PERANGKAP TIKUS

Diambil dari Buku: 100 Touching Stories – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

“Dunia adalah mata rantai kehidupan yang—jika satu saja mata rantainya terputus—bisa menyebabkan bencana yang jauh lebih besar.” Xavier Quentin Pranata

mouse-trap-illustrator-design-eps-47879406Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam, “Hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar?”

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah perangkap tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak, “Ada perangkap tikus di rumah, di rumah sekarang ada perangkap tikus.”

Ia mendatangi ayam dan berteriak, “Ada perangkap tikus.”

Sang Ayam berkata, “Tuan Tikus, aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku.”

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.

Sang Kambing pun berkata, “Aku turut bersimpati, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan.”

Tikus lalu menemui Sapi.

Ia mendapat jawaban sama. “Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali.”

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular.

Sang ular berkata, “Ahhh…Perangkap tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku.”

Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Ekor ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan. Sang suami harus membawa istrinya ke rumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.

Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. Kita semua tahu, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam. Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat. Dari kejauhan sang tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat perangkap tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

Untuk Direnungkan: Orang yang egois seringkali terbunuh oleh ketidakacuhannya terhadap masalah orang lain. Perbuatan kecil—baik atau buruk—tanpa kita sadari seringkali memantul kembali kepada kita. Sudahkah kita peduli kepada orang lain hari ini?

Untuk Dilakukan: “Maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: ‘Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi’” (Ester 4:13).

Be Sociable, Share!