CAMBUKAN: SAYA MEMATAHKAN KAKINYA

Diambil dari buku: 100 Kisah Yang Mengubah Hati Anda – Xavier Quentin Pranata

Cambukan Allah memang menyakitkan, namun menyembuhkan. — Liem Hwa Yong

Seorang wanita sedang menikmati udara musim panas di Swiss. Suatu hari dia berjalan-jalan. Ketika mendaki sebuah lereng gunung, dia tiba di rumah seorang gembala. Dia menuju pintu dan melongok ke dalam. Dia melihat seorang gembala sedang duduk dikelilingi ternaknya. Di dekatnya terbaring seekor domba. Ketika wanita itu memer­hatikan dengan cermat, ia melihat kaki domba itu patah. Dengan segera ia merasa simpati dengan domba yang terluka itu. Dia memandang dengan tatapan bertanya kepada gembala itu.

“Apa yang terjadi dengan domba itu?” tanyanya.

Begitu terkejutnya wanita itu ketika gembala itu menjawab, “Bu, saya telah mematahkan kakinya.”

Wajah wanita itu menyiratkan kengerian dan rasa sakit. Ketika melihat hal itu, gembala itu berkata: “Bu, dari semua domba saya, domba inilah yang paling bandel. Dia tidak pernah mematuhi saya. Dia tidak mau mengikuti arah yang saya tunjukkan. Dia ngelayap ke tempat-tempat curam dan terjal yang membahayakan dirinya. Tidak hanya itu, dia juga membuat domba-domba saya yang lain berserakan. Saya sudah berpengalaman menangani domba nakal semacam ini. Jadi, saya mematahkan kakinya. Hari pertama saya mendekatinya dan memberinya makan, dia mencoba menggigit saya. Saya membiar­kan hal ini selama dua hari. Kemudian, saya kembali lagi. Dan sekarang, dia tidak hanya mau memakan makanan yang saya berikan, tetapi juga menjilati tangan saya dan menunjukkan sikap penyerahan bahkan kasih sayang. Dan sekarang izinkan saya memberi tahu Ibu sesuatu. Jika domba itu sudah sehat, dia akan menjadi domba teladan dalam kumpulan ternak saya. Tidak ada domba lain yang lebih cepat mende­ngar suara saya. Tidak ada domba lain yang meng­ikuti saya begitu dekat selain dia.” (James H. McConkey)

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ‘Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibr. 12:5-6)

 

Be Sociable, Share!