AMPUN: Menerima atau Menolak

Diambil dari buku: 100 Kisah Yang Menggetarkan Jiwa Anda – Xavier Quentin Pranata

Pengampunan bagi orang yang tidak mau bertobat sama dengan menggambar di atas air. ‑ Pepatah Jepang

Di Lousiana, Amerika Serikat, ada sebuah penga­dilan yang menarik perhatian seluruh negara. Peris­tiwa itu terjadi pada tahun 1982. Seorang pria di­jatuhi hukuman mati karena membunuh keluarga­nya. Saat dia dudWhy-Are-You-Sad001uk di kursi penantian, para penga­caranya berusaha keras untuk memintakan pengam­punan baginya. Mereka menggunakan berbagai cara untuk menyelamatkan nyawa klien mereka.

Ketika detik-detik hukuman mati makin mende­kat, semua harapan tampaknya memudar. Kemudian, secara tidak terduga, pada pukul 11.30, setengah jam sebelum dia dibawa ke ruang gas, pemerintah Lousi­ana mengeluarkan surat pengampunan.

Para pengacaranya bersukacita saat mereka me­nyampaikan berita itu kepada klien mereka. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Pria tersebut me­nolak pengampunan itu. Tepat pukul 12.00 tengah malam, mereka mengikatnya di kursi kamar gas dan beberapa saat kemudian pria itu meninggal. Seluruh warga di negara bagian itu terkejut. Orang itu mem­peroleh pengampunan penuh, namun dia memilih untuk mati.

Dengan segera, perdebatan hukum yang seru ter­jadi: Orang itu diampuni karena pemerintah mena­warkan pengampunan, atau dia diampuni karena dia menerima pengampunan itu? Perdebatan itu bahkan terjadi di tingkat pengadilan tertinggi. Akhirnya, oleh pengadilan diputuskan bahwa pengampunan itu ti­dak berlaku kecuali diterima oleh yang bersangkutan.

Demikian juga dengan kita. Allah menawarkan kehidupan kekal kepada kita, suatu pengampunan dari dosa, meskipun kita seringkali menolaknya. Oleh karena itu, kita harus rela menerima penawaran pengampunan dari Allah. (Jim Burns dan Greg McKinnon, “A Pardon: A Lousiana Court Case.”)

“Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan men­dapat pengampunan dosa oleh karenanama-Nya.” (Kis. 10:43)

Be Sociable, Share!