah hanya sekali, lalu mati. Artinya: Kesetiaan dalam pernikahan.
  3. Jadilah Duren, jangan kedondong, Walaupun luarnya penuh kulit yang tajam, tetapi dalamnya lembut dan manis. Beda dengan kedondong, luarnya mulus, rasanya agak asem dan di dalamnya ada biji yang berduri. Artinya : Don’t Judge a Book by The Cover. Jangan menilai orang dari luarnya saja.
  4. Jadilah bengkoang.Walaupun hidup dalam kompos sampah, tetapi umbinya putih  bersih. Artinya: Jagalah hati jangan kau nodai.
  5. Jadilah Tandan Pete, bukan Tandan Rambutan.Tandan pete membagi makanan sama rata ke biji petenya, semua seimbang, tidak seperti rambutan, ada yang kecil ada yang gede. Artinya: Selalu adil dalam bersikap.
  6. Jadilah Cabe. Makin tua makin pedas. Artinya: Makin tua makin bijaksana.
  7. Jadilah Buah Manggis Bisa ditebak isinya dari pantat buahnya. Artinya: Jangan Munafik.
  8. Jadilah Buah Nangka Selain buahnya, nangka memberi getah kepada penjual atau yang  memakannya. Artinya: Berikan kesan kepada semua orang (tentunya yang baik).

Tuhan banyak bicara tentang ‘buah’. Di dalam Alkitab ada 265 ayat yang mengandung kata buah. Hal ini menunjukkan bahwa, sebagai orang Kristen, kita diminta untuk berbuah. Mengapa? Karena kalau kita tidak berbuah, kita dianggap tidak produktif, bahkan ditebang: “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api” (Lukas 3:9). Firman di dalam Matius lebih tegas lagi: “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api” (Matius 3:10).

Agar kita bisa berbuah, kita harus melekat kepada Sang Pemberi buah itu sendiri: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yohanes 15:4).

Allah tidak pernah tanggung-tanggung. Jika kita disuruh berbuah, dia ingin kita berbuah lebat: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5).

Bukan hanya berbuah banyak, tetapi buah kita harus stabil: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (Yohanes 15:16).

Mengapa?  Karena orang dunia hanya bisa melihat buah kita: “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?” (Matius 7:16).

Buah apa yang perlu kita hasilnya? Buah Roh: “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.  Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (Galatia 5:22-24).

Mari berbuah! (Xavier)

 

 

Be Sociable, Share!