APA CITA-CITA ANDA?

Ketika kita anak-anak, kita pasti sering ditanya pertanyaan di atas baik oleh orang tua kita, guru maupun teman-teman. Mungkin kita masih ingat jawaban kita, “Aku ingin jadi dokter!”, “Pilot!”, “Guru”, “Wartawan”, bahkan “Presiden.” Apa pun cita-cita yang kita lontarkan, semua itu sah-sah saja terlepas dari berhasil tidaknya kita mencapai cita-cita itu. Bahkan bonaka Susan pun, masih ingat Ria Enes?, punya cita-cita.

Kalau Anda tanyakan hal itu saat saya masih kecil, masih jelas sekali apa jawaban saya saat itu, “Saya ingin jadi dokter!” Sungguh, ketika kecil, saya ingin menjadi dokter. Bagi saya, profesi itu di samping mulia, juga membanggakan. Sampai sekarang, seorang yang punya profesi dokter masih dianggap sebagai orang yang terpandang, meskipun di sana sini kita mendengar ada malapraktik. Mengapa? Karena menolong orang, terutama menyelamatkan nyawa seseorang, itu sungguh mulia. Di sisi lain, profesi penginjil jarang diapresiasi setinggi dokter, padahal, jika dokter menyelamatkan nyawa seseorang, penginjil membawanya lebih jauh lagi, yaitu keselamatan kekal. Itulah sebabnya seorang dokter yang juga penginjil menurut saya mendapatkan bonus ganda—di bumi dan di surga.

Kalau Anda tanyakan hal itu—yaitu cita-cita saya—sekarang, jawaban saya adalah, “Cita-cita saya adalah mewujudkan apa yang menjadi cita-cita anak saya!” Jawaban saya ini bukan berarti saya membuang cita-cita saya sendiri. Saya pun punya cita-cita, yaitu mempunyai rumah yang nyaman di tempat yang aman, bebas dari kebisingan tetapi tidak jauh dari kota, yang mempunyai ruang perpustakaan pribadi dengan koneksi internet supercepat. Mengapa? Karena dari dulu sampai sekarang, hobi saya tidak berubah, yaitu membaca. Dengan banyak membaca, saya bisa menulis tulisan ini dengan lebih berisi tetapi tidak terlalu berat untuk dicerna. Namun, mengapa cita-cita saya adalah mewujudkan cita-cita anak? Itu hanya masalah prioritas. Jika usia saya sesuai pemazmur, yaitu 80 tahun saja, maka saya sudah melewati separuh dari usia itu. Di paruh yang kedua ini, saya ingin menghabiskan waktu saya untuk memuliakan nama Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama lewat gereja di mana saya melayani. Jadi, saya ingin anak-anak saya pun mempunyai kerinduan yang sangat besar untuk melayani Tuhan sesuai dengan bakat, talenta dan karunia rohani yang Tuhan berikan. Itu saja!

Jika Anda bertanya lebih lanjut, apa yang ingin saya lakukan di usia senja? Jawaban saya tetap sama, membaca, menulis, memberi konseling, berkhotbah dan mengajar. Jika memungkinkan, saya juga ingin melihat berbagai tempat di muka bumi yang selama ini hanya saya kenal lewat bacaan dan tayangan televisi. Saya percaya, pengalaman itu akan menambah bobot pengajaran dan tulisan saya. Bukankan satu gambar lebih bermakna ketimbang sejuta kata-kata? Dengan melihat obyek itu secara langsung, maka pengajaran dan tulisan saya lebih konkret dan solid. Jika Tuhan izinkan, masih ada satu cita-cita tambahan saya, yaitu memiliki perpustakaan umum yang bisa dinikmati oleh orang-orang yang membutuhkan. Saya sering melihat banyak mahasiswa—khususnya mahasiswa theologi—yang tidak punya cukup uang untuk membeli buku. Dengan menyediakan sarana perpustakaan yang lengkap, orang-orang di lingkungan saya bisa tertolong. Apakah cita-cita saya itu bisa terwujud? Hanya tekad saya dan berkat Tuhan yang bisa memberikan jawaban.

Nah, kalau sekarang gantian saya yang bertanya, “Apakah cita-cita Anda?” Apakah Anda bisa menjawab pertanyaan saya dengan cepat atau malah bingung memikirkannya? Jawaban, “Saya ingin menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara” meskipun baik tetapi klise dan tidak jelas. Semakin tajam cita-cita Anda, semakin besar kemungkinannya untuk terwujud. Kiranya Tuhan mewujudkan cita-cita Anda!

Be Sociable, Share!