KALUNG MUTIARA

Diambil dari Buku: 100 Inspiring Stories  – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

“Selama kita masih menggenggam erat-erat apa yang kita miliki, kita tidak bisa menerima apa pun yang belum kita miliki karena tangan kita sudah penuh.” Xavier Quentin Pranata

Jenny, seorang gadis cantik, kecil berusia 5 tahun dan memiliki mata yang indah. Suatu hari, ketika ia dan ibunya sedang berbelanja bulanan, Jenny melihat sebuah kalung mutiara tiruan. Indah, meskipun harganya cuma 2,5 dolar. Ia sangat ingin memiliki kalung tersebut, dan mulai merengek kepada ibunya. Akhirnya sang Ibu setuju, dan berkata, “Baiklah, anakku. Tetapi ingatlah bahwa meskipun kalung itu sangat mahal, ibu akan membelikannya untukmu. Nanti, sesampai di rumah, kita buat daftar pekerjaan yang harus kamu lakukan sebagai gantinya. Dan, biasanya kan Nenek selalu memberimu uang pada hari ulang tahunmu. Itu juga harus kamu berikan kepada Ibu.”

“Okay,” kata Jenny setuju. Mereka pun lalu membeli kalung tersebut.

Setiap hari, Jenny dengan rajin mengerjakan pekerjaan yang ditulis dalam daftar oleh ibunya. Uang yang diberikan oleh neneknya pada hari ulang tahunnya juga diberikannya kepada ibunya. Tidak berapa lama, perjanjiannya dengan ibunya pun selesai. Ia mulai memakai kalung barunya dengan rasa sangat bangga. Ia pakai kalung itu ke mana pun ia pergi. Ke sekolah taman kanak-kanaknya, ke gereja, ke supermarket, bermain dan tidur, kecuali mandi. “Nanti lehermu jadi hijau,” kata ibunya.

Jenny juga memiliki seorang ayah yang sangat menyayanginya. Setiap menjelang tidur, sang ayah akan membacakan sebuah buku cerita untuknya. Suatu hari, seusai membacakan cerita, sang Ayah bertanya kepada Jenny, “Jenny, apakah kamu sayang Ayah?”

“Pasti, Yah. Ayah tahu betapa aku menyayangi Ayah.”

“Kalau kau memang mencintai Ayah, berikanlah kalung mutiaramu pada Ayah.”

“Ya, Ayah, jangan kalung ini. Ayah boleh ambil mainanku yang lain. Ayah boleh ambil Rosie, bonekaku yang terbagus. Ayah juga boleh ambil pakaian-pakaianku yang terbaru. Tapi, jangan Ayah ambil kalungku.”

“Ya, anakku, tidak apa-apa. Tidurlah.” Ayah Jenny lalu mencium keningnya dan pergi, sambil berkata, “Selamat malam, anakku. Semoga mimpi indah.”

Seminggu kemudian, setelah membacakan cerita, ayahnya bertanya lagi, “Jenny, apakah kamu sayang Ayah?”

“Pasti, Yah. Ayah kan tahu aku sangat mencintaimu.”

“Kalau begitu, boleh ayah minta kalungmu?”

“Ya, jangan kalungku, dong. Ayah ambil Ribbons, kuda-kudaanku. Ayah masih ingat, kan? Itu mainan favoritku. Rambutnya panjang, lembut. Ayah bisa memainkan rambutnya, mengepangnya dan sebagainya. Ambillah, Yah. Asal Ayah jangan minta kalungku. Ya?”

“Sudahlah, Nak. Lupakanlah,” kata sang Ayah.

Beberapa hari setelah itu, Jenny terus berpikir, kenapa ayahnya selalu meminta kalungnya, dan kenapa ayahnya selalu menanyai apakah ia sayang padanya atau tidak.

Beberapa hari kemudian, ketika ayah Jenny membacakan cerita, Jenny duduk dengan resah. Ketika ayahnya selesai membacakan cerita, dengan bibir bergetar ia mengulurkan tangannya yang mungil kepada ayahnya, sambil berkata, “Ayah, terimalah ini.” Ia lepaskan kalung kesayangannya dari genggamannya dan ia melihat dengan penuh kesedihan, kalung tersebut berpindah ke tangan sang Ayah. Dengan satu tangan menggenggam kalung mutiara palsu kesayangan anaknya, tangan yang lainnya mengambil sebuah kotak beludru biru kecil dari kantong bajunya. Di dalam kotak beludru itu terletak seuntai kalung mutiara yang asli, sangat indah dan sangat mahal. Ia telah menyimpannya begitu lama, untuk anak yang dikasihinya. Ia menunggu dan menunggu agar anaknya mau melepaskan kalung mutiara plastiknya yang murah, sehingga ia dapat memberikan kepadanya kalung mutiara yang asli.

Point to Ponder: Anda tentu pernah mendengar kisah dua telaga, yaitu Galilea dan Laut Mati. Yang pertama dalah danau yang airnya senantiasa mengalir. Di dalamnya penuh ikan dan binatang air lainnya. Tanah di sekitarnya pun subur sehingga banyak ditanami tanaman. Sebaliknya, laut mati kadar garamnya begitu tinggi sehingga tidak ada makhluk hidup di sana. Mengapa? Karena airnya tergenang. Air yang mengalir membuat Danau Galilea mendapatkan pasokan air segar untuk menggantikan yang lama. Demikian juga dengan kita. Apakah Anda pernah mencek isi lemari Anda dan secara periodik memberikannya kepada orang lain yang membutuhkan. Ataukah Anda menyimpannya sekian lama untuk diri sendiri dan akhirnya tidak cukup? Kapan terakhir Anda berbagi sehingga Tuhan menggantikan apa yang kita bagikan dengan yang jauh lebih baik?

Action to Take: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Lukas 6:38).

Be Sociable, Share!