MENABUR KEBOHONGAN

Diambil dari buku: 100 Kisah Kocak Yang Membuat Bijak – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

“Jika kita menutupi kebohongan dengan kebohongan, maka seperti bola salju, maka semakin lama semakin besar dan menimbulkan longsor.” Xavier Quentin Pranata

 Suatu hari, tiga pemuda yang bersahabat sejak lama bertemu di tepi pantai. Ketiga pemuda ini terkenal sebagai pembohong semua. Ketiga pemuda ini, sebut saja Ade, Badu, dan Charlie, bercakap-cakap menelurusi pinggiran pantai sambil asyik bercerita panjang lebar.

Tanpa diketahui Badu dan Charlie, Ade menyeburkan diri ke pantai, merasa temannya kecebur Badu dan Charlie panik dan melakukan pencarian menelusuri tepian pantai. Lama sudah dicari-cari tapi tidak ketemu juga. Badu dan Charlie berniat untuk beristirahat duduk di tepi pantai. Baru saja Badu dan Charlie beranjak duduk tiba-tiba Ade muncul dan mengabarkan bahwa di dasar laut itu ada sebuah restoran yang serba megah. Badu dan Charlie pun jadi penasaran.

Badu lebih dulu menceburkan dirinya ke laut lepas, tetapi sesampainya di dasar laut Badu menggerutu, “Sialan gue di kerjain.”

Merasa malu dengan temannya nantinya di tepi pantai. Badu mencari akal dan dibawanya rumput laut untuk dijadikan bukti. Setelah muncul ke permukaan Badu mengabarkan berita ini kepada dua temannya Ade dan Charli kalau di dasar laut itu benar-benar ada sebuah Restoran. Merasa Badu datang membawa bukti, Ade jadi bingung. Karena dia merasa berbohong, kenapa ternyata benar ada restoran di bawah laut.

Sementara itu Charli juga ikut-ikutan penasaran lalu segera masuk ke dalam laut. Setelah sampai di dasar laut Charli baru sadar kalau dirinya dibohongin, “Sialan Ade sama Badu, gue di kerjain, awas ye!”

Biar tidak malu, Charli membawa kerang laut untuk dijadikan bukti kalau di dasar laut itu benar ada restoran. Sesampainya di tepi pantai Charli langsung bercerita pada kedua temannya, “Gila benar restoran di bawah sana, makanan yang dihidangkan serba makanan laut, juga Chinese Foodnya enak banget,” katanya dengan mimik serius.

Ade yang semula merasa hanya mengarang cerita saja untuk membohongi Badu dan Charli, ternyata jadi penasaran karena kedua temannya datang membawa bukti. Akhirnya Ade pun kembali menyelam ke dalam laut. Lama Ade menyelam di dasar laut berenang kesana-kemari, tapi tidak dijumpai restoran yang katanya menghidangkan masakan serba makanan laut seperti yang diceritakan Badu dan Charli, kedua temanya itu. Secara tidak sengaja, kepala Ade sampai terbentur karang lautan sampai babak belur hanya karena ingin mencari eestoran yang diceritakan kedua temannya itu. Ade pun berenang kembali ke daratan.

Sesampai di tepi pantai, Badu dan Charli bingung melihat Ade yang babak belur, “Kenapa kepalamu, De? Sampai babak belur begini?”

Sambil menahan rasa sakit di kepala Ade menjawab, “Sialan! Kalian berdua makan di restoran bawah laut sana gak bayar ya? Nih, gue digebukin satpam restorannya, katanya temen lu tadi datang ke sini makan nggak bayar.”

Point to Ponder: Kadang-kadang untuk menutupi kesalahan kecil, kita justru menimbulkan pelanggaran yang lebih besar. Apa yang membuat kita melakukan hal ini? Rasa malu? Ingin menjaga gengsi? Atau sekadar iseng? Apa pun alasannya, kebohongan kecil pasti akan menimbulkan bencana besar jika tidak segera kita selesaikan.

Action Point: “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya” (Amsal 18:21).

Be Sociable, Share!