Emak-Emak Melakukan Penggelapan

~ 727 Views

Sejak pilpres, kata ‘emak-emak’ jadi ngetop. Apalagi Sandi ikut mempopulerkannya. Strateginya oke. Emak-emak dimobilisir untuk memenangkannya. Ternyata kubu Jokowi pun bisa menang karena banyak ibu-ibu yang mendukungnya.

Cerita tentang emak-emak memang tidak ada habisnya. Saat berangkat ke kantor bersama Yonatan, saya melihat sebuah sepeda motor bebek yang menyalakan lampu sein ke kanan ternyata berbelok ke kiri. Peristiwa itu saya jumpai sering sekali. Saat saya tunjukkan perilaku itu, Yona spontan berkata, “Ya begitu itu kalau emak-emak menyetir!” Bisa jadi ada ibu-ibu yang marah dengan pernyataan anak saya itu, namun banyak juga yang tersenyum simpul sampai ngakak karena memang perilaku itu banyak kita jumpai di jalan raya. Saat menjadi co-pilot saya, isteri saya pun seringkali mengarahkan tangannya ke kiri tetapi mulutnya berkata, “Belok kanan, Pa!” Ha, ha, ha.

Seorang sahabat mengirimi saya satu pesan menarik untuk emak-emak:

Ibu-ibu harap berhati hati jika ingin mencuci pakaian suami. Pastikan tidak ada uang di kantongnya.

Jika masih ada uang di kantongnya dan ibu2 sudah terlanjur mencucinya maka ibu2 akan terkena “pasal pencucian uang.”

Namun jika Ibu2 mengantonginya, maka ibu2 akan kena “pasal penggelapan.”

Jika langsung dibelikan bakso, maka ibu2 kena “pasal penghilangan barang bukti.”

Kalau tahu setelah mencuci, kemudian dikantongi, maka ibu2 kena “pasal berlapis.”

Kalau terlanjur tercuci dan duitnya hancur, maka ibu2 kena “pasal penghinaan lambang negara.” Wkwkwk.

Di dalam sesi bicara, saya sering mengutarkan pernyataan ini: “Ibu-ibu itu orang yang paling pembersih di dunia. Di mana pun suami simpan uangnya di rumah, pasti disikat sampai bersih. Audience—khususnya ibu-ibu—tertawa ngakak saat mendengar joke ini. Terus terang, saya punya isteri yang pembersih. Dia risih melihat rumah berantakan. Malangnya, dia minoritas karena saya dan kedua anak saya laki-laki semua. Namanya laki-laki—mungkin Anda tidak termasuk—tidak serapi wanita. Memang ada pria yang sangat pembersih sehingga parno. Barang-barang yang diletakkan sembarang, pasti diberesin isteri saya. Begitu rapinya dia menyimpan barang itu sehingga saya kesulitan mencarinya saat saya butuhkan. Wkwkwk.

Dari humor yang sahabat kirimkan tadi, kita belajar tiga hal.

Pertama, di balik suami yang sukses, ada isteri yang saleh. Saya setuju sekali. Isteri yang saleh bisa menghibur suami saat belahan jiwanya sedang kena masalah. Isteri yang saleh bisa memberi masukan jika suaminya sedang bingung memecahkan masalahnya. Isteri yang saleh bisa memuji suaminya saat melakukan hal yang baik. Sebaliknya, isteri yang saleh tidak segan-segan menegur suaminya jika langkahnya mulai serong.

Kedua, isteri yang salah—bukan saleh—justru menjerumuskan suaminya. Isteri yagn senantiasa membandingkan dirinya dan suaminya dengan orang lain, membuat suaminya tidak pernah bisa memuaskannya. Tetangga membeli peralatan eletronik baru, isteri menuntut suaminya hal yang sama. Ketika tetangga membeli mobil baru, dia pun merengek minta dibelikan. Akibatnya, jika penghasilan suaminya tidak mencukupi, hal ini bisa mendorong sang suami melakukukan penggelapan di kantornya.

Ketiga, isteri yang saleh selalu bergantung kepada Tuhan dalam segala hal. Di saat kelimpahan, dia bisa mengucap syukur sambil berbagi kebahagiaan. Catherine merupakan isteri semacam itu. Berkat hatinya yang gampang hancur melihat orang yang kelaparan, Balai Keselamatan berdiri. Di dalam kekurangan, dia bisa mencukupkan diri dengan apa yang ada, bahkan—ajaibnya—bisa mengadakan dari apa yang tampaknya tidak ada. Para isteri jago untuk hal ini entah karena hemat atau menjual barang-barang milik suami he, he, he.

Jadi, daripada dituduh emak-emak yang nggak bisa nyetir dan membuat suami korupsi, alangkah indahnya jika emak-emak—eh ibu-ibu—belajar menjadi wanita bijak dengan mengikuti MotherWise.