BELAJAR DARI AYAM JANTAN

Diambil dari buku: 100 Wisdoms For Enriching Your Soul – Xavier Quentin Pranata

Suatu malam sebuah badai padang gurun yang sangat dasyat menghantam disertai hujan, hujan es dan angin kencang.

Pada dinihari itu, setelah badai dasyat tersebut terjadi, seorang lelaki dengan rasa sedih dan kuatir tentang apa yang mungkin ia temukan, pergi untuk melihat kerugian yang ia alami.

Hujan es telah menghancurkan kebun. Tempat truk telah rata dengan tanah. Sebagian rumah tidak beratap lagi. Kandang ayam telah hilang terbawa angin dan ayam-ayam yang mati tersebar di mana-mana. Kehancuran dan kerusakan ada di mana-mana.

Sementara ia berdiri dan merasa pusing melihat kekacauan yang ada dan berpikir tentang masa depannya, ia mendengar suara ribut dari tumpukan kayu yang merupakan sisa kandang ayam. Seekor ayam jantan sedang memanjat ke atas melalui reruntuhan. Ia tidak berhenti memanjat hingga mencapai puncak papan tertinggi di tumpukan reruntuhan itu.  Ayam jantan tua itu basah kuyup dan sebagian dari bulunya telah tercabut terbawa angin. Tetapi saat matahari muncul di kaki langit di sebelah timur pada pagi harinya, ia mengepakkan sayapnya yang kurus dan dengan bangga berkokok seperti biasanya.

Saat pagi datang, mengapa ayam jantan yang telah babak belur dan tak berbulu itu tetap berkokok? Karena sifat alaminya adalah berkokok. Angin kesukaran mungkin meniup habis kehidupan Anda hari ini. Dunia Anda hancur berantakan, tetapi jika Anda memiliki Tuhan dalam hidup Anda, maka Anda dapat bangkit dari reruntuhan hidup dan menatap matahari pagi dengan harapan baru.

Mengapa?  Karena sifat alami kita sebagai orang benar adalah bangkit kembali ketika terjatuh dan Tuhan tidak akan membiarkan kita tergeletak begitu saja. Jika Anda mengalami badai kehidupan hari-hari ini, mari kita ingat pesan ini: “Tuhan tidak akan memberikan cobaan melampaui kemampuan umat-Nya”

Kiriman kisah menyentuh dari sahabat saya dari Solo, Hadi Santoso, ini mengingatkan kita kembali bahwa Tuhan itu peduli. Diri kita bisa berubah. Alam pun bisa berubah. Namun, kasih-Nya terhadap kita tidak pernah berubah. Di dalam sesi konseling, saya sering mendengar keluhan, tangisan, ratapan, bahkan tuntutan yang bermuara satu: “Mengapa Tuhan izinkan hal ini terjadi dalam kehidupan saya?” Kadang-kadang, protes itu masih dilanjutkan dengan kalimat: “Bukankah saya terus-menerus belajar untuk setia. Namun, justru saat saya taat, mengapa saya mengalami pencobaan yang begitu dahsyat?”

Saya percaya, keluhan itu bisa datang dari siapa saja, termasuk hamba Tuhan. Itulah sebabnya kita perlu mengingat sekali lagi prinsip ini. Emas itu walau ditaruh di mana pun, dia tetap emas. Justru perapian yang menyala-nyala itu membuat emas semakin dimurnikan. Saya pernah mendengar seorang anak raja yang menyamar sebagai pengemis dan masuk ke daerah musuh. Dia tertangkap. Mengapa? Mentalnya bukan mental pengemis, sehingga meskipun dia menyamar sebagai apa pun, mental kerajaannya tetap menonjol. Karena kita anak Raja di atas segala raja, maka saat badai usai, kita tetap tampil sebagai pemenang. Saat pernah mendengar gurauan yang tidak mengenakkan tetapi justru bisa melecut kita sebagai bangsa Indonesia. Katanya, jika saat ini kita semua tukar tempat dengan penduduk Jepang hanya dengan pakaian yang melekat di tubuh kita, maka dalam waktu lima tahun lagi, Jepang akan terpuruk seperti Indonesia dan Indonesia akan maju seperti Jepang. Ayo kita buktikan bahwa ejekan itu tidak benar!

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *