DOA: BERAPA BOBOTNYA?

Diambil dari buku: 100 Touching Stories – Xavier Quentin Pranata
Untuk pemesanan buku-buku Xavier Quentin Pranata, Hubungi SMS/WA Vera 0838 5475 4408

“Sebenarnya, kita tidak mengubah segala sesuatu. Doa pun tidak mengubah segala sesuatu. Tuhanlah yang mengubah segala sesuatu melalui doa kita.” Xavier Quentin Pranata

woman-prayingLouise Redden, seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan.

John Longhouse, si pemilik pasar swalayan, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya. “Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang.” John Longhouse tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut. “Anda tidak mempunyai kartu kredit. Anda tidak mempunyai garansi,” alasannya. Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata, “Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini.” Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, “Tidak perlu, Pak. Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?” “Ya, Pak. Ini,” katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.”

“Letakkanlah daftar belanja Anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan Anda sesuai dengan berat timbangan tersebut.”

Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Louise menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan. Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum  timbangan bergerak cepat ke bawah. Ia menatap pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, “Aku tidak percaya pada yang aku lihat.” Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum. Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si pemilik toko menaruh  belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain.

Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.

Si pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa. Karena tidak tahan, si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si ibu kumal tadi. Dan ia pun terbelalak. Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek, “Tuhan, Engkau tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tangan-Mu.” Si pemilik toko terdiam. Si Ibu, Louise, berterimakasih kepadanya, dan  meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang 50 dollar kepadanya.

Si pemilik toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai  tersebut ternyata rusak. Ternyata memang hanya Tuhan yang tahu bobot sebuah doa. Itulah kekuatan sebuah doa. Doa adalah hadiah terbesar dan terindah yang kita terima. Tanpa biaya, tetapi penuh daya guna.

“TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya” (Amsal 15:29).

Untuk Direnungkan: Tidak ada kata ‘kebetulan’ di kamus Tuhan. Mengapa pelangi muncul di saat hujan? Karena di balik setiap awan kelabu sekalipun selalu ada pendar keemasan dari sang mentari. Di balik setiap persoalan hidup kita, ada tangan Tuhan yang siap mengangkat beban kita.

Untuk Dilakukan: “TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya.” (Amsal 15:29).

Be Sociable, Share!